Menanti Hujan di Bulan Ramadhan

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Februari 2016
Menanti Hujan di Bulan Ramadhan

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak pernah terucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak pernah disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????? Sapardi Djoko Damono

MENANTI hujan di Bulan Ramadhan, namun tak kunjung datang. Malah kabut asap akibat kebakaran lahan semakin menebal. Memerihkan mata menyesakan pernafasan. Memasung panas mentari dalam jaring-jaringnya. Namun tetap menebar terik yang mencekik tenggorokan.

Menanti hujan di Bulan Ramadhan bagiku juga sebuah cobaan selain berpuasa melawan lapar dan dahaga. Karena Ramadhan yang kukenal sangat menyukai hujan. Meski hujan pula yang merenggutnya ke dalam bingkai kenangan.

?Ada yang bisa saya bantu, Non?? Seraut wajah basah kuyup mengetuk jendela Honda Jazz kesayanganku.

Aku tersentak kaget. Bukan hanya karena kemunculannya yang tiba-tiba. Tapi lebih karena ketampanan wajah basah itu. Air membuatnya terlihat bercahaya. Aku sampai terpesona.

Semula aku sempat ragu. Takut masuk perangkap penjahat. Namun ingat aku sudah berada di lingkungan kompleks, keraguan itu lenyap. Kuturunkan kaca jendela sedikit. Namun cukup untuk memperjelas pandanganku pada wajahnya.

?Mogok. Mungkin karena bagian mesinnya kecipratan air hujan.?

?Wah, sayang saya tidak mengerti mesin.?

?Rumahku tinggal beberapa puluh meter. Mobil bisa titip di sini? Tapi hujan ini??

?Oh, tenang, Non. Di musholla ada payung.?

Tanpa menunggu lebih lama, sosok basah kuyup itu menjauh. Aku baru sadar, mobilku ngadat tepat di depan musholla kompleks perumahan. Agaknya, cowok itu yang bertugas menjaga musholla. Aku tidak tahu pasti, karena selama ini tidak pernah terlalu memperhatikannya. Tapi tampaknya dia juga masih remaja. Paling, usianya dua tiga tahun di atasku. Penampilannya saja yang membuatnya kelihatan lebih tua dari umurnya. Maklum, hanya mengenakan kaos kumal dan celana kain lusuh. Padahal kalo didandani sedikit saja, pasti kerennya tak kalah dengan selebriti.

Cowok itu datang dengan menenteng payung di tangannya.

?Ada payung, kenapa kamu hujan-hujannya?? tanyaku tanpa bosan menatap sosok tampan basah kuyup itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Maklum, hujan masih deras mengguyur.

Cowok itu tersenyum. ?Saya menyukai hujan.?

Jawaban yang sempat membuatku terlongo.

?Baiklah, payungnya kupinjam. Titip mobil, ya!? ujarku sambil mengambil payung dari tangannya. ?Oya, namamu siapa??

?Saya Ramadhan, Non. Putra Pak Saidi, satpam kompleks. Kami numpang tinggal di samping musholla. Sekalian saya bantu-bantu jadi marbot musholla.?

Mataku melebar. Sudah berapa lama kami sekeluarga tinggal di kompleks ini? Tapi tak pernah tahu salah satu satpam kompleks bernama Saidi. Yang mana orangnya, ya? Mungkin yang paling tua. Padahal dia punya anak cowok yang sebegitu kerennya.

?Saya Kansha??

?Saya tahu, Non. Panggilannya Non Chacha. Blok F No 23 C.?

Kembali mataku melebar dengan bibir setengah terbuka.

Ramadhan tersenyum. ?Ayah saya kan satpam, Non. Jadi mengenal seluruh penghuni kompleks, walau mereka tidak mengenal kami.?

Aku pulang menggunakan payung yang dipinjamkan Ramadhan. Entah kenapa, percakapan singkat kami memberikan kesan tersendiri.

Sesampai di rumah, aku menelpon bengkel agar mengirim montir. Setelah itu aku langsung menelpon Siska, ce-esku. Kuceritakan, aku baru bertemu cowok yang cakepnya kayak Adam Jordan.

?Marbot musholla?? Siska ngakak habis. ?Memangnya kamu baru nonton sinetron Ramadhan??

?

ESOK harinya kuajak Siska aku menemui Ramadhan di musholla. Pura-puranya, mengembalikan payung yang kupinjam. Di sana kulihat dia bersama tiga bocah sedang belajar mengaji.

Melihat kedatangan kami Ramadhan menghentikan kegiatannya. Dia menghampiri kami. Dalam kondisi kering dia sama menariknya saat sedang basah kuyup. Bahkan Siska sampai terlongo-longo menatap. Kena dia sekarang! Aku sempat kesal ketika dia mentertawakanku habis-habisan. Dia pikir aku bohong tentang Ramadhan, marbot musholla kompleks kami yang cakep kayak model.

?Non Chacha kok, repot-repot. Tidak usah dikembalikan juga tidak apa-apa,? ujarnya.

Sementara murid-muridnya kasak-kusuk menggoda.

?Maaf, Non. Mereka memang usil.?

?Murid-muridmu hanya tiga orang??

Ramadhan tersenyum. ?Ah, Non? tiga juga syukur. Mereka itu anak-anak satpam teman bapak.?

?Bukan anak-anak penghuni kompleks?? Siska bertanya.

?Mana mungkin anak-anak penghuni kompleks mau diajari saya? Tentunya, mereka bisa mencari guru yang lebih hebat.?

Nada suaranya datar saja, tapi mampu membuatku tertegun. Kuamati kondisi musholla, tidak jauh beda dengan penampilan marbotnya --- sangat bersahaja. Sebagian besar bangunannya terbuat dari kayu, sebagian lagi disemen. Warna catnya sudah mulai memudar. Sangat kontras dengan kondisi rumah di komplek yang bisa dikategorikan sebagai rumah mewah.

?Keberatan kalau muridmu tambah beberapa orang lagi? Tapi? bukan bocah, jadi mungkin lebih sulit untuk mengajari,? tanya Siska.

Aku menoleh. Siska memberi isyarat dengan kedipan mata.

Ramadhan terperanjat.

?Oya, ini temanku, Siska,? ujatku buru-buru memperkenalkan.

Ramadhan mengangguk hormat.

?Benar, Non berdua ingin belajar mengaji?? Ramadhan bertanya sangsi. Dia cepat mengerti arah pembicaraan Siska.

?Tentu saja!? Siska mengangguk mantap. ?Ya kan, Cha??

?Mohon maaf, bersambung ceritanya ke sini, ya...!

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8197/cowok-rumah-sebelah

  • view 385