I Miss You

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Februari 2016
I  Miss You

ANAK baru itu kece. Siapapun mengakuinya. Jangankan cewek-cewek, para cowok pun terpesona. Jangankan murid, guru pun terkesima. Kelas ini bagai kedatangan Andre Agassi kesasar.

Fariz, nama anak baru itu. Selintas kilas emang mirip Andre Agassi. Terutama alisnya yang tebal dan bola matanya yang coklat kelam. Bedanya Andre jagoan tennis, sedang Fariz lebih demen ngejar-ngejar bola basket. Andre bule, sedangkan Fariz Indonesia asli, paduan Menado dan Melayu. Yang jelas Fariz nggak gondrong. Soalnya bisa ketangkap razia.

Sekejap saja Fariz sudah jadi perhatian. Dia masuk bersamaan dimulainya tahun ajaran baru. Diantar Pak Basuki ke kelas II sosial dua.

Anak-anak yang sedang asyik ngegosipin liburannya langsung terpana. Mereka pikir, ngapain Andre Agassi ke sini, bukannya ikut turnamen Grand Slam? Lagian perasaan di sekolah ini belum ada lapangan tenisnya. Jadi nggak mungkin diadakan turnamen tennis ?SMA Sweet Seventeen Terbuka?. Adanya lapangan basket yang bisa disulap jadi lapangan voli sekaligus tempat upacara bendera. Ada juga lapangan bola, tapi udah keluar lingkungan sekolah. Seberang sana ada stadion.

Setelah Pak Basuki menjelaskan, baru mereka mengerti. Fariz diserbu. Mereke berebut menyalami. Terutama cewek-cewek. Sampai tarik-tarikan segala. Fariz kewalahan melayani mereka.

Pak Basuki hanya geleng-geleng kepala. Sebelum pergi beliau sempat menginstruksikan anak-anak untuk menyusun bangku karena acara belajar-mengajar akan segera dimulai.

Lagi-lagi anak-anak berebut, menawari Fariz duduk berdua. Cewek-cewek bergenit-ria, setengah merayu setengah memaksa agar Fariz mau duduk dengannya. Fariz cuma tersenyum menanggapinya.

Bel istirahat berbunyi. Fariz belum memutuskan duduk dengan siapa. Dia malah ikut rombongan anak cowok ke kantin. Diam-diam beberapa cewek mengikuti dari belakang. Mereka jajan sambil bercanda. Fariz selalu jadi perhatian.

?Anak terpandai di kelas kita siapa?? bisik Fariz pada Danang yang duduk di sebelahnya ketika anak-anak lain asyik tertawa-tawa.

?Dara,? jawab Danang heran.

?Anaknya yang mana??

Danang menoleh ke sana ke mari. ?Nggak ada di sini. Itu tuh, yang duduknya di meja depan, dekat guru. Yang rambutnya lurus panjang suka dikuncir satu, pake kacamata.?

Fariz mengangguk mengerti.

?Kenapa?? Danang penasaran.

Fariz tersenyum misterius.

Setelah kembali ke kelas, baru Danang mengerti. Fariz menenteng tasnya, menghampiri Dara yang duduk sendiri, asyik membaca.

?Kamu sendiri?? tanya Fariz.

Dara kaget. Lebih kaget lagi ketika melihat makhluk yang berdiri di samping kursinya. Agaknya makhluk inilah yang tadi bertanya.

?I? ya!? suara Dara gugup karena dari tadi Fariz tak juga melunturkan senyumnya. Senyum itu.. ala, mak!

?Boleh aku duduk di sini??

Kalau saja punya korek kuping, pasti Dara mengorek kupingnya, saking tidak percaya. Apa katanya tadi? Dia mau duduk di sini? Apa tidak salah? Sementara selusin cewek cantik dan centil menawarkan bangkunya, Fariz malah minta diizinkan duduk di sampingnya.

Dara bingung. Dia merasa berpasang-pasang mata menatap tajam. Ada bermacam nada terkandung di dalamnya. Iri, sirik, dengki, itu paling dominan. Dari barisan cewek yang menawari Fariz kursi tentunya. Dara jadi nggak enak hati.

Tapi senyum yang terus menghias bibir Fariz itu membuatnya tak sanggup untuk menggeleng. Dia nggak mau Fariz kecewa, apalagi marah.

Akhirnya Dara mengangguk. Abis, masak mau ngelarang orang duduk sedang orang itupun bayar SPP seperti dirinya? Itu kan haknya.

Senyum Fariz tambah lebar. ?Terimakasih.?

Dara menggeser duduknya dekat jendela. Dia mengeluh dalam hati. Senyum Fariz harus dibayar dengan cibiran bahkan gerutuan dari cewek-cewek yang memandang mereka.

***

?GILA! Sepuluh?? Fariz terbelalak memandang kertas ulangan Bahasa Jerman Dara yang baru dibagikan.

Dara cepat menyembunyikannya ke tas. ?Kebetulan,? jawabnya ringan.

?Kebetulan?? Fariz mengangkat alis. ?Kemarin ulangan Bahasa Inggrismu dapat sembilanlima, sejarah delapanlima, ekonomi sembilan. Sedang aku dan teman-teman lain, rata-rata di bawah enamlima.?

?Kebetulan. Kalo matematika, aku sama begonya.? Dara berkeras. ?Cuma dapat limalima.?

?Iya. Tapi yang lain di bawah tiga.?

