Pilihan Karin

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
Pilihan Karin

SEMUA yang sedang pemanasan di tengah lapangan basket menoleh, ketika sebuah Honda civic hijau lumut mulus memasuki parkiran di samping lapangan. Karin yang berada di dalam merasakan pandangan mereka menghujam. Bagai ribuan jarum merajam seluruh tubuhnya.

Terlebih ketika Hans membukakan pintu mobil, ala pangeran mempersilakan putri turun dari kereta kencana. Dia juga membawakan tas jinjingnya yang cuma berisi handuk kecil dan Aqua.

?Hans, aku ke mereka dulu, ya!? bisik Karin setengah jengah.

?Ya. Aku ke sana.? Hans menunjuk pojok lapangan.

Karin mengangguk. Dia terus, sementara Hans berbelok.

Teman-temannya pura-pura sibuk lagi, ketika tahu Karin menuju ke arah mereka. Enny asyik mendrible bola. Ratna menghalang-halangi, berusaha merebut bola. Susi menggoyang-goyangkan tubuh sambil menghitung perlahan. Mimi mengikuti gerakannya. Mereka tidak mempedulikan kedatangannya.

Karin mendesah. Ada yang mengganjal di dadanya. Sakit! Membuat sesak napasnya. Dia bukannya tidak tahu apa yang membuat teman-temannya bersikap demikian. Kedatangannya bersama Hans.

?Hai, Karin!? Amara muncul dari balik ring basket. ?Kok, cepat banget datangnya? Ketemu Dicky di jalan, ya??

?Dicky?? Kening Karin berkerut.

?Iya. Wah, kasihan, lho! Tampaknya dia lagi suntuk berat. Kamu apain sih, Rin??

Karin menggeleng galau. Dia masih belum mengerti.

?Tadi ketika baru datang, kulihat Dicky sendirian di lapangan ini. Ngubek-ngubek bola basket. Dia nggak pulang ke rumah sejak bubaran sekolah, ya? Seragamnya sampai basah kuyup mandi keringat. Tasnya juga dibiarkan saja tergeletak di tengah lapangan.?

Amara bercerita tanpa menghiraukan wajah Karin yang berubah nada.

?Ketika aku datang, dia kaget. Tanya jam berapa. Kujawab, jam tiga lebih. Dia langsung cabut. Katanya, mau jemput kamu.?

?Aku?? Karin menunjukkan dadanya sendiri. ?Dicky menjemputku??

?Lha, iya!? Ganti Amara yang heran. ?Emang nggak ketemu? Kamu ke sini sama siapa??

?Itu, tuh!?

Bukan Karin yang menjawab, tapi Ratna. Matanya melirik ke sudut lapangan di mana Hans sedang duduk menunggu. Amara ikut melirik.

?Oh!?

Hanya itu yang keluar dari bibir Amara. Tatapannya berubah, senada dengan suaranya. Lalu dia pun tidak mengacuhkan Karin lagi. Bergabung dengan temannya yang lain.

Sekali lagi Karin mendesah. Dadanya tambah sesak.

?Aku ganti dulu, ya!? pamit Karin kemudian.

?Ya!?

Alangkah dipaksakannya jawaban itu. Karin bergegas pergi dari hadapan mereka, menghampiri Hans yang duduk di pojokan. Tapi ia masih merasakan tatapan dingin teman-temannya terus mengikuti langkahnya.

Karin tidak bisa menyalahkan mereka. Karin tahu, mereka cuma memprotesnya. Mereka lakukan itu karena membela Dicky. Mereka mengira Karin telah berpaling dari Dicky.

Dicky? Jadi cowok itu masih mau menjemputnya? Tiba-tiba saja Karin menyesal, mengapa memenuhi ajakan Hans yang lebih dulu menjemputnya. Kalau saja tidak, tentu saat ini dia berangkat dengan Dicky. Lalu perlahan-lahan, berusaha menjernihkan persoalan.

Karin yakin pasti bisa. Dicky cowok yang baik. Dia lembut dan penuh pengertian. Tadi siang dia hanya emosi. Dan biasanya cuma sebentar. Emosi itu akan dia tumpahkan di lapangan basket. Setelah itu akan reda dengan sendirinya. Buktinya, Dicky sudah mau kembali menjemputnya.

Tapi aku bodoh, maki Karin dalam hati. Malah pergi dengan Hans. Bagaimana nggak tambah berantakan?

Semua ini gara-gara Hans! Karin melirik cowok itu geram. Tapi Hans yang merasa dilirik malah memamerkan senyum. Mau nggak mau, Karin balas tersenyum. Walau terpaksa.

Karin membuka celana jeans-nya di kamar kecil. Kemudian keluar lagi dengan mengenakan celana pendek sport.

?Latihan yang bagus!? kata Hans sebelum Karin kembali melangkah ke tengah lapangan.

Lagi Karin tersenyum. Walau dalam hati gondok setengah mati. Dia kaget, ketika bergabung dengan teman-temannya. Di sana ada Dicky yang sudah mengenakan pakaian olahraganya.

Dicky menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Karin menggigit bibir.

?Tadi aku jemput kamu,? Dicky berbisik teramat pelan.

Karin ingin menangis mendengarnya. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Mas Yo, pelatih mereka tiba. Mereka mulai pemanasan dan latihan.

Seringkali Karin ditegur. Dia sering melakukan kesalahan. Semangat latihannya amblas entah ke mana. Konsentrasinya buyar tak tentu rimba.

Karin tahu. Dicky memperhatikan keganjilannya. Tapi cowok itu diam saja. Tidak seperti biasanya, dia lebih sering melatih Susi atau Mimi, atau yang lainnya. Asisten Mas Yo itu selalu menghindarinya,

Karin mendesah.

***

PERSOALAN berawal dari kepindahan Hans ke sekolah Karin. Hans anak seorang pengusaha ibukota. Kabarnya, ortunya sudah nggak sanggup lagi mengatasi kenakalannya, sehingga mengirimnya ke kota ini, untuk diurus neneknya. Harapan mereka, Hans bisa jadi lebih baik, karena berpisah dari teman-temannya yang rata-rata anak orang kaya yang lebih suka hura-hura.

Sejak mengenal Karin, Hans sudah menunjukkan tanda-tanda dia menyukai cewek itu. Memang siapa yang tidak suka sekaligus kagum pada Karin? Udah kece, banyak punya kelebihan, ramah lagi. Siapa sangka, cewek yang bisa garang di lapangan itu ternyata berperangai demikian lembutnya?

Nggak heran, bila Karin banyak yang suka. Baik cewek maupun cowok. Temannya ada di mana-mana. Tidak sedikit yang coba mendekati. Tapi satu per satu mereka mundur, karena tahu Karin sudah punya Dicky.

Mereka pasangan serasi. Dicky, walau nggak cakep, tapi simpatik. Sama-sama jago basket. Bahkan Dicky sudah sering menggondol gelar pemain terbaik dalam berbagai pertandingan. Cinta mereka pun bersemi di lapangan. Karena Dicky menjadi asisten pelatih regu basket putri sekolah, membantu Mas Yo.

Namun Hans lain. Tahu Karin sudah punya Dicky, dia nekat aja. Terus mencoba menempel Karin. Dengan berbagai daya dan upaya. Dia nggak peduli dengan semua orang, termasuk Dicky sekalipun. Terkadang sikapnya keterlaluan. Seakan ingin menunjukkan pada semua orang, dialah yang memiliki Karin, bukan orang lain.

  • view 137