Jujuran

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Februari 2016
Jujuran

USAI shalat Subuh, Radiah membereskan mukenanya. Cepat-cepat dia menuju dapur. Dia mengamati berbagai jenis kue di atas nampan yang tersusun di lantai. Dalam hati dihitungnya. Ada kurang lebih lima belas macam kue, semuanya kue khas Banjar, ada pais pisang, untuk-untuk, cucur, cincin, roti pisang, lapat, bolu, dan masih ada beberapa kue lainnya. Selain itu ada juga pundut nasi, buras, dan nasi kuning bungkus.

Semua sudah lengkap, pikirnya. Dia memanggil Iman, adiknya yang baru bangun untuk membantu mengangkat kue-kue tersebut, dan menyusunnya di jukung rombongnya. Setelah itu, baru Radiah mengayuh jukungnya menuju

Pasar Terapung yang terletak di Muara Kuin agar jajanan yang didagangkannya laku dibeli pengunjung yang memadati pasar Terapung.

Beginilah kerja Radiah setiap hari. Sejak Abahnya meninggal, Radiah terpaksa berhenti sekolah, kendati hanya sampai tamat SMP. Mamanya yang hanya menjadi kuli cuci dan setrika takkan mampu menanggung biaya sekolah 4 anak sekaligus. Boro-boro biaya sekolah, biaya hidup sehari-hari mereka saja kembang kempis. Maklum, Abah cuma buruh swasta. Jadi, sepeninggalnya, tidak ada istilah uang pensiun yang diwariskan. Terpaksa Radiah berinisiatif untuk ikut mencari nafkah.

Untung mereka punya jukung. Walau tua tapi masih kuat, karena terbuat dari kayu ulin kualitas tinggi. Jukung itu disulap menjadi rombong, guna dipergunakan untuk menjajakan aneka jajanan di Pasar Terapung, ditambah berbagai minuman, dari teh, kopi, sampai es campur.

Setiap selesai shalat Subuh, Radiah mengayuh jukung tuanya. Berbagai kue dan jajanan, diambilnya dari beberapa tetangganya yang kebetulan membuat wadai. Tapi untuk bahan minuman, dia menyediakan sendiri. Hasilnya, lumayan untuk? hidup mereka dan biaya sekolah adik-adiknya yang tiga orang. Pasalnya, pengunjung pasar terapung memang sangat gemar makan di rombong. Katanya sih, punya kenikmatan sendiri jajan sambil diayun-ayun gelombang Sungai Martapura.

Sepulang dari Pasar Terapung sekitar pukul? 09:30 Wita, Radiah membantu Mama mencuci pakaian. Dia sering tidak tega bila melihat wanita tercinta itu membanting tulang, mencuci setumpuk cucian di tumpakan depan rumah.

Biasanya, Radiah mencuci dengan air sungai Martapura. Mama membantu menjemur di tali yang sengaja mereka pasang di sepanjang titian pinggiran Sungai Martapura, depan rumah mereka yang sederhana. Namun bukan berarti pekerjaan ini lancar tanpa kendala. Bila musim kemarau, menjemur pakaian di tepi sungai memang menyenangkan, karena cepat kering. Yang jadi kesulitan justru air untuk mencuci, karena bila musim kemarau, air Sungai Martapura biasanya ?hanta? akibat naiknya air laut yang bercampur air sungai, sehingga tidak bagus untuk mencuci.

Sebaliknya, bila musim hujan, air sungai memang bagus, melimpah. Cuma karena sering hujan, mengeringkannya sulit. Meski dijaga setiap saat. Bila mulai gerimis, langsung diangkat, bila mulai terang, baru dijemur lagi. Kadang sampai beberapa kali dijemur dan diangkat.

Lamunannya buyar ketika Iman mengatakan semua kue sudah dibawa ke jukung. Setelah semuanya siap, sambil mengucapkan Bismillah, dia mulai mengayuh jukungnya. Dalam hati dia berdoa, bisa memperoleh rezeki lumayan banyak hari ini. Soalnya sebentar lagi adik-adiknya menghadapi ulangan umum kenaikan kelas. Pasti akan banyak memerlukan biaya untuk bayar SPP, biaya ulangan, dan biaya daftar ulang serta membeli perlengkapan sekolah.

