Mutasi

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Februari 2016
Mutasi

DESAS-DESUS rolling itu semakin santer terdengar. Semakin semarak, karena angin menghembuskannya dari sumber yang bisa dipercaya. Jadi, bisa dipastikan informasi tersebut dikategorikan A1.

?Aku tahu karena mengetik konsep SK-nya,? ujar Mbak Nunung pasti.

Aku memang tidak meragukan kejujurannya. Namun tetap saja aku setengah tak percaya. Bagaimana tidak, setelah kerja kerasku selama berbulan-bulan, menguras pikiran dan tenaga, justru tak mendapatkan apa-apa, bahkan tergeser dari jajaran struktur organisasi. Bukan itu saja, aku juga dilempar dari markas besar untuk didaratkan di kantor biro dan kembali menjadi wartawan yang mondar-mandir turun ke lapangan untuk mengejar berita.

Aku tak habis pikir. Benar-benar tak habis pikir. Apa sebenarnya salahku? Bila ada kekurangan, mengapa mereka tak pernah mengatakannya, apalagi mendiskusikannya? Bila aku dinilai tak mampu menjabat koordinator liputan, selayaknya mereka menunjukkan di mana letak ketidakmampuanku, karena aku merasa sudah memberikan yang terbaik.

Hatiku miris, sangat miris. Terlebih saat mengingat perjalanan panjang dan berliku yang kulalui saat mulai meniti karir.

Aku masih merasakan kebanggaan itu, ketika hampir lima tahun? lalu aku dinyatakan diterima menjadi calon wartawan di sebuah surat kabar harian terbesar di daerah ini. Aku bangga, karena berhasil melalui berbagai test, dari test tertulis, wawancara, psikologi, dan terakhir mengikuti pelatihan yang cukup melelahkan selama dua minggu. Ketika itu, ada sekitar 15 orang yang juga lolos. Hanya saja jumlah ini semakin menyusut karena beberapa orang menyatakan mengundurkan diri dengan berbagai alasan. Akhirnya, saat pelatihan berakhir, kami tinggal 10 orang.

Kami pun mulai memasuki masa percobaan. Namun kami tidak ditempatkan di bagian yang sama. Aku bersama empat? teman ditugaskan untuk melahirkan koran baru yang membidik pangsa pasar yang berbeda dengan koran yang sudah terdahulu terbit. Maksudnya, untuk memblokir celah yang mungkin akan dimasuki pesaing lain.

Maklum, di era reformasi dan kebebasan pers sekarang berbagai media bermunculan! Bukan pesaing kecil yang muncul dari dalam daerah yang dicemaskan, melainkan perusahaan media nasional yang kabarnya juga bermaksud merambah pasar-pasar daerah dengan koran-koran lokal.

Maklum lagi, meskipun asal mulanya adalah koran daerah, namun perusahaan yang kumasuki ini kemudian dibeli grup media nasional. Memang, daripada memulai dari nol dengan menerbitkan koran baru, mending membeli koran daerah yang sudah punya nama yang kebetulan kondisinya berada di ujung tanduk.

Begitulah, bersama keempat kawan ditambah beberapa senior dan beberapa teman lagi yang ditempatkan di kantor biro kabupaten terdekat, kami mulai mengabarkan kelahiran sebuah koran baru, koran yang membidik pasar menengah bawah. Tidak mudah memang. Namun di situlah letak tantangannya. Kami tetap maju sambil terus mencari bentuk sebagaimana yang diinginkan pasar.

Masih terekam jelas bagaimana paniknya saat pertama kali terbit. Itu adalah pertama kalinya kami dihadapkan pada ?deadline?. Terlambat dari jadwal, tidak masalah namanya juga pertama. Namun yang pasti, akan tetap terbit apapun resikonya. Dan itu adalah hari yang sangat bersejarah bagiku, dan juga teman-teman seperjuanganku. ?Bayi? kami lahir, meski masih dengan bentuk dan format yang kocar-kacir.

