Yang Luruh Satu-satu

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
Yang Luruh Satu-satu

SUNYI mencekam keduanya. Sudah hampir limabelas menit, tak seorang pun buka suara. Seakan enggan untuk menggerakkan bibir. Desau angin sore semakin mencekam suasana. Hening, bagai berada di kompleks pemakaman.

Miko melirik gadis yang duduk di sampingnya. Dengan sudut matanya, ditelitinya wajah itu secara seksama. Dicobanya mengartikan garis-garis yang ada di sana.

Merasa diperhatikan, Rinda mengangkat wajahnya. Mata mereka beradu, lama. Tapi, ah! Miko masih belum menemukan makna yang pasti dalam tatapan bola bening itu. Sorot mata yang lembut menutupi emosi yang tersirat di dalamnya.

Miko mendesah. Di mana kau sembunyikan gejolak perasaanmu, Manis? Ataukah kau memang tidak mempunyainya?

Gantian Miko yang menunduk. Digigitnya bibir, menutupi resah. Diremasnya jemari. Napas yang tertahan dihembuskannya kuat-kuat. Beban terasa berkurang, walau sedikit.

?Rin,? paggil Miko akhirnya.

?Hem.?

Hanya itu saja suara yang keluar dari bibir tipisnya. Tak ada reaksi lain, apalagi yang berlebihan. Kembali Miko harus kecewa.

?Kau sudah mengerti apa yang kukatakan??
Sedetik setelah pertanyaan itu selesai, Miko menyesali diri. Pertanyaan bodoh, makinya sendiri dalam hati.

?Yah.?

?Kau tidak kecewa??

Rinda tersenyum pahit. Kau tidak kecewa? Astaga, pertanyaan apa pula itu? Cewek mana yang tidak kecewa, cowok tersayang ternyata tidak bisa hadir pada hari bersejarahnya? Cewek mana yang tidak kecewa merayakan pesta ulangtahunnya tanpa didampingi cowoknya? Cewek mana yang tidak kecewa membayangkan betapa bingungnya dia nanti memilih, kepada siapa potongan kue yang pertama harus diberikan? Cewek mana?

Rinda menelan ludah. Getir. Kalau saja Miko tahu, betapa payahnya dia menahan perasaan yang berontak. Betapa sulitnya mengatasi protes-protes beruntun. Betapa lelahnya menabur hiburan untuk menyelimuti kekecewaan yang menebal. Kalau saja kau tahu, Miko, tentu pertanyaan konyol seperti itu tidak akan kau lontarkan.

Tadinya Rinda berharap, lusa adalah ulangtahun yang paling istimewa. Dia didampingi cowok yang paling dikasihinya. Dia sudah membayangkan betapa bahagianya nanti.

Mendapat hadiah istimewa dari Miko, lalu ditemani meniup lilin, dan memberikan potongan kue pertama padanya. Lalu Miko akan diperkenalkan kepada seluruh keluarga.

Ah, betapa bahagiakan!

Tapi kabar yang dibawa Miko beberapa puluh menit lalu, membuyarkan semua angan-angannya. Hantaman kekecewaan mengguncang dadanya, bergetar sampai ke seluruh persendian. Segala daya dicobanya untuk bertahan. Perasaannya yang mendidih disiramnya dengan air sejuk. Dan dia berhasil. Sampai keadaannya kembali normal.

Pengertian yang amat dalamlah yang meredakan segalanya. Kasih sayangnya pada cowok itu membentengi emosinya. Hingga dia tampak tegar, tak goyah walau sedikitpun.
Rinda mengerti, Miko harus pergi. Sekolah memerlukannya memperkuat tim basket guna menghadapi tim sekolah yang akan dikunjungi dalam pertandingan persahabatan.

Sebenarnya sudah lama Rinda tahu, sekolahnya akan mengadakan kunjungan ke sekolah lain di luar kota. Dia tahu, dalam kunjungan itu akan dilaksanakan pertandingan-pertandingan olahraga. Dan itu berarti Miko harus ikut. Karena dia adalah tulang punggung tim basket sekolah.

