Tears in Heaven

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
Tears in Heaven

UNTUK ketiga kalinya bel berbunyi nyaring. Di siang yang garing dan sepi seperti ini, seakan memekakkan telinga. Dengan sangat terpaksa mata Sarah yang sudah tertutup kembali dibuka. Ditepiskannya rasa kantuk yang membebani kelopak matanya.

Sarah bangkit sambil mengomel panjang pendek. Dia ke luar kamar. Lorong tampak lengang. Semua pintu kamar tertutup rapat. Selalu begitu. Kalau lagi tidak diharapkan, bunyi bel pasti dicuekin. Penghuni kos mendadak tuli semua. Tapi kalo malam Minggu, denger suara motor saja, semua berebut menuju pintu. Berharap sang arjuna masing-masing yang datang.

Lagian ni orang iseng banget, gerutu Sarah dalam hati. Panas-panas begini sempat-sempatnya bertamu. Nggak tahu orang lagi butuh istirahat.

Sarah memutar kunci. Pintu dikuakkannya lebar-lebar. Sesosok tubuh jangkung berdiri di ambang pintu.

Sarah mendongak, mencoba mengenali wajah sosok itu dengan pandangan penuh kantuk. Pertama yang ditangkapnya adalah tubuh yang tinggi tegap, atletis. Kulit coklat muda dan bersih. Rahang kokoh dengan dagu belah. Bibirnya merah muda tipis mengukir senyum manis. Hidungnya tinggi, pangkalnya agak berkerut. Matanya coklat agak kehijauan dengan sorot tajam tapi juga lembut, menyejukkan. Alisnya hitam tebal, nyaris bertautan. Rambutnya kecoklatan, berombak jatuh ke bahu?

?Hallo, Sarah! Kau lupa padaku??

Astaga! Sarah terkesiap. Suara bariton agak serak itu? Aksennya yang khas itu?

Buru-buru Sarah mempertajam pandangannya. Kantuknya hilang seketika.

?Rudolf?? desisnya tak percaya.

Senyum itu pecah menjadi tawa. Lepas berderai. Benar, itulah ciri khas tawa Rudolf! Rudolf Kretchmer!

?Kau?? Sarah langsung menyerbu cowok itu dengan gemas. Tinju kecilnya terayun.

Tawa Rudolf makin lebar. Dengan tenang dia menangkap tangan Sarah, lalu menariknya. Tubuh mungil Sarah jatuh dalam rangkulannya, tenggelam di balik lengan kukuh itu.

Sarah langsung berontak. ?Dolf, apa-apaan kamu?? serunya dengan bibir maju lima senti dan pipi bersemu.

Rudolf mengacak-acak rambutnya. ?I miss you, Sarah!?

?Dari dulu gombalmu belum hilang-hilang juga.?

?I swear!?

?Siapa yang percaya sumpahmu? Buktinya sampe berbulan-bulan, nyaris setahun, kamu lenyap bagai ditelan bumi. Padahal janjinya mo rajin nulis surat. Sibuk sama cewek-cewekmu, ya??

Rudolf terdiam. Dia menarik napas dalam-dalam. Lalu tersenyum kecut. ?Lalu sekarang untuk siapa aku datang? Baru landing, langsung menemuimu di sini.?

Sarah membelalak. Dia memandang Rudolf dari atas ke bawah. Matanya tertumbuk pada tas travel berukuran sedang yang teronggok di sisi kakinya. Lalu kembali pada tampang Rudolf yang kelihatan sedikit kusut.

?Kamu datang langsung ke sini??

Rudolf? menggeleng.

?Belum ke losmen? Belum istirahat??

Kembali menggeleng.

?Edan! Apa perlu kuantar??

Rudolf tertawa. ?Tidak, terimakasih. Kulihat kau pun tampak kelelahan. Istirahatlah! Aku bisa ke losmen sendiri. Aku masih hapal tempatnya. Nanti sore aku ke sini, kau harus sudah siap menemaniku jalan-jalan keliling kota, oke??

Tanpa menunggu persetujuan Sarah, Rudolf berbalik sambil menenteng tasnya. Kemudian mencegat becak.

Sarah terpaku sampai becak hilang di tikungan. Dia baru sadar ketika teman-teman kosnya muncul dan bertanya, ?Andy Garcia, Sa??

?

?

MERAPI berdiri kokoh. Sebagian tubuhnya diselimuti kabut tipis. Puncaknya membentuk maar, membuatnya keliatan garang dan sangar.

