Tiga Hati Menguak Kabut

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Februari 2016
Tiga Hati Menguak Kabut

Guntur

TIDAKLAH sulit menemukan orang yang kucari. Ketika kusebut namanya pada seorang cewek yang kutemui di kampus ini, dia mengangguk menandakan mengenal orang yang kumaksud.

?Kayaknya dia masih rapat SEMA di aula,? kata cewek itu sambil menengok ke sebelah barat. ?Oh, keliatannya sudah selesai. Itu, orangnya yang berkemeja kotak-kotak biru dan bercelana hitam.

Aku memandang arah yang ditunjuknya. Serombongan mahasiswa tampak baru keluar dari sebuah ruangan. Mereka masih asyik bercakap-cakap. Salah seorang di antaranya memang ada seorang cowok berkemeja kotak-kotak biru.

?Terima kasih,? desisku pada cewek yang memberitahu. Kuberikan senyum manisku padanya.

Aku melangkah, mendekati rombongan. Diam-diam aku mengamati cowok berkemeja kotak-kotak itu. Badannya sedang saja, ukuran rata-rata untuk cowok Indonesia. Rambutnya berombak, pendek dan tersisir rapi. Dia menyandang ransel lusuh di pundaknya. Tak ada yang istimewa, nilaiku sekilas.

Beberapa orang dalam rombongan menghentikan percakapan ketika aku makin mendekat. Hanya cowok itu dan dua temannya yang tampak terlibat pembicaraan cukup serius sehingga tidak terusik kedatanganku.

?Maaf!? Aku berusaha menyela mereka. ?Kamu Iskandar Ilyas, bukan??

Kini semua rombongan menatapku. Termasuk cowok berbaju kotak-kotak biru. Tampaknya dia berusaha mengenaliku.

?Ya, benar. Apakah kita saling mengenal??

Aku tersenyum, mengulurkan tangan. Ragu dia menyambut.

?Ya dan tidak. Tepatnya belum secara langsung. Namaku Guntur Pratama.?

Mendengar namaku, kerutan keheranan di wajah Iskandar agak berkurang. Rupanya namaku tidak asing baginya. Tentu saja. Ratih pasti pernah bercerita tentang aku padanya.

?Kamu ada perlu denganku? Bagaimana kalau kita bicara di kantin saja??

Aku mengangkat bahu. ?Bicara di mana saja tak masalah. Tapi kalau kamu pikir di kantin lebih nyaman, mengapa tidak??

Iskandar pamit pada teman-temannya. Aku memberikan senyumku pada mereka sebelum mengikuti Iis, begitu cowok itu menurut Ratih. Kami sampai di kantin yang dimaksud Iis. Tempatnya sederhana saja, sekedar tempat bersantai para mahasiswa untuk menanti jam kuliah berikutnya. Aku melemparkan senyum kepada beberapa pasang mata yang menatap kami.

?Kamu mau minum?? tanya Iskandar padaku.

?Boleh. Yang ringan saja.?

Iis mengangguk. Dia memesan dua minuman kepada pelayan.

?Ada yang bisa kubantu??

Aku tersenyum. Kaku sekali cara bicara orang ini. Seperti sedang menghadapi ?job interview? saja. Dia tak bisa menyembunyikan ketegangannya setelah mengetahui siapa aku.

?Tak ada yang penting sebenarnya. Semula aku cuma kenal kamu lewat cerita Ratih. Lalu aku ingin mengenalmu secara langsung. Itu saja.?

Iis menatapku. Aku balas menatapnya. Kupikir aku tak perlu menutupi lagi. Ketegangan seakan mengalir di antara tatapan kami. Ketegangan yang hanya kami yang mengetahuinya.

Tiba-tiba Iskandar menghela nafas. Berat.

?Apa itu salah?? tanyaku lagi.

Iskandar menggeleng. Lemah.

?Tidak,? jawabnya setengah berbisik.

Kembali aku tersenyum. Semula aku sempat penasaran juga, seperti apa sebenarnya cowok yang telah menggantikan tempatku di hati Ratih. Setelah mengenalnya, aku boleh merasa lega. Bahkan setelah adu ketegangan beberapa saat, aku merasakan keraguan dalam diri Iskandar.

Agaknya aku telah menang satu poin, pikirku optimis.

Ratih

?GUN?? Aku mendongak kaget. ?Di mana kamu bertemu dengannya? Bukankah kalian belum saling mengenal, bagaimana mungkin??

?Sebenarnya bukan bertemu, tapi dia mencariku di kampus.?

Aku mengerjap. Gun menemui Iis di kampus? Mau apa dia?

?Katanya, dia ingin berkenalan langsung denganku. Karena selama ini dia hanya mengenalku melalui cerita-ceritamu.? Iis menjawab seakan mendengar pertanyaan yang bergaungan di benakku.

Aku mendesah, menyesali tindakan Gun. Sungguh bodoh! Kenapa dia melakukannya? Seharusnya dia tak boleh menemui Iis. Tidakkah dia mengerti tindakannya akan memancing kekeruhan di air yang semula tenang dan jernih? Bahkan aku sendiri tak pernah menyinggung soal kedatangannya kepada Iis.

Setelah bertahun hilang tanpa jejak, meninggalkanku dengan hati penuh goresan luka, tiga bulan yang lalu Gun dengan tiba-tiba muncul di hadapanku. Hampir aku tak percaya melihat sosoknya yang tinggi tegap itu langsung merangkulku dengan kehangatan rindu yang menggebu.

?Kamu makin cantik saja, Tih,? ucapnya tanpa basa-basi. ?Kecantikan yang dewasa dan matang. Kamu bukan lagi Ratih yang polos dan kekanakan seperti dulu.?

Aku tersipu mendengar pujiannya. Apalagi ketika matanya tak mau lepas dari wajahku, membuatku semakin jengah saja. Namun jauh dalam lubuk hatiku, aku bangga.

?

Mohon maaf, cinta segitiganya berlanjut ke sini, ya...!

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7805/kinanti

  • view 82