Tantangan Tantri

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
Tantangan Tantri

ADA kejutan di hari pertama sekolah, usai liburan panjang Ramadhan dan Lebaran. SMU Bunga Nusa heboh. Lagi-lagi Tantri, cewek blasteran Bali-Chile itu membuat hampir seluruh penghuni sekolah terperangah. Dia mengenakan busana muslimah, seragam serba panjang berikut jilbab yang berkibaran.

Jangankan orang lain, aku sebagai sahabatnya? juga kaget. Memang, lebaran lalu kami bertemu, Tantri sudah tampil dengan busana muslimah. Tapi aku tak pernah menyangka dia akan memakai jilbab seterusnya. Wajar kan di Hari Idul Fitri orang pakai jilbab. Tantri sendiri tidak pernah mengatakan rencananya.

Tapi bukan sekali ini saja Tantri membuat kejutan. Sejak mengenalnya sekitar tiga tahun lalu --- awal masuk kelas satu, Tantri memang penuh kejutan. Bahkan menurutku, apa yang dilakukannya bukan sekedar kejutan, melainkan sebuah gebrakan besar. Bagaimana tidak, di usianya yang masih limabelas, Tantri memutuskan pindah agama, dari semula memeluk Hindu menjadi seorang mualaf.

?Tantri?? Aku membelalak kaget sampai nyaris pingsan ketika Bulan Ramadhan dua tahun lalu Tantri tiba-tiba muncul di hadapanku dengan berkerudung.

?Temani aku ke Mesjid Al-Kautsar, Rin!? pintanya tanpa menghiraukan keherananku.

?Mesjid Al-Kautsar?? Aku semakin bingung.

?Ya. Aku sudah janji dengan Ustadz Baihaqi dan jamaah di sana. Malam ini aku akan mengikrarkan shahadat, menyatakan diri sebagai muslimah.?

Rasanya tak ada yang bisa lebih mengagetkanku selain berita ini. Saking kagetnya, aku sampai tak tahu harus berkata apa atau melakukan apa. Aku hanya bisa menurut ketika Tantri menggamit lenganku, mengajakku menyaksikannya bershahadat di depan jamaah Al-Kautsar.

Di hadapan jamaah pula, Tantri kemudian bercerita bagaimana dia bisa tertarik masuk Islam, sementara dia dididik oleh Ibunya yang asli orang Bali menjadi pemeluk Hindu yang taat. Katanya, sejak kecilpun dia sudah sering mempertanyakan ajaran Hindu yang menurutnya janggal dan tidak masuk akal meski sesudahnya yang dia dapat bukan jawaban melainkan marah ibunya.

Ketika SMP, Orangtuanya bercerai. Ayahnya kembali ke negara asalnya. Sementara ibunya memutuskan pindah dari Pulau Dewata yang dianggap meninggalkan banyak kenangan pahit. Karena berpengalaman bekerja di dunia pariwisata, mudah saja ibunya memperoleh pekerjaan di sebuah biro perjalanan di kota ini. Di sinilah, Tantri kemudian berinteraksi dengan penduduk sekitar yang mayoritas beragama Islam.

?Hampir setengah tahun saya mempelajari Islam dari Bunda Nurul --- istri Ustadz Baihaqi, sebelum akhirnya saya yakin untuk mengikrarkan diri sebagai pengikut Rasulullah Muhammad yang hanya mempercayai dan menyembah Tuhan Yang Esa --- Allah subhanahuataala. Dan terus terang, sampai sekarang Ibu saya sama sekali tidak mengetahui hal ini. Entah bagaimana reaksinya bila saya mengatakannya. Namun, saya siap menghadapi segala resiko dan konsekuensi demi mempertahankan keyakinan saya,? tutur Tantri. Lembut tapi tegas.

Semua terharu mendengar penuturannya. Demikian juga aku. Diam-diam aku semakin kagum padanya. Padahal, saat pertama berkenalan dan memutuskan duduk sebangku, aku sudah mengaguminya. Maklum, darah campuran melahirkan kesempurnaan bentuk lahiriahnya. Tubuhnya tinggi langsing. Kulitnya putih bersih. Hidungnya mancung. Rambutnya panjang dan indah. Seandainya hidup di ibukota, mungkin dia sudah ditawari menjadi bintang iklan atau sinetron.