Sarah memperbaiki posisinya. Dari tebing ini, wajah Merapi terlihat begitu menakjubkan. Sangat sayang bila dilewatkan begitu saja.

Beberapa detik sebelum Sarah menekan tombol kameranya, tubuhnya didorong dari belakang. Sarah kaget. Keseimbangannya tak terkendali. Untung tangannya masih sempat meraih batang pohon dan memeluknya erat-erat. Kalau tidak, tubuhnya sudah sama nasibnya dengan kameranya yang jatuh terhempas ke dasar jurang. Hancur berkeping.

Sarah membalikkan badan. Matanya menatap sangar pada seseorang cowok yang berdiri dengan wajah pucat pasi. Agaknya dialah penyebab insiden tadi. Terbukti dari rasa bersalah yang tergambar jelas di wajahnya.

?I?m sorry. I didn?t mean to?? ucap cowok itu gugup.

Sarah mendengus. Dia melangkah lebar dengan amarah.

?Wait a minute, please! Nona?? Cowok itu berhasil menangkap lengan Sarah. Ternyata dia jauh lebih sigap dan cekatan. Tapi melihat mimik wajah Sarah, dia kembali tergagap. ?Maafkan saya, Nona! Saya? sungguh tak sengaja. Karena Nona akan saya ganti.?

Cowok itu menyodorkan kameranya. Walaupun mungil, tapi jelas lebih mahal dari kepunyaan Sarah yang cuma sebuah kamera tua. Model terbaru keluaran luar, hasil teknologi modern.

?Nona??

?Kamu kira aku mau menerimanya? Walau punyamu jelas lebih bagus dan lebih mahal, aku tetap tak sudi!? sembur Sarah. ?Kameraku sudah mengabadikan moment-moment indah yang belum tentu ada di kameramu. Belum lagi rasa kagetku yang amat sangat karena kecelakaan itu nyaris pula membahayakan diriku. Itu tidak bisa dibayar dengan uang sebanyak apapun.?

Wajah cowok yang agak kebule-bulean itu makin pias. Rasa berdosa dan sesal tergambar makin jelas.

?Lalu saya mesti bagaimana, Nona? Saya sungguh menyesal dan??

?Lupakan saja!?

Sarah meninggalkan cowok yang masih kebingungan itu. Sebenarnya dia kasihan juga, tapi rasa marah dan kesal mengalahkan rasa ibanya. Karena ingin cepat meninggalkan tempat itu, Sarah memilih memotong jalan dengan memanjat tebing rendah. Sialnya, tanaman tempatnya bergantung masih muda dan tidak kuat menahan tubuhnya.

Sarah terjatuh.

?Anda tidak apa-apa, Nona?? Cowok bule itu berlari mendapatkan Sarah yang terduduk. ?Are you hurt? Oh!?

Cowok itu membantu Sarah berdiri dan memapahnya ke tempat aman, di bawah pohon besar yang terlindung. Tak ada pilihan lain bagi Sarah selain menurut. Sikunya yang terasa perih, dan kakinya yang sakit. Mungkin keseleo. Membuatnya tak bisa menolak pertolongan itu.

Cowok itu membuka tas pinggangnya. Mengeluarkan segumpal kapas, alcohol, dan obat luka. Siku Sarah yang berdarah karena tergores ranting dan tergesek batu tebing dibersihkannya dengan alkohol.

?Sakit?? tanya cowok itu ketika Sarah meringis. ?Tahan sedikit, oke??

Sarah menggigit bibirnya, menahan rasa perih. Apalagi ketika obat luka itu dioleskan.

?Emang sedikit perih. Tapi obat ini akan cepat mengeringkan.? Cowok itu tersenyum. ?Siapa namamu, Nona??

Sarah terpana. Rasa sakitnya tiba-tiba lenyap. Entah karena obat yang bereaksi, atau karena senyum cowok itu. Begitu manis. Ketulusan yang tersirat dalam senyum itulah yang membuatnya manis. Ah, kenapa aku tidak memperhatikannya sedari tadi, sesal hati Sarah.

?Nona??

?Eh, saya? Sarah.? Sarah mengutuki ketololannya. Wajahnya bersemu. ?You??

?Rudolf. Rudolf Kretchmer.?

?Where are you came from??

?Coba kamu tebak!? Rudolf tersenyum lagi.

