Pernikahan Sahabat

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Februari 2016
Pernikahan Sahabat

Zulfikar

?KALI ?ini, mungkin? kuterima, Fik.? Raihana berujar pelan.

Nadanya terdengar biasa. Namun gendang telingaku menangkap kepasrahan yang melebihi kadar kebiasaannya. Kepasrahan ataukah keputusasaan?

?Kamu? yakin, Rai?? tanyaku.

Hening sejenak. Aku hanya mendengar helaan nafas beratnya.

?Jujur, Fik, aku tak tahu,? Akhirnya dia mendesah. ?Namun aku tak punya pilihan lain. Usiaku sudah melewati kepala tiga. Selama itu, tiga kali aku menolak lamaran yang datang dengan berbagai alasan. Sekarang, aku sama sekali tidak menemukan alasan. Lagipula? kamu tahu keluargaku? mereka sudah mulai mendesak. Aku maklum, bila kesabaran mereka menipis dan mulai geram melihat tingkahku yang mungkin mereka anggap terlalu ?belagu?.?

?Itu semua tidak penting, Rai. Yang penting bagaimana kamunya.? Aku mendesak.

Kembali terdengar suara helaan nafas.

?Kamu kan tahu, aku sudah menunggu sejak lama untuk menggenapkan dien-ku. Tak ada yang paling kunantikan sekarang ini selain kesempatan untuk ber-jihad dalam sebuah keluarga sebagai perwujudan cintaku pada-Nya.? Raihana bertutur datar, namun tetap menyimpan getar.

?Tapi kamu sama sekali tidak mengenalnya, Rai. Bagaimana mungkin??

Raihana tertawa ringan. ?Fik, kamu lupa Dia mampu membolak-balik hati manusia semudah membolak-balik telapak tangan? Apa kerikil sekecil ini harus menghalangiku untuk mengambil sebuah langkah terbesar dalam hidupku??

Aku tertegun lama. Bahkan sampai Raihana mengucap salam dan menutup telepon, aku masih tercenung.

Raihana, sahabatku sejak kecil. Dia bercerita tentang lamaran yang baru saja diterimanya.? Memang bukan lamaran pertama yang didapatkannya. Namun agaknya, akan menjadi lamaran terakhir, karena kemungkinan besar akan terwujud dalam sebuah pernikahan.

Raihana akan menikah. Yah, tampaknya keputusan untuk menyempurnakan ibadahnya sudah bulat. Karena dia tak pernah terdengar seserius ini saat mendiskusikan masalah lamaran. Lamaran-lamaran terdahulu diceritakannya dengan santai, diselingi tawa dan canda. Kali ini sungguh berbeda.

Jadi, Raihana benar-benar serius. Raihana sungguh-sungguh berniat menikah. Tampaknya dia telah siap. Benar-benar siap. Namun kenapa justru membuatku gelisah dan ketakutan?

Raihana, sahabatku sejak kecil. Kebetulan, kami satu SD dan selalu sekelas. Namun, Raihana pindah saat naik ke kelas IV, mengikuti kepindahan tempat tinggal keluarganya. Aku merasa kehilangan. Itulah sebabnya, kemudian aku memaksa masuk ke SMP yang sama meski agak jauh dari tempat tinggalku.

Kami satu sekolah lagi, meski tidak selalu sekelas. Namun kami tetap akrab, berbagi keceriaan masa remaja. Terkadang juga saling ledek dan olok. Lulus SMP, kembali kami mencari SMA yang sama. Saat itu kami sudah bisa memaknai sebuah persahabatan sejati. Kami tahu, sahabat sejati adalah orang yang tetap setia menemani saat dalam kondisi terburuk. Dan itulah yang kami lakukan satu sama lain.

Ketika Raihana mengalami cinta pertama, aku yang paling dipercayanya sebagai teman berbagi. Aku juga yang menghiburnya saat cinta pertama itu kandas. Sebaliknya, Raihana juga yang membantuku mendekati cewek yang kutaksir. Kemudian dia juga yang jadi tumpahan perasaanku saat cintaku tak berbalas.

Raihana jatuh cinta untuk kedua kalinya. Cinta yang sempat membuat hubungan persahabatan kami renggang karena cowoknya mencemburui kedekatan kami. Cinta yang kembali luluh lantak dan nyaris menghancurkan hidupnya. Hampir saja dia bunuh diri seandainya aku tidak cepat mencegahnya. Kucoba untuk membangkitkan semangat hidupnya. Ajaibnya, Raihana justru menemukan makna hidup yang lebih dalam saat hatinya tercabik-cabik. Dia menemukan cinta Illahi di tengah keterpurukannya.

Mulai saat itu Raihana mulai berubah, dari cara berpakaian, gaya hidup maupun cara bersikap. Satu yang tidak berubah, yakni persahabatan kami. Hanya saja, atas permintaan Raihana, kami tidak pernah berdua-duaan. Kalau bertemu, kami pasti mengajak orang lain untuk menemani. Apabila diskusi tentang masalah pribadi, biasanya kami lakukan melalui telepon, surat atau media lainnya, tanpa bertemu secara langsung.

Demikianlah, tanpa terasa persahabatan kami berjalan dari waktu ke waktu. Sampai kami lulus kuliah dan mulai berkarir di bidang masing-masing. Namun pahit-manisnya persahabatan tetap kami bagi bersama. Mungkinkah persahabatan kami akan tetap berlanjut setelah pernikahan Raihana

Tiba-tiba saja aku menyangsikannya, dan aku jadi ketakutan karenanya.


??

?

Raihana

ZULFIKAR? ingin melamar seorang gadis. Dia ingin aku dan Ayah menemaninya.

?Kamu ingin menyaingiku, ya?? candaku ketika dia mengajukan permintaannya lewat telepon.

?Begitulah kira-kira,? jawabnya ringan. ?Memangnya, kamu saja yang pengen nikah? Memangnya, kamu saja yang ingin berjihad menyempurnakan dien??

Tentu saja aku menyambut bahagia niatnya. Itulah sebabnya aku mengenakan pakaian terbagusku. Meski demikian, tetap terselip kecemasan dalam hatiku. Bagaimana rupa calon istri Fikar nanti? Apakah dia akan memaklumi persahabatan kami? Bagaimana bila tidak? Apakah itu berarti persahabatan kami akan berakhir?

?

Jawabannya ada di sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8022/suatu-siang-di-warung-pojok-terminal

  • view 106