Dara diam. Nggak ada gunanya ngotot. Lebih baik mempersiapkan pelajaran berikutnya. Entar Ekonomi. Biasanya Pak basuki suka memberi pertanyaan sebelum melanjutkan pelajaran.

Fariz ikut diam. Pak Basuki masuk. Anak-anak mengikuti pelajaran dengan tekun. Pak Basuki memang guru favorit. Cara mengajarnya enak, nggak tegang. Santai tapi serius. Serius tapi santai.

?Ra,? panggil Fariz ketika Pak Basuki keluar sebentar. Dara yang sedang mengerjakan soal yang ditinggalkan mengangkat wajah.

?Sore aku ke rumahmu, ya??

?Hah?? Dara terperanjat. ?Ngapain??

?Ajari aku, Ra! Kita belajar sama-sama, ya?? bujuk Fariz memelas.

Dara ingin menolak. Fariz terus mendesak. Akhirnya Dara mengiyakan. Dia tidak menemukan alasan untuk menolak sampai Pak Basuki masuk lagi.

***

SEJAK itu mereka akrab. Ke mana-mana sering berdua. Di mana ada Fariz, di situ ada dara. Begitu pula sebaliknya.

Semula Dara jengah juga menghadapi tatapan iri, sindiran-sindiran, cibiran maupun cerita-cerita aneh tentang mereka. Tapi melihat Fariz bersikap wajar dan nggak ambil peduli, Dara memilih bersikap sama. Lama-lama dia jadi terbiasa.

Pada mulanya kebersamaan mereka cuma untuk hal-hal yang berhubungan dengan pelajaran dan sekolah. Belajar bersama, bikin PR bersama, diskusi. Lalu merambat ke perpustakaan wilayah bersama, ke toko buku bersama. Kalau jenuh, Fariz ngajak Dara jalan-jalan, nonton film, makan-makan. Bahkan belakangan Dara sering ikut kegiatan Fariz lainnya, antara lain; latihan basket, nonton pertunjukan, remaja mesjid, kursus komputer, atau les musik.

?Daripada bengong di rumah,? begitu bujuk Fariz selalu.

Dara pikir, ada benarnya juga. Kalau dulu dia beranggapan sering ke luar rumah itu nggak ada gunanya dan buang-buang waktu saja. Sekarang tidak lagi. Kalau keluarnya untuk kegiatan positif, tentu sangat berguna. Pengetahuan jadi lebih luas, nggak melulu tahu pelajaran dan sekolah saja.

Usaha mereka nggak sia-sia. Ketika raport semester lima dibagikan, nilai-nilai mereka sangat memuaskan. Dara tetap duduk di rangking teratas dengan IP delapan koma duaempat. Fariz secara mengejutkan langsung menembus lima besar, menduduki rangking empat.

Ini membuat orang makin iri saja.

***

?KOK, telat?? tanya Dara pada Fariz yang bergegas masuk dan melempar tasnya. Bel sudah berdentang beberapa menit lalu.

Fariz menghempaskan pantatnya sambil menghembuskan nafas lega, karena Pak Arman belum tiba. ?Kesiangan aku,? keluhnya. ?Terlalu capek main tadi malam.?

Dara memandang Fariz. Memang ada sisa-sisa keletihan di wajah cowok itu. Matanya masih merah. Mungkin karena kaget, sedang nyenyak tidur dibangunkan. Kasihan!

Tadi malam Fariz menelpon Dara. Mengajak nonton pertandingan final klub basket yang diperkuatnya. Dara menolak. Pulangnya terlalu malam, sedang besok bukan hari libur. Papa pasti nggak mengizinkan. Apalagi dia mau belajar. Pak Arman janjinya mau ulangan.

?Gimana basketnya tadi malam??

?Payah! Kalah. Lawan terlalu tangguh. Tapi tipis. Kami melawan dengan gigih,? jawab Fariz bangga.

Fariz celingak-celinguk. Bingung melihat teman-temannya kelihatan rajin semua. Masing-masing nggak mau pisah dengan buku. Ada yang lagi nulis. Ada yang lagi baca. Tapi tetap aja rame kayak pasar malam.

?Ada apa, sih? Ada PR apa??

Dara mengangkat wajah. Iya, tadi malam dia lupa mengingatkan Fariz, hari ini ada ulangan Geografi. Baru setelah telepon ditutup, dia ingat. Ditelepon balik, Fariz sudah kabur ke gelanggang remaja. Dia titip pesan pada Arief, adik Fariz. Barangkali nggak sempat disampaikan.

?Ulangan, Riz,? jawab Dara.

?Hah?? Fariz terperanjat. ?Ulangan apa??

?Geografi. Sori, tadi malam aku lupa mengingatkan. Tapi udah pesen sama Arief. Disampein??

Fariz menggeleng lesu. Habislah sudah! Capek, kalah, hari ini ulangan lagi. Padahal dia nggak sempat buka buku sama sekali. Bakal ada delapan nyengir lagi menghiasi kertas ulangannya. Geografi kan bukan pelajaran gampang. Semester kemarin saja Dara mati-matian mengajarinya tentang Tata koordinat Bumi sehingga memperoleh nilai tujuh di raport.

Nah, lho...? Bagaimana nasib Fariz kemudian? Bisakah dia mengerjakan soal ulangan? Bagaimana kelanjutan hubungan dengan Dara...?

To be continue di sini, ya...!

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7570/don-robinson

  • view 90