Radiah mendesah. Maaf, Ya Allah! Bukan maksud hamba mengeluhkan karunia dan nikmat yang Kau berikan selama ini kepada kami. Hamba bersyukur, Ya Allah! Karena masih bisa hidup dan masih bisa menyekolahkan adik-adik. Bahkan dua orang adik laki-lakinya juga sudah mulai belajar mencari uang sendiri. Iman menjadi loper koran, Ahmad menjajakan kue dari rumah ke rumah sepulang sekolah. Hanya saja, ada yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Peristiwa seminggu belakangan ini yang membuatnya merenung sepanjang menyusuri sepanjang Sungai Martapura, dari Sungai Bilu, kampung tempat tinggalnya, sampai ke Muara Kuin.

Sekitar lima hari lalu, usai mengikuti pengajian di Mesjid Husnul Khatimah, dekat rumahnya,? dia dipanggil Ustadzah Nurul. Setiap malam, ba?da Magrib sampai Isya, Radiah memang selalu menyempatkan diri ikut pengajian. Hal ini berlangsung sejak? Abah meninggal.

Saat itu Radiah merasa sangat terpukul. Soalnya dia tahu, beban yang dipikul Abah akan berpindah ke pundaknya sebagai anak tertua. Dan dia merasa tidak yakin mampu memikulnya.

Ustadzah Nurul yang juga melayat menghampiri Radiah yang ketika itu hanya duduk di pojok. Dia tak mampu berbuat apa-apa saking shock-nya, kecuali terus-menerus meneteskan airmata. Tangan kanan Ustadzah Nurul kemudian menjabat erat tangan Radiah, dan tangan kirinya menghapus airmata di pipinya.

?Sabar, Anakku. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Jadikan Shalat dan sabar sebagai penolongmu,? ucapnya lembut.

Kalimat itu masuk menembus sanubarinya, bagai busa yang menyerap air. Hatinya tiba-tiba menggigil. Sebuah kesadaran muncul. Kekuatan seolah ikut timbul. Yah, aku harus kuat dan sabar. Bila aku sabar, Allah pasti akan menolong. Setelah itu, Radiah pun rajin mendatangi Ustadzah Nurul di Mesjid, terutama saat digelar pengajian.

Hidayah Allah mulai menerangi kehidupannya. Dia menyadari, begitu banyak yang tercecer dalam kehidupannya. Meskipun dia memeluk agama Islam sejak lahir karena masyarakat Banjarmasin lebih dari 90 persen adalah muslim. Namun sebagian besar hanya muslim KTP. Dia termasuk salah satunya.

Semula Radiah mengira, menjadi orang Islam cukup dengan berbuat baik, tidak berbuat kriminal, dan shalat 5 waktu meskipun asal-asalan, sudah cukup. Dia baru menyadari, Islam ternyata lebih dari sekedar ibadah rutinitas belaka. Islam adalah cahaya yang menerangi kehidupan, bila kita benar-benar menjalankannya dengan kaffah. Dengan menjadi muslim yang kaffah, hidup akan senantiasa tenang dan damai, tanpa ada kekhawatiran dan ketakutan, kendati berbagai kendala kehidupan menghadang. Karena kita bersama Allah, pemilik Semesta Alam.

Sejak itu Radiah mengenakan jilbab dan berusaha selalu meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaannya dengan terus belajar mengaji.

?Radiah, kamu kenal Baihaqi, kan?? tanya Ustadzah Nurul lima hari lalu.

Radiah mengangguk bingung. Dia tahu Baihaqi, dia adalah murid Ustadz Mahmud, suami Ustadzah Nurul yang juga mengelola pengajian, namun khusus untuk laki-laki.

?Bagaimana bila dia berniat menjadikanmu istri? Kamu bersedia??