Tapi Rinda sama sekali tidak menduga kunjungan itu akan dilaksanakan besok. Padahal rencana semula bulan depan. Entah mengapa jadi dipercepat. Namun yang membuatnya benar-benar kecewa karena waktu keberangkatan bertepatan dengan rencana perayaan hari ulangtahunnya.

Padahal tadinya Rinda berencana ikut menemani Miko. Sekedar menjadi suporter. Tapi kini, jangankan untuk ikut, kunjungan itu malah mengacak-acak seluruh rencana yang disusunnya. Kunjungan itu merampas Miko dari sisinya, lusa.

?Rin.? Sentuhan di jemari membuatnya agak tersentak.

?Kau melamun??

Lagi-lagi Rinda hanya tersenyum pahit.

?Kau dengar pertanyaanku tadi , kan??

Rinda mengangguk. ?Dan kurasa kau sudah tahu jawabnya.?

?Kau jangan membuat aku bingung, Rin!?

Rinda tidak menjawab. Sorot matanya yang lembut tapi menusuk membuat Miko gelagapan. Namun dia sempat menangkap getar-getar aneh di mata itu.

Yah, beberapa rontaan kecil tersimpan di balik ketenangan tatapannya. Makin lama Miko menatapnya, makin besar dan banyak rontaan-rontaan itu, sampai akhirnya menjadi riak-riak bening. Di sana tergambar jelas butir-butir kekecewaan yang dilapisi oleh lembaran kasih yang tulus.

?Maafkan aku, Rin! Maafkan!? desahnya penuh sesal.

?Aku??

?Aku tahu,? potong Rinda cepat. ?Dan aku mengerti. Pergilah!?

?Rin?? Mata Miko terbelalak.

?Aku tak mungkin membiarkan tim basket kita menelan kekalahan. Kau sangat mereka butuhkan. Walau kuakui, aku juga membutuhkanmu. Tapi ini demi kepentingan kita bersama, demi sekolah kita, maka pergilah!?

Ingin rasanya Miko langsung memeluk gadisnya yang berhati malaikat ini. Betapa bangganya dia mempunyai gadis searif ini.

Diraihnya jemari Rinda.

??Aku berjanji Rin, secepatnya aku akan kembali. Setelah pertandingan selesai, aku akan langsung pulang.?

?Jangan terlalu dipaksakan!?

?Tidak, Rin! Ini adalah kesempatan terakhir bagiku untuk membahagiakanmu sekaligus mengharumkan nama sekolah kita. Dan aku tidak mau kehilangan keduanya.?

Walau dengan agak heran mendengar kalimat yang meluncur penuh semangat itu, Rinda mengangguk juga.

?Itu terserah padamu. Pokoknya, aku titip nama sekolah kita.?

?Beres.?

***

ORANG yang seharusnya menikmati kebahagiaan ini justru lebih banyak diam menjadi penonton. Kadang-kadang saja dia ikut tersenyum melihat tingkah polah tamu yang berbagai macam. Namun dia lebih sering kedapatan melamun, menatap kue ulangtahunnya dengan pandangan kosong.

Sebenarnya Rinda sudah berusaha membaur kebahagiaan dengan tamu-tamunya. Menghambur tawa dan canda. Bukankah hari ini perayaan ulangtahunnya? Mestinya dia yang lebih bergembira. Tapi walau sudah diusahakannya, sebentar saja ia dapat menarik senyum, setelah itu kembali pada rasa hampa.

Akhirnya Rinda bosan sendiri. Dibiarkannya para tamu menikmati kegembiraan. Sedangkan dia diam-diam menyingkir ke pojok ruangan dan melamun. Menghayati arti kesunyian hatinya.

Kalau ada Miko, tentu tidak begini keadaannya. Dia pandai membuat suasana menjadi ceria. Dia yang paling ahli memancing tawa Rinda. Tiba-tiba saja Rinda menjadi rindu pada cowok itu. Sedang apa dia, ya?

Tanpa sadar Rinda melirik sepotong kue yang terletak di samping kue tart besar. Itu adalah kue potongan pertama yang disimpannya untuk Miko.

