Jangan Nodai Kenangan Indah Kami

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Februari 2016
Jangan Nodai Kenangan Indah Kami

AKU mengenali sosok yang sedang mangayuh jukung menuju arah tumpakan tempatku menunggu.

?Mil, kamu sudah siap?? tanyanya sambil melambaikan tangan.

?Sudah dari tadi,? jawabku sambil merapikan rokku yang kusut.

Fadli tertawa. Jukungnya mulai mendekat. Aku bersiap melompat. Sepatu sandalku yang berhak lumayan tinggi hanya kutenteng di tangan. Aku tak berani ambil resiko, melompat dengan memakainya. Salah mendarat, aku bias terpeleset, dan masuk ke sungai. Alamat pakaian terbagus yang kupunya ini akan basah kuyup. Padahal aku selalu berhati-hati menjaganya. Jarang kupakai kecuali pada saat-saat istimewa. Seperti saat ini.

Hari ini hari istimewa bagi kami berdua. Tepatnya tiga tahun lalu aku dan Fadlibersepakat untuk menjalin cinta, saling saying dan saling setia. Kalau tahun-tahun yang lalu kami tak pernah merayakannya. Maklum, kami bukan golongan orang-orang yang setiap tahun selalu merayakan hari-hari istimewa mereka. Kami Cuma penduduk kampong yang sederhana. Bagi kami uang dan waktu sama berharanya. Sayang bila dihamburkan untuk hal-hal yang tidak jelas manfaatnya.

Walaupun demikian, sesekali kami ingin juga melakukan refreshing. Terlepas dari kerutinan tugas sehari-hari. Setiap hari bergulat dengan cucian berbakul-vakul, membuatku bosan juga. Kerjaku memang mencucikan pakaian orang lain sekaligus menyertrikanya. Kerja yang sangat melelahkan memang. Tapi hanya itu keahlianku sebagai tamatan SMP.

Setiap hari, pagi-pagi sekali aku berkeliling ke rumah para langganan, mengambil cucian mereka yang berbakul-bakul. Membawanya ke rumah, mencucinya di Sungai Martapura. Lalu menjemurnya di tali-tali jemuran yang terbentang di sekitar rumahku. Beruntung, di daerah pinggiran Sungai martapura ini matahari biasa bersinar terik, terutama pada musim kemarau, dan angin yang berhembus cukup kencang ikut membantu mengeringkan pakaian-pakaian itu dengan cepat. Setelah kering, aku menyetrikanya dengan setrika arang peninggalan orangtuaku.

Hasilnya lumayanlah, bias bantu mengepulkan asap dapur kami dan membantu biaya sekolah adik-adikku yang lima orang. Aku anak tertua. Bapak meninggal ketika adik-adikku masih sangat kecil. Sedang ibu sudah kerepotan mengurus rumah tangga sekaligus mengurus adik-adikku yang sedang nakal-nakalnya. Jadi akulah satu-satunya tmpuan harapan. Beruntung, dua asikku yang sudah agak besar ikut membantu. Yang laki-laki menjadi loper Koran, yang perempuan berjualan kue.

Kebetulan hari ini, pakaian kotor yang diberikan langgananku tidak sebanyak biasanya. Aku bekerja lebih pagi agar cepat selesai. Sedang untuk menyetrikanya, Itah, adikku menyanggupi mengerjakannya sendiri. Aku senang, ternyata dia bias mengerti keinginanku. Setelah pekerjaanku selesai, aku cepat bersiap dan menunggu kedatangan Fadli, yang akan menjemputku untuk berjalan-jalan keliling kota.

?Wah, kamu cantik sekali, Mil!? puji Fadli sambil memandangku kagum.

Aku tersipu. Sebenarnya aku ingin memuji. Dia juga tampak gagah hari ini. Agaknya dia pun memakai pakaian terbagusnya, celana jeans hitam dan kemeja biru kotak-kotak. Rambutnya disisir klimis. Rapi sekali. Tak seperti biasanya yang selalu berantakan dan seadanya.

?ayo kita pergi!? kataku.

Fadli mengangguk. Aku melompat ke jukung, dan duduk di bagian tengah. Kami duduk berdahapan. Fadli berceloteh, bercerita tentang pekerjaannya sebagi buruh di sebuah pabrik lampit. Aku diam saja. Bukan karena mendengarkan ceritanya, tapi aku melihat gayanya bercerita. Kocak! Cerita yang sebenarnya tidak lucu pun menjadi sangat lucu bila Fadli yang bercerita. Mungkin itulah yang membuatku jatuh cinta padanya. Bersama Fadli, hidup yang berat dank eras ini terasa ringan dan menyenangkan.

?Kamu melamun saja, Mil. Kita sudah hamper sampai, nih.?