Radiah tertegun. Baihaqi? Sarjana FKIP murid kesayangan Ustadz Mahmud itu ingin menjadikannya istri? Apa tidak salah? Bukankah masih banyak murid Ustadzah Nurul lain yang jauh lebih pantas dari dirinya? Mereka lebih cantik, lebih terpelajar, dan dari keluarga yang lebih berkecukupan, dan agamanya jauh lebih bagus. Bukannya dia, Radiah, gadis miskin penjual makanan di rombong yang setiap pagi mangkal di Pasar Terapung, hanya lulusan SMP, dan belum genap setahun mendalami Agama Islam.

?Bagaimana Radiah? Kamu bersedia?? tanya Ustadzah Nurul lagi.

?Ulun?. Ulun?. justru tidak percaya. Begitu besar karunia Allah kepada saya. Sungguhkah ulun pantas menerimanya?? Radiah menjawab gugup.

Ustadzah Nurul tersenyum lembut. ?Baiklah, dua tiga hari lagi kami akan datang ke rumah untuk badatang. Jadi, kalian siap-siap saja.?

Yah, tiga hari kemudian Ustadz Mahmud dan Ustadzah Nurul memang datang. Hanya saja, bertepatan sehari sebelumnya, sudah datang keluarga yang lain, yang juga bermaksud sama, keluarga Abdi Hermawan. Mereka melamar Radiah untuk anak kedua mereka, Andre Hermawan.

Radiah mengenal Andre. Meski keluarga Hermawan tinggal di lain kampung, namun Andre sering main ke kampung mereka. Dia punya beberapa teman yang merupakan tetangga Radiah. Andre dan teman-temannya sering nongkrong di pos kampling, genjreng-genjreng main gitar atau main kartu. Bila ada cewek yang lewat, mereka selalu iseng menggoda.

Radiah satu korbannya. Apabila dia lewat di depan pos kamling, pasti mulut mereka gatal. Kalimat mereka nakal dan tidak sopan. Bahkan menyinggung jilbab yang selalu dikenakannya. Radiah sangat tidak suka.

Seandainya keputusan diserahkan kepadanya, dengan mantap Radiah akan memilih Baihaqi. Meski Andre dari keluarga terpandang, tapi prilakunya tidak mengundang simpatik. Radiah tidak menginginkan suami seperti itu.

Dia ingin suami yang bisa membimbingnya lebih dekat dan mencintai Allah. Namun lain lagi pendapat keluarganya. Tadi malam dia mendengarkan beberapa anggota keluarganya berembuk, membicarakan masalah dua lamaran yang sama-sama menginginkan Radiah. Mereka adalah saudara-saudara Abah, saudara-saudara Mama, Nini--- dari orangtua Mama, Kai Imad dari orangtua Abah yang kebetulan masih hidup namun tinggal di Kandangan, Hulu Sungai Tengah. Selain itu ada beberapa keluarga lain yang dianggap tatuha.

Kesimpulan yang mereka ambil sangat berbeda dengan pendapat Radiah. Ya, jelas Andre. Keluarga mereka berada dan terpandang. Andrenya sendiri lumayan gagah, mahasiswa dan hampir lulus katanya.

?Nah, mau apa lagi si Radiah?? ujar Julak Milah. ?Sementara Baihaqi kan hanya anak yatim yang diangkat murid Ustadz Mahmud. Kerjanya pun hanya guru. Tidak sebanding dengan Andre.?

?Benar. Bila Radiah kawin dengan Andre, bukan hanya kehidupannya yang terjamin, juga keluargamu seluruhnya Rahmah. Kamu dan Radiah tidak perlu kerja banting tulang lagi. Pasti Andre tidak keberatan menanggung biaya hidupmu dan ketiga anakmu yang lain,? Angah Jali menambahkan.

Rahmah, Mama Radiah memandang anaknya yang tertunduk. Meskipun tidak bertanya, dia tahu isi hati Radiah. Hanya, dia tak sanggup membantah kata-kata anggota keluarga berusia lebih tua darinya.

?Kalau saya, terserah Radiah saja. Saya tidak keberatan, tetap bekerja keras, asal perkawinan Radiah benar-benar bahagia,? tuturnya.

