Ruko Haji Rivai

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
Ruko Haji Rivai

SEBENARNYA bentuk ruko itu tidak jauh berbeda dengan bangunan lain sejenis. Hanya ukurannya lebih luas. Bertingkat tiga. Lantai pertama digunakan untuk toko buku serta agen penjualan koran dan majalah. Lantai kedua untuk perpustakaan dan taman bacaan serta kamar beberapa karyawan. Lantai paling atas dipakai untuk tempat tinggal Haji Rivai sekeluarga berikut dua pembantu.

Aku sudah hapal denah tata letak setiap lantai karena sudah beberapa kali ke sana. Kadang berpura-pura jadi seorang kutu buku yang berjam-jam menghabiskan waktu membaca koleksi buku di perpustakaan lantai dua. Kadang berpura-pura jadi pelanggan sebuah tabloid atau penggemar buku agar bisa melihat-lihat lantai satu.

Selain itu aku juga mendapat banyak tambahan informasi dari Ivan. Terutama tentang kondisi dan tata letak lantai tiga yang jadi tempat tinggal Haji Rivai sekeluarga. Pasalnya, remaja berumur limabelas tahun itu sudah beberapa bulan bekerja di sana. Memang aku yang menyuruh demi mendapatkan informasi berharga tentang siatuasi dan kondisi ruko itu.

Kata Ivan, dia beberapa kali disuruh naik ke lantai tiga untuk berbagai keperluan. Biasanya untuk mengambil persediaan buku yang disimpan di sana apabila gudang di lantai dasar tidak muat. Bahkan pernah juga Ivan diminta bantu-bantu saat Haji Rivai mengadakan hajatan sunatan anak pertamanya. Saat itulah kesempatan paling berharga Ivan untuk menyelidiki berbagai hal. Terutama tentang lokasi kamar para penghuni rumah, pembantu, dan brangkas tempat menyimpan barang-barang berharga.

Semua informasi berharga itu kucatat. Ternyata, di setiap lantai ada brangkas penyimpanan uang dan barang berharga. Rupanya Haji Rivai menerapkan prinsif ?jangan menyimpan telur di satu keranjang?. Pintar juga. Sayangnya, dia tidak tahu, kami-aku dan Ivan mengincar semua ?keranjang telur? miliknya.

Eh, tapi tidak juga. Bukan aku dan Ivan - hanya aku. Semula memang kami berdua merancang rencana ini. Tapi belakangan, kulihat Ivan mulai ragu.

?Haji Rivai baik, Bang!? jawabnya ketika kutanya.

Busyet, dah! Ternyata Ivan mulai digoda ?hati nurani?. Gawat! Bila penjahat --- aku bilang sih maling profesional seperti kami sudah merasa ?tidak tegaan?, alamat rencana bakal gagal total.

?Setiap bulan beliau menyisihkan dana untuk disumbangkan ke masjid dan panti asuhan. Selain itu, beliau juga mengajarkan kami --- para karyawannya jangan menolak pengemis yang datang. Mereka tetap diberi --- meski tahu mereka menipu --- walau jumlahnya tidak banyak. Belum lagi zakat yang setiap tahun rutin dikeluarkan,? tutur Ivan. ?Pokoknya, beliau itu dermawan. Kepada karyawan, selalu membantu tanpa diminta. Beliau juga mengajarkan??

?Ah?. Stop! Hentikan!? bentakku kesal.

Rupanya, Haji Rivai sudah berhasil merasukkan ?setan kebaikan? pada Ivan. Padahal, belum genap tiga bulan dia bekerja di sana. Sekarang dia mulai berani membantahku, orang yang selama ini memelihara dan mendidiknya.

Ivan ikut denganku sejak usia tujuh tahun. Kuminta dia dari Bang Agus --- bos pengemis di Jakarta. Berhubung Bang Agus pernah berhutang budi padaku, karena menyumbang darah saat dia terkapar di rumah sakit akibat dikeroyok preman, maka permintaanku tak mungkin ditolak. Bang Agus kemudian memberikan salah seorang bocah pengemis anak buahnya. Dialah Ivan.

Katanya, Ivan sebatangkara. Tidak jelas siapa orangtuanya. Kemungkinan besar ibunya pelacur yang biasa mangkal di stasiun kereta. Pasalnya, Nek Ijah --- wanita tua yang merawat Ivan sejak bayi, menemukannya di dekat rombong yang berlokasi di stasiun di suatu pagi buta. Ketika nenek tua itu meninggal, Bang Agus yang melihat setiap bocah sebagai aset untuk mengeruk rezeki dari rasa belas kasihan orang-orang kaya, akhirnya mengambil dia untuk dijadikan sebagai bagian dari sindikat pengemis ciliknya.