Aku menoleh ke belakang. Benar, banguan Mitra Plaza sudah terlihat dari sini. Memang ke sanalah tujuan kami, salah satu plaza yang paling banyak dikunjungi orang. Sebenarnya ada beberapa plaza lagi di kota ini, tapi paling popular adalah Mitra Plaza. Mungkin karena di sini lebih lengkap, took-tokonya komplit, dari department store sampai supermarket, dari took kaset sampai took buku, bahkan ada bioskop dan taman bermain anak segala. Tidak heran bila setiap hari Plaza ini selalu diserbu ratusan orang, yang ingin belanja ataupun yang hanya sekedar ngeceng, melihat-lihat sambil cuci mata. Seperti kami saat ini. Walau bagaimanapun, barang-barang yang dijual di sana masih di luar jangkauan kantong kami.

Kami sudah mendekati bangunan.

?Kita tambatkan jukung di sini saja!? kata Fadli sambil berhenti tepat di bawah jembatan Sudimampir.

Kami pun naik. Mitra Plaza ini memang didirikan di daerah pinggiran Sungai Martapura, sebelum jembatan Sudimampir. Kulihat banyak orang di bagian mainan anak-anak yang terletak paling pinggir, dekat sungai. Rupanya, walau masih siang, ada saja orang tua yang membawa anaknya bermain-main di sini. Apalagi sore nanti, saat orang-orangtua punya waktu banyak untuk menamni anak-anaknya bermain.

?Ayo, kita langsung naik saja!? Fadli menggamit tanganu, mengajakku naik lewat escalator alias tangga berjalan. ?Kita lihat-lihat ke lantai paling atas dulu.?

Aku mengangguk, dan mengikuti langkahnya.

?

?

?

?Bagus, ya!? kataku pada Fadli sambil menunjuk sebuah arloji cantik yang dipamerkan di etalase.

Fadli menganggu. ?Kamu ingin memegangnya? Kamu bias meminta pada pramuniaga.?

Aku menggeleng cepat.

?Nggak ah! Kita kan tidak beli.?

?Kalo sekedar pegang, tidak perlu bayar.?

?Memang, tapi aku malu,? jawabku.

Sebenarnya aku ingin? sekali mengelusnya. Agaknya arlohi itu disapuh emas. Bahkan beberapa batu mengkilap ikut menghiasinya. Mungkin berlian. Itu yang membuatku takut untuk memegangnya. Bagaimana kalau aku enggan untuk melepaskannya lagi? Barang-barang mewah seperti itu hanya bias kumiliki dalam mimpi.

?Sudahlah, Mil!? fadli coba menghiburku. ?Bila aku dapat rezeki lebih, pasti akan kubelikan jam itu untukmu.?

Aku tersenyum kecut mendengar hiburannya. Seandainya uang itu adapun, aku akan berpikir kembali untuk membeli arloji itu. Lebih baik uang itu digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat.

?Aku capek. Kita turun, yuk!?

Fadli mengangguk. ?Kita istirahat sambil minum es di warung seberang.?

Kami turun, lalu menyeberang melalui jembatan penyeberangan. Di sana banyak rombong-rombong yang menjual makanan dan minuman. Kami singgah di salah satunya. Fadli memesan dua gelas es kelapa.

Sambil menghrup es kelapaku, aku memandang Mitra Plaza. Keindahan arloji cantik tapi kembali membayang di benakku. Akh, seandainya saja? Aku berkhayal sendiri.

?

?Kak? Kak Milah!? Itah, adikku memanggilku sambil terengah. ?Ada kerusuhan, Kak!? Aku hanya menolehnya sebentar, kemudian meneruskan setrikaanku yang tinggal beberapa lembar lagi. ?Di mana??

?Di mana-mana, Kak.?

Fahiku berlipat mendengar jawabannya. ?Di mana-mana??

?Itulah, Kak. Di setiap sudut kota ini tersebar para perusuh. Mereka semua membawa senjata tajam. Bahkan tak segan untuk melukai penduduk yang tidak menuruti kemauan mereka.?

?Ya, Tuhan!? Kurasakan wajahku langsung pucat pasi. ?Ke mana yang lain? Kifli, Rizki, Tifah dan Fahri? Cepat panggil mereka! Cari ! Suruh pulang!?

Itah mengangguk. Dia baru akan pergi ketika aku mencegahnya.

?Tidak usah! Kamu di rumah, jaga ibu! Biar Kak Milah yang mencari mereka,? kataku.

Itah menurut.

Aku bergegas keluar. Kulihat suasana memang tidak seperti biasanya. Ada ketegangan di mana-mana. Di beberapa tempat kulihat orang-orang berbaju sama, lengkap dengan segala atribut dan senjata tajam. Wajah mereka Nampak beringas dan brutal. Pasti merekalah yang dimaksud sebagai perusuh.

Untung aku tidak membiarkan Itah yang pergi. Dia pasti ketakutan melihat keadaan seperti ini. Aku langsung menuju tempat-tempat yang biasa dikunjungi aik-adikku. Dalam hati tak hentinya aku berdoa untuk keselamatan mereka. Ternyata doaku terkabul. Satu-satu aku menemukan mereka, tak kurang suatu apa. Namun di wajah mereka tergambar ketakutan yang amat sangat. Cepat mereka kugiring pulang.

?

Apa yang sebenarnya terjadi...? Kejadiannya ada di sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7880/sepanjang-sungai-barito

  • view 82