?Bagaimana tidak bahagia bila mendapatkan orang kaya?? cetus Julak Milah. ?Iya. Tapi bagaimana kita menolak lamaran Ustadz Mahmud? Harus ada alasan yang jelas. Aku tidak mau beliau tersinggung, karena beliau sangat baik dan dihormati di sini,? ujar Kai Imad angkat bicara.

?Gampang. Kita minta saja jujuran yang tinggi. Pasti Baihaqi tidak mampu memenuhinya. Bila bagi Andre sih, jujuran berapapun pasti keluarga Abdi Darmawan tidak akan keberatan,? kata Julak Milah. ?Lagipula kalau jujuran Radiah tinggi, orang pasti akan terkesan, dan kita mampu membuat pesta perkawinan yang lumayan besar.?

?Astaghfirullah?..? Radiah menjerit dalam hati. Dia merasa seperti barang dagangan yang sedang ditawarkan. Padahal, sebenarnya jujuran dalam adat perkawinan masyarakat Banjar merupakan wujud penghargaan calon mempelai pria kepada mempelai wanita, selain mahar yang memang wajib dalam Islam. Kenyataannya sekarang, terjadi pergeseran nilai yang sangat memprihatinkan. Besarnya jujuran seringkali dijadikan sebagai tolak ukur adu gengsi di masyarakat.

?Ya, Allah! Inikah ujian untuk hamba? Tolong bantu hamba mencari jalan keluarnya, ya Allah!? doa Radiah dalam hati.

Tak terasa, dia sudah sampai ke Pasar Terapung. Radiah berusaha menepis keresahan di hatinya. Dia berniat menemui Ustadzah Nurul untuk membicarakan hal ini sepulangnya dari pasar.

Ustadzah Nurul memandang wajah Radiah yang bercerita dengan wajah murung.? Wanita setengah baya itu menghela nafas.

?Kami mengerti kekhawatiran dan kesedihanmu, Nak. Yah, harus dimaklumi, memang masih ada sebagian masyarakat kita yang berpandangan sangat matrealistis, mengira harta akan mampu menjanjikan kebahagiaan. Tapi kita jangan putus asa! Yakinlah, Allah akan menolong kita! Ibu juga akan membicarakan masalah ini dengan Baihaqi dan Ustadz untuk merembukkan jalan ke luarnya. Yang penting, Radiah tetap terus berdoa!?

Radiah mengangguk. Yah, tak ada jalan lain kecuali memohon pertolongan dari-Nya. Mudah-mudahan, Allah memberikan jalan keluar terbaik bagi mereka.

Ustadz Mahmud dan Ustadzah Nurul, serta beberapa pengurus mejid dan pengajian kembali berkunjung ke rumah Radiah. Kali ini yang menghadapi keluarga besar Radiah. Mereka tampaknya siap membuat Ustdz Mahmud tak berkutik dengan penolakan cara halus yang mereka rencanakan, minta jujuran Rp7 juta.

Setelah berbasa-basi, Julak Milah yang memang terkenal pintar bicara di antara mereka mulai menyusun kalimat. Neskipun berputar-putar, intinya tetap saja mengajukan persyaratan jujuran Rp7 juta.

Jujuran Rp7 juta? Radiah hampir tak percaya dengan pendengarannya. Jujuran sejumlah itu tergolong besar bagi masyarakat kampungnya. Karena hanya orang-orang tertentu saja yang mampu memenuhinya. Dadanya tiba-tiba sesak. Dia menatap Ustadz Mahmud dengan mata berkaca-kaca. Namun Ustadz berwajah bening itu tetap tampak tenang, tidak terlihat kaget sedikitpun. Mungkinkah karena Ustadzah Nurul.

Sebelum Ustadz Mahmud menjawab, tiba-tiba Paman Lukman, adik bungsu Abah Radiah, masuk. Pembicaraan terhenti. Paman Lukman langsung menghampiri Kai Imad. Mereka berbisik-bisik. Wajah Kai Imad tampak berubah merah. Entah apa yang disampaikan Paman Lukman.

Suasana hening sesaat, menunggu keduanya selesai bicara.

Bagaimana nasib Radiah selanjutnya? Silakan baca di sini...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7357/betis-indah-ken-diah

  • view 86