Bolos

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Februari 2016
Bolos

?AAAHHH?!? Kiki membanting kesal bukunya. ?Susah banget, sih!?

Ratu yang sempat kaget hanya cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan ujung balpointnya.

?Iya nih, memang sulit!? Suara Soraya mendukung. ?Sudah setengah jam berusaha, tetap saja nggak bisa-bisa.?

?Kenapa sih kita harus belajar menulis lagi? Hurup orang lain pula. Toh, kelak kita takkan menggunakannya. Emangnya mau jadi orang Jepang apa?? Ratu akhirnya ikut menggerutu.

?Salah sendiri, kenapa memilih Jurusan Pariwisata. Akibatnya, ya harus belajar Bahasa Jepang berikut hurupnya. Masih untung kita hanya disuruh menghapal hurup hiragana dan katakana. Kalau ditambah hurup kanji, bisa berabe kita. Kata Bu Linda, jumlahnya ratusan. Sedang untuk hiragana-katakana saja kewalahan.?

?Iya. Nyesal juga aku masuk Pariwisata. Tadinya sih kupikir enak, karena selalu ada program tournya. Tidak terbayang bila harus bersusah payah belajar menulis Jepang. Hurupnya ruwet banget. Mana mirip-mirip lagi. Kok, bisa-bisanya ya Orang Jepang bikin hurup seperti ini. Kenapa nggak bikin hurup yang simpel-simpel saja??

?Sudah, jangan kebanyakan ngedumel! Pokoknya, latihan sambil hapalkan. Nanti lama-lama juga bisa.? Ratu memotong.

Kiki mengambil penghapus dan melemparnya ke arah Ratu. ?Alah, sok lu! Kayak yang sudah bisa aja.?

?Iya, nih!? Soraya merebut buku di hadapan Ratu. Tak ayal lagi, sebuah coretan panjang menghiasinya. ?Coba lihat, sama sekali tidak mirip hurup Jepang. Lebih mirip lukisan abstrak.?

Kiki dan Soraya terbahak. Ratu merengut.

?Yang penting kan aku sudah usaha.? Ratu bersungut sambil mencomot segenggam kacang dari piring, kemudian meneguk habis sirop di gelasnya.

?Biar berusaha sekeras apapun, sampai tua pun kamu nggak bakalan bisa!? ejek Kiki pedas.

?Mau gimana lagi? Besok kan ulangan. Bu Linda bilang, kita harus hapal semua hurup. Nanti dites-nya, maju satu-satu. Jadi, tak ada kesempatan ngelirik teman.?

?Iya. Bu Linda emang enak ngomong begitu. Beliau sudah bisa. Nah, kita yang pontang-panting belajar. Sudah itu, kalau tidak bisa bakalan dijemur saat istirahat.?

?Nggak kebayang deh kalau harus dijemur di lapangan, jadi tontonan orang satu sekolahan. Malunya itu yang nggak nahan.?

Ketiganya terdiam. Rupanya masing-masing membayangkan seandainya benar-benar dijemur di lapangan saat istirahat. Mau di mana muka mereka ditaruh?

Padahal ketiganya sedang ngecengin kakak kelas Jurusan Akuntansi. Ridho, Anjas, dan Fadil. Selain cakep, ketiganya juga pintar. Apa komentar mereka melihat ketiga cewek yang menamakan genknya cantik-manis grup itu dijemur di lapangan? Cantik-cantik kok bebal. Mungkin begitu pendapat mereka. Idih, malunya!

?Aku ada ide!? seru Ratu mengejutkan dua temannya. ?Gimana kalo kita bolos saja besok??

?Hah???? Kiki dan Soraya membelalak bareng. ?Bolos??

Ratu mengangguk.

?Bad idea!?

?Huh?!? Kiki langsung memukul bahu Soraya dengan penggaris. ?Sok berbahasa Inggris. Padahal nilaimu merah melulu.?

Wajah Soraya merah. ?Apapun, tapi itu ide jelek. Kalau bolos, kita bakal dihukum Pak Gani, walikelas kita. Mau??

?Emang, sih.? Ratu mengangguk santai. ?Tapi dibanding Pak Gani, aku lebih ogah dijemur di lapangan.?

Kiki tercenung. Dia menoleh pada Soraya.

?Dipikir-pikir sih benar juga. Pak Gani kan tidak sekeras Bu Linda. Marah paling sebentar. Hukumannya juga tergolong ringan.?