Sarah mengamati wajah Rudolf sebentar, lalu mengangkat bahu. ?Entahlah! Kamu seperti oang barat, tapi aku melihat garis Asia di wajahmu.?

?You?re right. Kata teman-teman, aku produk campuran. Aku mendapat darah India, Australia, dan Spanyol dari Ibuku. Sedang Bapakku menurunkan darah Jerman, Cina, dan Suriah padaku. Tapi aku tinggal dan berkewarganegaraan Jerman.?

?Kayak gado-gado saja.? Sarah tertawa.

Rudolf tersenyum. ?Ternyata kamu bisa juga tertawa, Nona Sarah. Kukira kamu gadis galak.?

?Maafkan sikapku tadi!? ucap Sarah menahan malu.

?Never mind??

Sebuah tepukan di bahu menggulung layer kenangan di benak Sarah. Di sebelahnya Rudolf menatapnya serius.

?Apa yang kau pikirkan??

?Ah, tidak!? Sarah menggeleng. ?Menatap Merapi dari tempat ini membuatku ingat saat pertama kali kita bertemu.?

Rudolf tertawa. ?Kalau begitu sama. Tempat ini tidak banyak berubah. Aku ingat benar, kamu kelihatan sangat marah waktu itu. Aku jadi gugup dan bingung. Dan tebing itulah yang kau daki untuk mencapai jalan setapak di atas, tapi kau jatuh.?

Sarah tersipu, ingat kekonyolannya saat itu.

?Jangan ketawa! Kamu membuatku malu!?

Rudolf tidak menghentikan tawanya.

Sarah cemberut. ?Kalau begitu, tebing itu kudaki lagi!?

?Sarah, jangan!? Suara Rudolf tersekat. Sia-sia saja. Sarah sudah berlari dan mencoba mendaki lagi.

Malang, kali ini pijakan kakinya yang tidak kuat. Tanahnya gembur karena hujan yang kerap turun. Jadi mudah longsor. Untuk kedua kalinya tubuh Sarah melorot jatuh.

Rudolf berlari menghampiri Sarah yang meringis menahan pedih di sikunya yang luka.

Rudolf menggelengkan kepala. ?Ternyata kamu masih juga keras kepala, Sa. Tapi anehnya, justru itu yang kusuka.?

Rudolf memapah Sarah ke bawah sebuah pohon dan mengobati luka di sikunya. Sarah diam. Rasa sakit tak lagi dirasakannya. Perasaan galau karena kalimat yang diucapkan Rudolf mampu mengalahkannya. Sampai mereka turun ke Kaliurang dan pulang.

?

?

SANG surya mulai jatuh, mendekati kaki langit. Sinarnya tak lagi terik dan menyilaukan, tapi lembut dan hangat. Perca jingganya menyebarnya ke mana-mana. Membuat kilau buih laut lebih cemerlang.

Pengujung Pantai Parangtritis malah bertambah. Rupanya semua sengaja menunggu saat senja tiba. Sama-sama ingin menikmati sunset. Mereka menyebar di bibir pantai dengan kegiatan masing-masing. Turis-turis bule lebih senang bercanda dengan ombak, lalu berjemur di bawah hangat mentari senja. Sedang turis-turis domestik lebih suka duduk-duduk di warung sambil menghirup es degan langsung dari batoknya.

?Apa yang sedang kau pikirkan??

Sarah menghentikan kegiatannya mengisap air kelapa yang seakan tidak pernah habis dari tadi.

?Kuperhatikan selama ini kamu sering melamun, Sarah. Kenapa? Kau tak suka menemaniku?? tanya Rudolf lagi.

Sarah masih belum bergeming. Matanya terus menatap kosong ke depan. Tidak kusuka? Oh, sungguh munafik bila kujawab iya! Bahkan kalau mau jujur, aku malah sangat bahagia. Bukankah saat seperti ini yang selalu kuinginkan? Bu?

?Atau kamu takut cowokmu cemburu dan marah??

Cowok? Sarah tersenyum kecut. Siapa cowokku? Ady yang pergi ke Irian karena penolakkanku? Ataukah Guntur yang bersikap memusuhi karena kebekuanku? Sarah menggeleng pelan. Malam Minggunya selalu dihabiskan untuk melamun di depan mesin tik.

Terdengar suara heraan napas Rudolf. Lama dia tak lagi mengusik.

Hubungan keduanya berlanjut di sini, ya...!

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7805/kinanti

  • view 112