Selembut Awan, Sekokoh Karang

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
Selembut Awan, Sekokoh Karang

?

Benteng Martapura, 29 Januari 1862, pukul 23.00 Wita

SEMENTARA dewi malam merangkum alam yang terlena, suasana? dalam Benteng Martapura justru terlihat tegang. Dua kelompok duduk berhadapan. Satu kelompok sebagian besar beranggotakan lelaki berkulit putih dan rambut kecoklatan. Mereka mengenakan seragam serdadu lengkap dengan tanda kepangkatan masing-masing.

Duduk paling depan tepat di tengah, Letkol Verspyck, residen merangkap komandan tentara Hindia Belanda untuk bagian Selatan dan Timur Kalimantan. Dia bertubuh jangkung, bermata kelabu, berambut jagung, dan berhidung beo. Dia dikelilingi 10 bawahannya.

Seorang Belanda bertubuh gempal dengan rambut coklat keriting duduk di kanannya. Dia Mayor Koch, Regen Martapura. Ada beberapa pribumi di sekitar mereka; Jamidan, Kepala Distrik Martapura, Haji Isa dan juru tulis Eman.

Duduk di seberang mereka sekelompok lelaki pribumi, berpakaian sederhana layaknya rakyat kebanyakan. Namun sinar wajah mereka tidak bisa menyembunyikan darah kebangsawan yang mengaliri tubuh mereka. Mereka para pangeran dan gusti Kerajaan Banjar yang lama membaur dengan rakyat biasa, memimpin perjuangan melawan kolonial Belanda.

Dua di antara mereka terlihat menonjol. Pertama, seorang lelaki setengah baya berpakaian layaknya ulama, gamis putih dan surban. Sederhana, namun bersih, sehingga tampak agung. Wajahnya tampan, menyimpan kharisma mendamaikan. Matanya jernih, menyiratkan kasih. Senyumnya? lembut menenteramkan. Dia Pangeran Hidayatullah, pewaris takhta Kerajaan Banjar yang didukung rakyat, namun karena campur tangan Belanda jadi terusir dari istana.

Seorang lagi berkulit lebih gelap. Pahatan wajahnya khas lelaki Dayak, berahang kokoh persegi, bermata setajam elang dinaungi alis tebal, serta garis bibir yang menggambarkan ketegasan. Perawakannya juga tegap, terlihat gagah dan sangar dalam balutan busana pendekar lengkap dengan laung tajak di kepalanya. Dialah Demang Lehman, pembantu sekaligus sahabat setia Pangeran Hidayatullah. Pemimpin perjuangan Rakyat Banjar di daerah Martapura dan Tanah Laut. Ksatria yang sepakterjangnya mampu membuat pimpinan Belanda ketar-ketir.

Sejak mengikuti pertemuan, beberapa kali Demang Lehman terlihat menggenggam hulu mandau yang tergantung di pinggangnya dengan geram. Matanya yang tajam bersinar marah. Rahangnya yang kokoh mengeras, pertanda dia tengah menyimpan luapan murka di dada.

Hanya sentuhan Pangeran Hidayatullah di bahunya masih bisa meredam kemarahannya. Padahal dadanya sudah begitu sesak dan siap meledak. Padahal kepalanya sudah panas terbakar. Padahal jiwanya bergolak hebat.

Katanya berunding, kenyataannya justru pihak Belanda yang memonopoli dan mendikte pembicaraan. Pihak Banjar digiring untuk menerima. Benar-benar tidak adil! Bahkan, dengan tenang Letkol Verpyck membeberkan rencana membuangan Pangeran Hidayatullah ke Pulau Jawa.

?Belanda penipu! Licik!? umpat Demang Lehman dalam hati.

Tak terkira rasa sesalnya karena telah mempertemukan Belanda dengan Pangeran Hidayatullah. Beberapa bulan lalu, pihak Belanda gencar menghubunginya melalui utusan, mengajak berunding. Tapi selalu diabaikan. Demang Lehman tahu pasti, tujuan Belanda agar dia mau menjadi penghubung.

Namun, ketika persediaan bahan makanan, obat-obatan serta persenjataan di benteng pertahanannya habis, timbul ide di benak Demang Lehman untuk memanfaatkan tawaran Belanda tersebut. Dia pun menyatakan persetujuan bertemu pihak Belanda. Demang Lehman bersama sejumlah bangsawan dan kyai tetuha rakyat memasuki Martapura, Oktober 1861. Tujuan mereka sebenarnya adalah untuk mendapatkan pasokan bahan makanan, obat-obatan dan persenjataan.