Seiring berjalannya waktu, bayi itu pun mulai menunjukkan perkembangan yang cukup pesat dan membanggakan. Dia mulai mengenal lingkungan sekitarnya, mulai menunjukkan bentuk dan ciri khas, dan masyarakat pun mulai memperhatikan kehadirannya. Suka duka dilewati. Naik turun dijalani. Terang gelap dihadang. Pasang surut diterjang.

Sedikit demi sedikit, personil bertambah. Bila tadinya lebih sering hampir semua pekerjaan kami kerjakan secara keroyokan, meski harus sampai begadang, kemudian sudah mulai terlihat pembagian tugas yang jelas. Namun kerja sama tetap dinomorsatukan.

Tapi, satu per satu kami juga mulai kehilangan teman. Berbagai alasan yang sangat manusiawi menjadi penyebabnya, salah satunya adalah karena sistem yang dianggap terlalu mengikat. Suka atau tidak suka, kami harus menerimanya. Karena setiap orang berhak memilih jalan hidupnya sendiri. Ironisnya, semakin lama semakin banyak kehilangan daripada kedatangan personil baru. Ini sungguh menyedihkan.

Kami yang bertahan mulai dipertimbangkan sebagai senior, sehingga mendapat tanggungjawab lebih untuk membimbing personil baru. Kami menjadi asisten redaktur dengan tugas dan tanggungjawab ganda, tetap turun lapangan mencari berita, plus mengedit hasil karya para junior.

Tugas ini kembali kami lakoni selama ratusan hari yang berarti juga ratusan edisi. Meski terkadang terbersit kekecewaan, karena harapan tidak sesuai dengan kenyataan atau karena janji yang selamanya menjadi omong kosong. Kami tetap bertahan, karena tak ingin apa yang kami bangun dengan susah payah hancur begitu saja. Kami tak ingin ?bayi? kami terlambat berlari sementara lawan kami sudah mulai menyusul di belakang.

?

?

?

SETAHUN belakangan, kami sering kedatangan orang pusat yang menilai kinerja perusahaan. Berbagai sudut dan segi mereka nilai yang kemudian sampai pada kesimpulan pada ketidakefesiensian perusahaan. Dan dengan dalih pembenahan, mereka mulai menempatkan orang-orang pusat untuk menduduki jabatan penting.

Redaksi kami tak luput dari pembenahan. Format yang sudah ada dikritik habis-habisan. Mereka menyodorkan format baru yang mereka susun, yang katanya memang diinginkan pasar, entah pasar di daerah mana. Kami berusaha memberikan saran, karena tidak semua format yang mereka sodorkan sesuai. Sebab setiap daerah kondisinya berbeda-beda. Tapi saran boleh saja, diperhatikan belum tentu.

Saat itu aku merasa mendapat kehormatan saat ditunjuk menjadi koordinator liputan, yang bertugas mengkoordinir pada penanggungjawab halaman sehingga tugas berjalan lancar tanpa tumpang tindih. Aku juga merencana liputan untuk halaman satu sebagai bahan jualan utama, dan memberi saran rencana liputan di halaman dalam. Lagi-lagi tugas yang berat, namun justru itu aku menganggapnya sebagai tantangan.

Aku menerimanya dengan pertimbangan dan alasan. Aku berusaha menjalankan dengan sungguh-sungguh meski tanpa SK yang resmi, demikian juga teman-teman lainnya. Kami tetap bekerjasama demi kelangsungan koran yang kami mulai.

Sebagaimana perkiraanku, tugas dan tanggungjawab ini tidak ringan. Berbagai persoalan datang silih berganti. Semua menjadi tanggungjawabku. Aku menjadi fasilisator atasan dan para asred yang notabene-nya adalah rekan-rekanku. Bila ada kasus kebobolan berita misalnya; atasan pasti memarahiku. Namun, aku berusaha menegur asred dan wartawan yang bersangkutan dengan cara dan bahasa sehalus mungkin, sehingga tidak melukai perasaan mereka.

Bisakah aku menjalankan tanggungjawab berat ini? Penasaran... silakan ke sini...?

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8106/usai-ijab-kabul

  • view 93