Sementara di luar angin berhembus cukup kencang. Terbukti bayangan pepohonan yang terlihat dari jendela, meliuk-liuk bagai menari. Mungkin hujan akan turun. Malam ini jauh dari cerah, sama seperti suasana hati Rinda. Tapi keadaan cuaca di luar tidak mempengaruhi kemeriahan pesta.

?Rinda!? Sayup-sayup suara panggilan itu singgah di telinga Rinda.

Rinda tidak bereaksi. Hanya telinganya yang sedikit kaget karena menangkap getaran suara itu. Getaran suara itu mamang terlalu lemah untuk dipedulikan. Lebih sering dianggap hanya sebagai gema hati sendiri.

?Rinda!? Kali ini panggilan itu terdengar jelas.
Kini Rinda mulai beraksi. Mula-mula hanya mata Rinda yang sedikit mendelik. Lalu lehernya mengikut arah dari mana suara itu tadi terdengar. Rinda terkesiap ketika seraut wajah di balik kaca jendela.

Cepat Rinda bangkit dari tempat duduknya. Bergegas ke luar menuju taman. Wajahnya tiba-tiba menjadi cerah.

?Miko!? serunya tertahan ketika matanya tertumbuk pada sosok tubuh kumal di hadapannya.

?Kau benar-benar nekat rupanya.?

Miko tertawa renyah. Dikeluarkannya sebuah kotak mungil dari balik punggungnya.

?Aku tidak mau menunggu besok, kan sudah bukan tanggal 14. Hampir saja aku tak bisa menemuimu lagi. Untung aku masih diberi izin.?

Rinda tersenyum bahagia. Akhirnya Miko datang juga.

?Syukurlah kalau begitu. Ayo masuk!? Akan kuperkenalkan kau kepada tamu-tamuku,? kata Rinda sambil menarik tangan Miko.

Miko bergeming dari tempatnya. Rinda jadi heran karenanya.

?Jangan, Rin! Malu kan, aku kucel begini??

?Ah, peduli apa? Itu kan cuma luarnya saja. Aku tidak malu, kok.?

?Iya, kau tidak, tapi aku yang malu. Masak aku yang kucel begini mendampingimu yang terlihat seperti bidadari. Kau cantik sekali, Rin.?

Warna merah memenuhi wajah Rinda. Tatapan lembut Miko membuatnya agak jengah.

?Tunggu sebentar, ya! Aku ambil kue dulu. Aku sengaja menyimpannya untukmu.? Rinda menghilang ke dalam tanpa bisa dicegah. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan serba salahnya karena pujian Miko.

Sebentar kemudian gadis itu sudah kembali berada di taman. Disodorkannya potongan kue itu pada Miko. Anehnya, Miko malah menggeleng.

?Kenapa?? tanya Rinda kecewa.

Miko diam tak menjawab.

?Baiklah, kalau kau tidak mau memakan kue ini, aku juga tidak mau menerima hadiahmu,? ucapnya sedikit ketus.
Miko tertawa.

?Baiklah, kau main ancam segala, sih! Hadiah itu aku beli langsung dari Martapura dan kubawa khusus buatmu. Masak tidak kamu terima? Sia-sia dong perjalananku??

Miko mengambil potongan kue itu dan memakannya sedikit. Sedang Rinda mengambil bingkisan yang disodorkan Miko.

?Rin.?

?Ya.?

?Boleh nggak aku mencium pipimu sebagai ucapan selamat??

Rinda tersentak. Dipandanginya Miko dengan heran. Permintaan itu terasa ganjil di telinganya. Selama ini, tak pernah sekalipun Miko mengajukan permintaan yang aneh-aneh. Tapi demi melihat mata yang penuh harap itu, Rinda mengangguk juga. Sekali-sekali toh tidak ada salahnya, pikirnya kemudian.

Dengan dada berdebar aneh Rinda membiarkan bibir Miko mulai mendekati pipinya. Makin dekat, kian kencang juga debar itu. Dan napasnya hampir berhenti ketika bibir itu tinggal beberapa senti lagi akan menyentuh pipinya. Tapi?

?

Hehehe... Penasaran...? Lanjutkan saja ke sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7674/satofumi-san

  • view 111