Prinsif Tuti

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Februari 2016
Prinsif Tuti

?MANA temanmu, Wi? Disuruh datang, kok, sampai sekarang nggak nongol-nongol?? sindir Bu Nurul --- Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, tajam.

?Iya, nih. Nggak bertanggungjawab amat, sih!?

?He eh.?

Gerutuan saling sambung-menyambung. Sudah sejak pagi tadi Dewi berusaha menulikan telinganya. Sejak ujian nasional dimulai, dan Tuti tidak juga menampakkan batang hidungnya. Meski dia sudah terbiasa dengan sindiran maupun celaan pedas, namun tetap saja? emosinya terbakar. Dia harus pintar-pintar meredamnya.

?Coba ditelepon ke HP-nya, Wi!? suruh Pak Anwar --- Kepala Sekolah yang usianya masih tergolong muda. ?Barangkali ada halangan di jalan.?

?Sudah.? Bu Wati --- Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan yang tergolong guru paling senior menyambar. ?Tapi HP-nya tidak diaktifkan.?

?Bagaimana, sih? Ya, sudah. Untuk sementara, kita bekerja tanpa dia. Siapa tahu, ada halangan di jalan.? Pak Anwar menghela nafas. ?Itu soalnya, Wi. Jawab yang benar, ya! Baru kuncinya kasihkan ke kita.?

Berat, Dewi mengangguk. Dikerjakannya juga apa yang diperintahkan meski di sudut hati kecilnya yang paling dalam memberontak. Diam-diam, dia? iri pada Tuti.

?
? ?

?

?

?

?TAHUN ini, saya disuruh ngajar kelas tiga, Mbak. Apa saya bisa, ya?? curhat Tuti ketika tahun ajaran baru dimulai.

?Tentu saja kamu bisa. Kamu kan pintar. Buktinya, nilaimu bagus-bagus,? jawab Dewi setengah memuji.

Dewi tulus dengan pujiannya. Tuti adalah rekannya, sesama guru Bahasa Inggris di sebuah SMU swasta. Bedanya, dia tergolong senior, lulusan lima tahun silam. Sementara Tuti baru tahun lalu wisuda. Tapi sejak kuliah, dia sudah menghonor di sekolah ini.

Mungkin karena masih muda, semangat mengajarnya tinggi. Berbagai metode dan model pembelajaran diterapkannya supaya memudahkan siswa memahami pelajaran. Bahkan Tuti rela membuat sendiri media pembelajarannya. Ada yang berupa gambar-gambar. Ada yang berupa kaset hasil rekaman. Terkadang dia juga mengajar dengan permainan agar siswa tidak merasa bosan.

?Ah, Mbak! Nilai kelulusan bagus kan tidak menjamin apakah dia bisa mengajar dengan baik atau tidak,? ujarnya serius.

Tuti merenung. Meninggalkan tumpukan buku tugas siswa yang semula sedang dikoreksinya. Ternyata dia benar-benar memikirkannya.

?Duh, Tut, jangan seserius itu!? Dewi coba menggodanya.

?Gimana nggak serius, Mbak, tanggungjawab mengajar kelas tiga kan berat --- meluluskan siswa Ujian Nasional. Mana standart nilainya setiap tahun naik terus lagi. Sementara kita tahu sendiri, seberapa besar minat dan motivasi belajar murid-murid kita. Payah! Apalagi untuk pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika. Biar kita setengah mati mengajari, kalau siswanya tidak punya motivasi, bagaimana mau bisa??

Dewi tersenyum tipis. Guru muda yang baru lulus memang beda. Masih sangat idealis. Dewi sendiri bahkan lupa, apakah dia juga seidealis itu ketika baru mengajar? Sekarang sih, dia santai-santai saja. Dia tak terlalu mencemaskan masalah itu.

?Sudahlah! Jalani aja, dulu! Kalau terlalu dipikirkan sekarang, malah bisa-bisa kamu stress!? ujarnya sambil menepuk bahu Tuti.


??

?

SUATU ketika, dilihatnya Tuti termenung di sudut kantin sekolah. Es jeruknya dibiarkan mencair. Sementara mangkok sotonya, juga tak lagi mengepul. Rupanya, keduanya lama tidak dihiraukan.

?Duh, mikirin apa sih, sampai makanan dicuekin??

Tuti tergugah dari lamunannya. Senyum tipisnya mengembang. Tapi? ah, sangat hambar. Cenderung getir malah.

?Kayaknya, aku putus asa, Mbak. Putus asa kan dosa ya, Mbak. Tapi bagaimana lagi?? ujarnya polos.

?Masalah apa??

?Biasa, murid-murid kelas tiga. Perasaan baru dua minggu lalu kuajarin, eh hari ini ketika ditanya, mereka lupa lagi. Kadang-kadang, baru kusinggung beberapa menit lalu, mereka juga nggak bisa jawab. Entah mereka kurang konsentrasi, atau memang tidak memperhatikan pelajaran --- asyik dengan kesibukan sendiri. Padahal, aku sudah setengah mati --- berusaha dengan berbagai cara untuk membuat pelajaran menjadi menarik, tapi tetap dicuekin juga,? tuturnya di sela desahan nafas panjang.

Dewi hanya geleng-geleng kepala. Tuti? Tuti? Masih saja masalah murid yang menjadi pikirannya.

?Apa aku minta mundur saja mengajar kelas tiga, Mbak? Bilang aku tidak sanggup menanggung beban tanggungjawab sebesar itu.?

?Eh, jangan!? Dewi menyergah cepat. ?Semua bukan salahmu. Diserahkan pada guru yang lain juga, belum tentu menjadi lebih baik. Percayalah, kami semua menghadapi kesulitan yang sama.?

Pesanan lontong dan teh manis Dewi datang. Untuk sementara diskusi mereka tertunda.

?Kenapa begitu ya, Mbak?? Tuti ikut menyuap sotonya yang sudah dingin melihat semangat makan Dewi yang langsung tancap menyikat lontongnya.

?Maklumlah, Tut ? sekolah kita ini kan swasta, letaknya di pinggiran kota lagi. Mereka yang masuk ke sini sebagian besar adalah masyarakat menengah ke bawah yang kehidupan ekonominya juga pas-pasan. Para orangtua bekerja mencari nafkah sepanjang hari sehingga tak sempat lagi memperhatikan pelajaran anak-anaknya. Sementara sang anak --- ada pula yang ikut mencari nafkah dengan bekerja paro waktu. Kira-kira, dengan separo lebih tenaga terkuras, apa mungkin mereka bisa berkonsentrasi penuh di sekolah? Boro-boro belajar di rumah mengulangi pelajaran.?

Tuti tercenung.

?

Apakah Tuti akhirnya mengudurkan diri? bersambung ke sini...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8106/usai-ijab-kabul

  • view 103