Pelanggan

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Februari 2016
Pelanggan

?KE mana Bu Atun??

Pertanyaan seperti ini sudah diperkirakan Murti sebelumnya. Pertama dilontarkan Bang Jali, tukang becak langganan mertuanya, saat dia naik bersama tumpukan buah dan sayur yang akan diangkut ke Pasar Hanyar.

Memang, biasanya Bu Atun alias mertuanya yang berdagang sayur di pasar. Sementara dia khusus mengurusi keperluan rumah beserta ketiga anak-anaknya. Pembagian tugas yang mereka sepakati setelah meninggalnya Bang Fadil, suaminya, sekitar tiga tahun lalu.

?Ibu sakit,? jawab Murti sambil memberi isyarat agar becak segera dikayuh.

?Sakit apa??

?Entahlah!? Murti setengah mendesah. ?Mungkin kecapekan, perlu istirahat. Maklum, sudah tua!?

?Sudah ke dokter??

Murti tak langsung menjawab. Dalam hati dia bertanya-tanya, apa setiap hari Bang Jali memang se-nyinyir ini bila membawa mertuanya? Mungkin juga. Karena mertuanya memang suka bicara. Beda dengan dia yang lebih banyak dan suka diam, kecuali diperlukan. Terlebih bila dengan orang yang tidak terlalu dikenalnya. Seperti Bang Jali ini misalnya.

?Sudah minum obat,? jawabnya pendek.

Untung, setelah itu Bang Jali tidak bertanya lagi. Agaknya, dia menangkap keengganan di nada jawaban Murti. Makanya, dia memilih menutup mulut sampai becak mereka sampai ke tempat tujuan. Becak berhenti tepat di blok tempat lapak Bu Atun.

Suasana pasar lumayan ramai. Sudah cukup banyak pedagang yang datang dan membenahi tempat dan barang dagangan mereka. Murti bergegas turun. Bang Jali ikut membantu menurunkan sayur-mayur dari becak.

?Eh, Murti!? Mama Arif, pedagang ayam di samping lapaknya menyapa. ?Bu Atun mana??

Pertanyaan kedua. Murti tersenyum tipis. ?Sakit.?

?Benarkah? Pantas saja kemarin kelihatan pucat. Sakit apa??

?Saya tidak tahu pasti. Yang jelas agak demam dan pusing. Tapi sudah minum obat,? jawab Murti sambil memberi ongkos pada Bang Jali yang segera pamit pergi.

Murti kemudian sibuk membenahi dagangannya. Demikian juga Mama Arif dan pedagang lainnya. Sebentar kemudian, pembeli mulai berdatangan. Pasar semakin hiruk pikuk. Beberapa langganan singgah dan bertanya tentang mertuanya. Entah berapa kali Murti harus memberi jawaban dan penjelasan yang sama.

Sebentar saja, dagangan sayur-mayurnya sudah habis. Ternyata, mertuanya punya banyak langganan sehingga cepat laku. Namun, saat Murti menghitung uang yang diperolehnya, kelegaannya sirna. Dengan bermacam sayur sebecak penuh, ternyata uang yang dikumpulkan tidak seberapa. Memang ada untungnya, tapi sangat tipis. Paling hanya cukup untuk belanja sehari ditambah kelebihan sedikit.

Pantas saja, Ibu Mertuanya sangat perhitungan memberikannya uang belanja rumah tangga maupun keperluan untuk anak-anaknya. Semula, Murti sempat menganggapnya pelit. Karena dia melihat sayur-mayur yang dijual banyak. Dia kira pendapatannya juga besar.

Ah, tidak! Pasti ada yang salah dalam hal ini. Harus dilakukan perbaikan agar nasib mereka ada perubahan. Harus ada terobosan baru untuk melipatgandakan pendapatan.

Keesokan harinya, Murti meminta Bang Jali menjemputnya lebih pagi. Demikian juga petani sayur yang jadi pemasok dagangannya, diminta mengantar lebih pagi. Bahkan, sebagian ada yang dia ambil sendiri, malamnya. Makanya, sesudah subuh, Murti langsung berangkat.

Dia sudah meminta Rahayu, putri sulungnya yang berusia 10 tahun, mengurus adik-adiknya serta neneknya yang sedang sakit. Untung, anak itu mengerti kesulitan mereka sehingga tidak membantah sedikitpun perintahnya.

Pasar masih sepi dan gelap ketika dia sampai. Hanya beberapa pedagang yang tampak sudah datang. Tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya, Murti langsung bekerja. Kali ini dia tidak hanya membenahi sayur-mayur dengan cara menyusun di lapaknya, tetapi juga mengikat ulang beberapa sayur. Isi ikatan dikurangi, sehingga ikatan yang didapat dua kali lebih banyak. Karena Murti menganggap, inilah salah satu penyebab, mengapa dagangan mereka selama ini tidak bisa untung banyak.