Selama beberapa bulan menjadi teman sebangku, tak banyak yang kuketahui tentang Tantri selain dia anak tunggal dari seorang ibu yang menjadi single parent. Tantri memang bukan tergolong cewek yang mudah mengumbar masalah pribadi kepada sembarang orang.

Berita Tantri menjadi mualaf menyebar cepat. Semua menyambut baik kabar gembira ini. Mereka memuji keberanian Tantri mengambil keputusan. Mereka mengagumi keteguhan. Bahkan semakin banyak saja cowok yang mendekatinya dan mengaku jatuh cinta padanya.

Tapi tidak semua orang bergembira. Salah satunya adalah Ibu Tantri. Saat mengetahui putri semata wayangnya sudah mengambil putusan penting tanpa terlebih dahulu berunding, dia marah besar dan mengusir Tantri dari rumah. Aku ingat benar saat suatu malam Tantri datang ke rumah dengan membawa tas besar.

Orangtuaku dengan senang hati menerima Tantri. Aku memang sudah bercerita banyak kepada mereka tentang teman sebangkuku itu. Mereka mengaku mengagumi ketabahan dan kedewasaan Tantri. Mereka bahkan sering membandingkan Tantri denganku yang mereka bilang manja dan kekanakan.

Hanya sekitar sebulan Tantri menumpang di rumahku. Suatu hari ibunya datang menjemput. Kerinduan seorang ibu mengalahkan amarahnya. Tantri menganggap Allah menjawab doa yang setiap malam dilantunkannya. Maka ibu dan anak kembali bersama meski dengan keyakinan berbeda.

***

KEJUTAN ? eh bukan ? gebrakan selanjutnya dari Tantri terjadi Ramadhan tahun lalu, ketika kami duduk di kelas dua.? Saat sekolah masih libur, tiba-tiba aku menerima telepon darinya.

?Rin, hari ini aku bahagia sekali,? ujarnya dengan suara serak. Telingaku menangkap ada keharuan yang menggumpal di dalamnya. ?Aku tak tahan ingin berbagi kebahagiaan denganmu.?

?Ada apa, Tri?? tanyaku penasaran.

?Mama menyatakan ingin masuk Islam.?

Alhamdulillah?.! Pantas saja Tantri sebahagia itu. Aku yang mendengar saja tak kalah bahagia. Meski tak pernah mengungkapkannya, aku tahu Tantri pasti sangat menginginkan ibunya juga menjadi seorang muslimah, mempercayainya Allah Yang Esa dan mengikrarkan diri sebagai umat Muhammad. Dan aku yakin, untuk mewujudkan keinginannya ini, Tantri melakukan berbagai usaha dan tak pernah putus berdoa. Pasalnya, aku pernah menemani Tantri memborong buku-buku tentang Islam. Katanya, dia berharap suatu saat ibunya tergerak untuk ikut membacanya.

Jadi, berpenampilan muslimah adalah gebrakan ketiga Tantri. Lagi-lagi momentnya berkenaan dengan Ramadhan dan Lebaran.

?Kamu yakin dengan penampilan barumu ini, Tri?? tanyaku.

Tantri tersenyum. Seperti biasa, lembut tapi mantap. ?Mama yang mengenal Islam belakangan malah lebih dulu berjilbab. Masak, aku yang mengenalkan Islam padanya tidak??

Tak ada maksud Tantri menyindir, tapi aku merasa tersentil. Karena aku yang Islam sejak lahir, sampai sekarang tak pernah tergerak untuk menutup aurat secara sempurna. Ibadahku masih terbatas yang wajib saja. Itupun masih setengah hati dan sulit khusyuk. Sementara Tantri melangkah lebih jauh di usia keislamannya yang? singkat.

?Lagipula, Rin, aku berharap dengan penampilan baruku ini, cowok-cowok akan segan mendekatiku. Pusing aku meladeni mereka, Rin. Diomongin secara baik-baik, nggak pernah mempan. Apa iya aku harus pakai kata-kata kasar??

Aku tertawa. Kalau masalah cowok-cowok, aku mungkin lebih beruntung dari Tantri. Justru karena aku tidak secantik dan semenarik dia, makanya tak pernah pusing memikirkan cowok.

?

Tertarik dengan kelanjutannya...?

Silakan temukan di sini, ya...!

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7357/betis-indah-ken-diah

  • view 108