Soraya mengangguk-angguk.

?Lagipula, besok kan Hari Jumat. Kalaupun kita bolos, paling hanya 5 jam. Berarti hukumannya tidak seberat bila kita bolos hari lain. Ayolah ?! Aku mumet bila harus dipaksa menghapal hurup Jepang.? Ratu mulai membujuk.

Kiki dan Soraya bertukar pandang. Agaknya argumentasi Ratu mulai mempengaruhi mereka.

?Lalu kita mesti bolos ke mana?? tanya Soraya.

?Ke Duta Mall saja.?

?Pakai seragam??

Ratu menarik kuncir Kiki. ?Sok lugu, deh! Lucu dan guoblook?! Ya, kita harus bawa baju ganti di tas. WC umum kan banyak. Tinggal ganti di sana.?

?Kita nggak bakal bisa ngecengin Anjas dan kawan-kawan, dong!?

?Duh, Soraya? Kan, masih ada hari Sabtu. Tenang!?

Akhirnya, keputusan mereka bulat.

?

KETIGANYA sama sekali tidak mirip anak sekolah setelah mengganti seragam mereka di WC umum sebuah musholla dengan kaos dan jeans modis. Lebih mirip tiga mahasiswi yang sedang shopping. Apalagi selain ganti pakaian mereka juga menyempatkan diri mendandani rambut dan memberi make-up pada wajah mereka yang semula polos.

?Gimana? Are you ready for petualangan kita?? tanya Soraya pada kedua temannya.

?Kenapa sih kamu suka sekali sok berbahasa Inggris? Padahal yang dipakai bahasa gado-gado,? komentar Kiki jengkel.

?Sudah, jangan bertengkar! Ayo kita berangkat!? Ratu cepat melerai sebelum pertengkaran memanas. ?Duta Mall sudah menunggu.?

Ternyata nama shopping center yang baru dibuka itu cukup ampuh meredam pertengkaran mereka. Dua motor yang mereka kendarai langsung meluncur, membelah kota yang penduduknya sibuk dengan urusan masing-masing.

Karena masih terlalu pagi, akhirnya mereka singgah dulu di warung Bubur Ayam, seberang mall. Semangkok bubur plus sirup tanpa terasa masuk ke dalam perut mereka. Setelah kenyang, baru mereka menuju mall. Meski sudah buka, tapi pengunjung baru mereka bertiga ditambah dua tiga ibu-ibu. Sementara para karyawan sibuk mempersiapkan dan menyusun barang.

?Enak ya, jalan-jalan di mall saat sepi begini. Kita jadi leluasa survei harga.?

?Iya,? Kiki menyetujui pendapat Ratu. ?Waktu baru buka sebulan yang lalu, penuhnya minta ampun. Jangankan mau lihat-lihat harga, cari tempat berdiri saja susahnya bukan main.?

Ketiganya berkeliling dari counter ke counter sambil bercanda dan memberi komentar pada barang yang mereka lihat. Di counter minyak wangi, ketiganya terpesona melihat berbagai bentuk botol minyak wangi.

?Lihat, bentuknya seksi banget! Sekilas kayak tubuh orang telanjang!? seru Kiki sambil menjangkau sebuah botol dari etalase.

?Ih, apa tidak terjaring UU pornografi, ya!? cetus Ratu.

Kiki mencoba membaunya lewat sela tutup botol.

?Wow, wanginya juga ada kesan seksinya. Seperti bau mawar tapi agak?? Kiki berpikir, mencoba mencari kata yang pas.

?Coba aku cium!? Soraya meminta.

Kiki tidak melepaskan botol.

?Ki, aku mau membaui sendiri!?

Kiki tetap tak peduli. Matanya masih merem-melek, seakan terbuai oleh aroma yang dihurupnya. Soraya yang menasaran mencoba merampas. Kiki bertahan. Keduanya berebut. Dan ?. Prang!

Hanya dalam hitunga detik, botol minyak wangi itu tak lagi berbentuk. Isinya berhamburan di lantai. Aromanya meruap, memenuhi seluruh ruangan. Ketiga remaja itu kaget. Wajah mereka memucat.

Bagaimana nasib ketiga sahabat ini kemudian...?

Silakan baca di sini...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8197/cowok-rumah-sebelah

  • view 118