Ketika menjual pun, harga yang ditawarkannya lebih mahal dari yang seharusnya. Beberapa pelanggan sempat juga protes.

?Masak lebih mahal dari kemarin? Mana ikatannya lebih kecil lagi?? ujar seorang Tachi setengah baya tertubuh gempal.

?Harganya memang segitu, Chi. Ikatannya sama kok dengan kemarin. Perasaan Tachi saja lebih kecil,? ujar Murti setengah gondok.

Meski mereka berusaha menawar, Murti berkeras. Sebagian mereka ada yang akhirnya tetap membeli, sebagian lagi tidak jadi. Namun satu pelanggan yang kelihatannya sama sekali tidak terpengaruh dengan harga lebih mahal yang ditawarkan. Dia wanita muda, berbusana muslim lengkap dengan jilbab warna netral. Dengan enteng dia memborong beberapa macam sayur yang dijual. Seandainya semua pelanggan seperti dia, pasti pedagang kecil cepat kaya.

?Jangan pasang harga terlalu tinggi, Ti! Nanti pelanggan lari!? nasihat Mama Arif yang rupanya juga memperhatikannya.

?Ah, tidak, kok,? jawab Murti acuh. Apa pula kepentingannya mencampuri urusanku? Apa dia tidak tahu, kebutuhan hidup sekarang memang serba mahal?

Hari kedua, dagangan Murti tersisa seperempatnya. Namun dia sama sekali tidak kecewa. Pasalnya, penghasilan yang didapatnya jauh lebih banyak dari kemarin. Sementara sisa sayur bisa dia bawa pulang dan simpan di kulkas, untuk dijual keesokan harinya atau dimasak sendiri.

Hari ketiga, pembeli mulai jarang menghampiri dagangannya. Hanya beberapa orang yang sempat terkejut mendengar harga yang ditawarkannya. Satu saja yang membeli tanpa komentar. Wanita muda berjilbab yang jadi pelanggan setianya. Akibatnya, dagangannya tersisa hampir setengahnya.

Was-was Murti menghitung uang hasil penjualan. Dia masih bisa tersenyum, karena dia masih mendapat untung. Lagipula, esok harinya, dia tak perlu membeli banyak sayur. Cukup menjual sayur yang tersisa.

Hari keempat, pembeli hanya lewat saja di depan lapak Murti. Paling hanya melirik sedikit, sudah itu berlalu begitu saja. Ada beberapa pembeli--- termasuk wanita berjilbab. Jumlahnya bisa dihitung jari. Untuk hari itu, terpaksa Murti kembali membawa pulang sisa sayuran. Lebih dari setengahnya.

***

?KENAPA banyak membawa sisa sayuran pulang, Ti?? tanya Ibu Mertuanya saat dia menyusun sisa sayuran di dalam kulkas.

?Pasar sepi, Bu. Pembelinya jarang,? jawab Murti asal-asalan.

?Jangan ngawur, Ti! Puluhan tahun ibu berjualan di pasar. Ibu tahu kapan saat-saat pasar sepi. Hanya beberapa hari dalam setahun. Saat seperti itu bukan sekarang.?

Murti mengangkat bahu. ?Terserah bila Ibu tidak percaya.?

Bu Atun menghela nafas. ?Ti, ibu tadi bertemu Mama Arif di jalan. Dia bercerita tentang caramu berdagang.

?Oh, jadi ibu lebih percaya aduan Mama Arif daripada saya?? Suara Murti meninggi.

?Kalau tidak melihat kenyataan ini, tentu ibu lebih mempercayaimu. Murti, kita berdagang tidak sekedar untuk mencari untung,? tutur Bu Atun sabar.

?Lalu?? Suara Murti masih tinggi. ?Hanya untuk bercapek-capek badan dan akhirnya sakit seperti ibu? Sementara yang kita dapatnya hampir tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari??

?Tapi, Ti??

?Ah, sudah! Bila ibu tidak suka cara Murti berdagang, biar Ibu saja yang jualan. Karena sementara ini Murti yang melakukan, maka biar Murti gunakan cara Murti sendiri. Ibu tidak usah mencampuri. Lihat saja, banyakan mana pendapatan Murti selama beberapa hari dengan penghasilan dagangan Ibu selama sebulan!?

Murti beranjak dari dapur. Bu Atun hanya bisa mengelus dada melihat tingkah menantunya. Sayang, tubuhnya masih lemah. Seandainya tidak, mungkin dia akan kembali berjualan. Dia sama sekali tak mau langganannya dirugikan.

Apa yang dilakukan Murti selanjutnya? Bagaimana juga reaksi Bu Atun?

Kisahnya lanjut ke sini...?

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7359/sayap-sayap-terluka

  • view 90