Most Valuable

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Februari 2016
Most Valuable

TERNYATA murid yang katanya pindahan Amerika itu tidak seheboh gosipnya. Sama sekali tidak tampak tanda-tanda dia dari Amerika. Jangankan tampang bule, indo saja tidak. Malah Melayu abis.

Bila dibandingkan, Topan mungkin lebih pantas dikatakan sebagai pindahan dari Amerika dibanding Rafi Hanafi --- nama cowok baru itu. Topan lebih tinggi beberapa senti. Kulitnya juga lebih terang dari kulit Rafi yang sawo matang. Wajahnya pun --- menurutnya, lebih cakep. Walau harus diakuinya juga, wajah Rafi tergolong manis. Terutama saat tersenyum.

?Ah, kupikir seperti apa cowok baru dari Amerika! Ternyata segitu, aja.? Komentar Topan agak sinis saat ikut beramai-ramai berkenalan. ?Kalau yang seperti ini, nggak usah di Amerika, di sini juga banyak.?

Bobby dan Aditya --- dua teman terdekatnya saling mendelik. Mereka paham benar mengapa Topan sengit. Pasalnya, sebelum kedatangan Rafi --- gossip tentang murid baru pindahan dari Amerika itu merebak ke mana-mana. Beritanya heboh! Mungkin karena ada embel-embel ?Amerika? di dalamnya.

Bagi penghuni SMUN-5, sebuah sekolah di pinggiran kota kecil, kedatangan murid dari Amerika adalah hal luar biasa. Bagi mereka, Amerika bak negeri impian yang menawarkan sejuta kemudahan dan keindahan gemerlapnya dunia. Dunia yang identik dengan kebebasan dan liberalisme, modernisasi dan teknologi, populer dan glamour. Pokoknya, segala yang serba wah.

Namun yang paling mengesalkan Topan, belum apa-apa saja, Rafi sudah dibandingkan dengannya. Alasannya, karena saat ini dialah cowok idola di SMUN-5. Dia terkenal bukan saja karena ganteng, tapi juga selalu mendapat rangking di kelas, serta jago basket pula. Modal yang lengkap untuk jadi pujaan cewek-cewek.

?Diramalkan banyak orang, murid baru itu bakal menyaingi popularitasmu sebagai cowok idola di sekolah ini,? ujar Bobby. Dia paling suka membuat Topan kesal. ?Kabarnya, selain cakep, dia juga pintar, dan jago basket seperti kamu. Bahkan dia pernah meraih gelar MVP --- Most Valuable Player, di kejuaraan basket se-SMU di kota asalnya, Amrik sono. Amrik? Man! Kita kan tahu basket di Amrik adalah salah satu olahraga terfavorit. Pastinya, menjadi seorang MVP di negeri Paman Sam itu tidaklah mudah.?

Topan hanya bisa mendengus kesal waktu itu. Siapa yang suka dibanding-bandingkan? Dengan sosok cowok yang tak pernah dilihat apalagi dikenalnya lagi.

Namun sekarang ketika murid baru itu benar-benar datang, Topan bisa kembali menegakkan kepala. Paling tidak, dari segi tampang dan penampilan, dia tidak kalah.

Topan kemudian memutuskan mengundurkan diri dari ajang perkenalan. Dia tidak berminat untuk berkenalan lebih jauh seperti teman-temannya yang lain.

***

TAPI optimisme Topan tidak berlangsung lama. Meski terbukti bertampang dan berpenampilan sebagaimana kebanyakan cowok Indonesia, cerita tentang Rafi --- murid baru pindahan dari Amerika itu tetap berlanjut. Tetap dikemas dan pujian yang di telinga Topan terdengar berlebihan.

?Pantas saja dia tidak kelihatan seperti orang Indo atau blesteran. Dia asli Indonesia. Dari Ayah Melayu dan Ibu Dayak. Katanya, kebetulan saja ayahnya bekerja sebagai atase pertanian di kantor konsulat di Amrik sana. Karena Ayahnya mulai sakit-sakitan dan disaran beristirahat oleh dokter, akhirnya beliau mengajukan pensiun dini. Memang cita-citanya, menghabiskan masa pensiun di kampong halaman, mengurus pertanian dan berkebun,? tutur Aditya pada Bobby. Padahal aslinya sengaja ngobrol tentang Rafi agar Topan mendengar.

?Aku sempat heran mendengar Rafi bicara. Bahasa Indonesianya sangat lancar dan fasih. Bahkan sama sekali tidak terdengar logat asingnya,? sahut Bobby menanggapi.

?Itu karena di rumah dia tetap menggunakan Bahasa Indonesia. Selain itu dia juga tetap membina hubungan pergaulan dengan komunitas orang Indonesia di sana. Jadi, tetap sering berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia. Hanya saat ngomong dengan orang asing, dia menggunakan Bahasa Inggris.?

Bobby mengangguk. Sesekali dia memberi isyarat pada Aditya untuk melirik Topan yang pura-pura cuek. Padahal sebenarnya mendengarkan. Terlihat dari telinganya yang kadang memerah karena panas.

Diam-diam keduanya cekikikan. Senang bisa menggoda Topan. Panasnya perasaan Topan pada Rafi sebenarnya karena provokasi mereka. Baru kali ini mereka mendapatkan sosok sepandan untuk disandingkan sebagai saingan sobat mereka itu.

Keseruannya pindah ke sini, ya...!

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7980/melodi-merdekawati

  • view 82