Kesempatan ini digunakan Belanda untuk melancarkan bujuk rayunya. Mereka berjanji mengizinkan Demang Lehman dan pemimpin rakyat beserta keluarga tinggal di Martapura asal mau mempertemukan mereka dengan Pangeran Hidayatullah. Bahkan dijanjikan mendapat tunjangan hidup.

Sekian lama Demang Lehman menolak dan terus berusaha mengulur-ulur waktu. Pasalnya, dia meragukan itikad baik Belanda. Namun terus didatangi. Bahkan, 30 Desember 1861, Letkol Verspyck sendiri membujuknya dengan mengobral janji-janji manis. Katanya, Pangeran Hidayatullah dan keluarga boleh menetap di Martapura. Bahkan, boleh kembali ke benteng pertahanannya dengan aman bila tidak menyutujui persyaratan dalam perundingan damai yang diajukan Belanda.

Karena janji inilah, 3 Januari 1862, Demang Lehman akhirnya benar-benar mengadakan pertemuan rahasia dengan Pangeran Hidayatullah. Para pimpinan Banjar pun berunding untuk membicarakan tawaran Belanda. Debat dan diskusi hebat terjadi. Sebagian mereka, termasuk Demang Lehman tidak menyetujui rencana berunding dengan Belanda, karena yakin Belanda menyimpan muslihat licik di balik tawarannya. Namun sebagian lagi menyetujui karena mempertimbangkan semakin menurunnya kekuatan mereka. Satu per satu ksatria Banjar yang gagah berani gugur. Yang tersisa dan masih bertahan di benteng pertahanan dalam kondisi menyedihkan; kekurangan bahan makanan, obat-obatan, dan persenjataan untuk membendung serangan.

Pangeran Hidayatullah lebih cenderung memilih pendapat kedua.

Sikap Pangeran Hidayatullah ini sama sekali tidak mengejutkan. Dia sangat mengenal Pangeran Hidayatullah. Dia hapal sekali sifatnya yang teramat lembut dan welas asih terhadap rakyat. Baginya, tak ada yang lebih penting kecuali rakyat Banjar. Jadi bila rakyat Banjar menderita, Pangeran Hidayatullah juga ikut merasakannya.

Kewelasasihan inilah yang membuat Pangeran Hidayatullah sangat dicintai rakyat Banjar. Bahkan ketika Pangeran Hidayatullah didzalimi --- direbut haknya mendapatkan tahta --- serentak rakyat bangkit melakukan perlawanan.

Rakyat memang sangat mengharapkan Pangeran Hidayatullah menjadi Sultan Banjar, sesuai wasiat terakhir Sultan Adam --- raja terdahulu. Karena selain putra kandung permaisuri, Pangeran Hidayatullah juga berakhlak mulia, taat beribadah, lemah lembut, serta kasih dan dekat dengan rakyat. Namun Belanda yang sudah terlalu banyak ikut campur dalam urusan kerajaan justru melantik Pangeran Tamjidillah yang hanya putra selir, berakhlak buruk, suka mabuk, judi dan main perempuan, juga berangasan, karena dia lebih mudah diajak bekerjasama.

Rakyat yang tidak puas mulai melakukan perlawanan. Semula? sporadis, lama-lama makin terkordinasi. Terlebih setelah rakyat mendaulat Pangeran Antasari sebagai pimpinan. Tambang batubara dan benteng pertahanan Belanda di Pengaron, 28 April 1859 diserang Pasukan Banua Ampat pimpinan Pangeran Antasari. Penyerbuan ini menandai meletusnya Perang Banjar, karena hampir bersamaan waktunya, pusat-pusat kekuatan Belanda lainnya di Kalangan Banyu Irang, Bangkal, Marabahan, Gunung Jabuk, Tabanio, Pulau Petak, dan Pulau Telo juga diserang.

Belanda memerintahkan Pangeran Hidayatullah yang menjabat mangkubumi meredakan perlawanan. Namun usaha adu domba ini gagal, karena Pangeran Hidayatullah justru bergabung dengan rakyat. Bahkan di Amuntai, dia diangkat sebagai raja Banjar.

Kehabisan akal, Belanda bak menjilat ludah. Memaksa Sultan Tamjidillah turun takhta 25 Juni 1859, membuangnya ke Bogor. Membujuk Pangeran Hidayatullah untuk kembali, dan dijanjikan diangkat jadi raja demi meredakan kemarahan rakyat.