Aku meminta Ivan karena merasa tak bisa bekerja sendiri. Aku memerlukan bantuan untuk melancarkan pekerjaanku. Untuk memperoleh peluang yang lebih besar, Ivan kuajak hijrah ke Kalimantan. Maklum, Jakarta dan kota besar lain sudah sesak dengan para penjahat bernyali nekat sehingga tak segan menggunakan kekerasan saat beraksi. Sementara aku lebih mengandalkan keterampilan tangan, kecerdasan strategi, dan ketahanan mental.

Di Kalimantan kami berpindah-pindah, dari kota satu ke kota lain. Selama itu Ivan kudidik sehingga sedikit demi sedikit mulai menguasai ilmu yang kumiliki. Untuk kunci-kunci pengaman sederhana, Ivan sama sekali tak kesulitan membukanya. Dia termasuk murid yang cerdas, sehingga cepat mengerti dan menguasai pelajaran yang diberikan. Apalagi dia juga rajin mempraktekkan. Hanya saja, mentalnya belum tahan banting. Contohnya sekarang, melihat kebaikan calon mangsa, hatinya jadi lemah.

?Lama-lama kerja sama Haji Rivai, kamu rusak,? gerutuku. ?Baiknya, rencana kita percepat. Setelah harta Haji Rivai kita sikat, kita pindah ke kota lain.?

?Tapi, Bang ?!

?Tidak ada tapi-tapian. Pokoknya, lusa malam kita beraksi. Awas, kalau kamu berulah macam-macam!? putusku kemudian.

Ivan terdiam. Dasar anak masih ingusan! Plin-plan! Padahal mulanya, dia yang mengusulkan Haji Rivai sebagai mangsa kami berikutnya. Soalnya, memang dia yang bertugas menyelidiki calon mangsa empuk kami. Katanya, pengusaha buku itu diam-diam banyak punya harta simpanan. Untuk memastikan itu, dia berniat ikut kerja dengan Haji Rivai yang kebetulan memerlukan tenaga tambahan.

Aku setuju saja. Kalau memang benar perkiraan Ivan, berarti bila berhasil menyikat harta Haji Rivai, kami bisa istirahat beberapa lama sambil menikmati penghasilan yang ada. Lumayanlah, hitung-hitung refreshing! Eh, sekarang malah begini jadinya. Tak ada cara lain. Sebelum Ivan semakin jauh terpengaruh, lebih baik rencana semula dipercepat.

***

SEJAUH ini rencanaku berjalan mulus. Dengan kewaspadaan tinggi, aku berhasil menembus pagar dan menaklukan pintu depan sehingga bisa masuk ke dalam ruko dengan aman.

Sekarang aku bisa lebih lega. Karena sebelum masuk, aku sudah menyebar ilmu sirep yang kupelajari dari Ki Mangunprojo, dukun --- istilah kerennya sekarang, paranormal lulusan Gunung Kawi. Aku yakin seyakin-yakinnya, semua penghuni ruko sedang terlelap --- termasuk Ivan. Aku tidak mau ada resiko sedikitpun. Jadi, aku aman. Suara berisik sedikit takkan bisa membangunkan mereka.

Aku melewati beberapa rak buku dan tumpukan majalah serta koran. Aku tahu, brangkas terletak di balik kalender, dekat meja kasir. Tapi aku juga tahu, isinya tidak banyak. Aku berniat ?membereskan? brangkas di lantai paling atas dulu. Letaknya di ruang kerja pribadi Haji Rivai. Kata Ivan, isinya paling banyak dibanding brangkas lainnya. Selain uang tunai, ada juga perhiasan serta surat-surat berharga.

Aku menuju tangga. Membuka pintu yang menghubungkannya dengan lantai dua. Tanpa kesulitan kunci pengaman model konvensional itu bisa kuatasi. Hanya sepersekian menit, aku sudah berada perpustakaan dan taman bacaan yang lumayan lengkap. Ada counter anak-anak yang berisi bacaan anak-anak lengkap dengan meja dan kursi kecil untuk mereka membaca. Ada juga counter bacaan remaja.

Ada rak-rak berisi buku sesuai dengan bidangnya; bahasa dan sastra, iptek dan komputer, politik dan hukum, sosial budaya, pokoknya lengkap. Yang paling banyak koleksi buku fiksi. Di bagian timur, tersedia pojok lesehan. Bagian itu lantainya tinggi dengan ditutupi tikar rotan. Ada beberapa meja kecil dilengkapi bantal-bantal? sandaran. Di sebelahnya ada ruang audio visual, tempat memutar VCD, CD, atau LCD yang juga tersedia di sini.

Rasanya, tangga menuju lantai atas ada di belakang rak buku Sains dan Ilmu pasti. Aku menengadah, mencari rak ini di antara rak-rak lainnya. Aku menemukannya. Kulihat ke belakang, kok yang ada bukan tangga menuju lantai atas melainkan tangga turun yang baru saja kulewati. Aku bingung.

Kebingungan itu , mohon maaf, berlanjut ke sini, ya...!

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7359/sayap-sayap-terluka

  • view 68