Pangeran Hidayatullah menolak. Rakyat sudah terlanjur marah. Tujuan perjuangan mereka bukan lagi sekedar mengganti pucuk pemerintahan, melainkan sudah menjadi jihad fiisabilillah? melawan kedzaliman pemerintah kolonial Belanda yang sudah sekian lama menginjak-injak kemerdekaan mereka sebagai bangsa.

Setelah menderita kerugian yang cukup besar, Belanda tak lagi menganggap enteng. Seluruh kekuatan dikerahkan. Bala bantuan dari Batavia didatangkan. Kapal-kapal perang dikirim menyusuri sungai-sungai di Kalimantan Selatan, Tengah, dan Timur, untuk menghancurkan benteng-benteng perlawanan rakyat.

Semula Rakyat Banjar berjuang dengan gigih. Meski hanya bersenjata mandau, tombak, dan parang, namun seringkali berhasil mematahkan serangan Balanda. Tapi terus-terusan digempur dengan kekuatan penuh, rakyat akhirnya melemah juga. Terlebih karena Belanda menggunakan semua taktik liciknya. Siasat adu domba yang menyayembarakan kepala para pimpinan perlawanan dengan harga menggiurkan.

Mereka juga membakar lumbung padi dan sawah yang mulai masak agar rakyat tidak bisa memasok bahan makanan kepada para pejuang. Namun yang paling keji, mereka tidak segan membumihanguskan kampung, rumah ibadah, dan menangkap serta menyiksa rakyat tak berdosa. Termasuk siasat menawarkan perundingan damai, namun akhirnya mengingkari, seperti sekarang ini.

?Ayolah Pangeran, jangan keras kepala! Kami takkan menyakiti Pangeran dan keluarga, asal Pangeran mau pergi ke Pulau Jawa. Pangeran akan dikirim ke Batavia dulu, dari sana baru kita tentukan di Jawa bagian mana Pangeran akan tinggal. Jangan khawatir, Pangeran boleh memilih keluarga yang diajak selain anak istri. Kami juga akan memberi tunjangan cukup agar Pangeran bisa bersenang-senang di sana,? bujuk Letkol Verspyck dengan suara mengandung paksaan dan ancaman sehingga mampu menggugah Demang Lehman dari lamunan.

Demang Lehman menoleh, menatap Pangeran Hidayatullah. Wajah itu tetap tenang dan datar.

?Syaratnya mudah, Pangeran tinggal menandatangani pernyataan ini!?

Selembar kertas disodorkan. Belum sempat Pangeran Hidayatullah menyambut, Demang Lehman merampasnya. Nanar dibacanya pernyataan yang dinamakan proklamasi itu. Untuk rakyat Banjar dari Pangeran Hidayatullah pribadi. Isinya membuat darah Demang Lehman mendidih.

Pangeran Hidayatullah diminta mengakui telah berbuat dan bertindak salah memerangi Belanda, karena itu dia mengaku menyerahkan diri kepada Belanda. Dia meminta rakyat yang mencintainya menghentikan perang terhadap Belanda. Dia juga meminta rakyat tidak mau mendengar lagi perintah para pimpinan dan tetuha yang tidak mau tunduk kepada Pemerintah Belanda, membantu menangkap mereka dan menyerahkannya kepada pemerintah Belanda.

?Kurang ajar! Kalian Belanda licik!? Demang Lehman berdiri marah. Tangan kanannya siap mencabut mandau di pinggang. Namun dia baru sadar, ratusan serdadu telah mengepung dengan bedil terancung. Pengikut Pengeran Hidayatullah lainnya ikut berdiri. Mata mereka sama garang.

?Ha? ha? ha?! Jangan bodoh kalian! Apa kalian kira sabetan mandau bisa lebih cepat dari peluru?? Mayor Koch mengejek.

Para ksatria Banjar itu memandang Pangeran Hidayatullah, menunggu perintah. Sedikit isyarat saja, mereka siap menyerang. Tak peduli puluhan peluru menembus. Mereka siap menyambutnya laksana menyambut kedatangan bidadari yang menjemput mereka dari surga. Namun isyarat Pangeran Hidayatullah justru berkata sebaliknya.

Kelanjutan ceritanya temukan di sini, ya...!

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7341/kabut-di-lontontour

  • view 112