Arus di Sini Sangat Deras

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Februari 2016
Arus di Sini Sangat Deras

1 Agustus

GEDUNGNYA lumayan megah, bertingkat lima. Di halaman depan, ada pos satpam. Saat masuk lobby, ada satpam lagi. Di sini tamu diharuskan melapor, lalu akan diarahkan ke bagian yang tujuannya. Atau kalau tidak, dipersilakan menunggu di ruang tamu yang tersedia di lobby tersebut.

Saat pertama saya ke gedung itu, saya katakan, saya datang memenuhi panggilan atas lamaran yang saya kirim beberapa waktu lalu. Saya dipersilakan menunggu di lobby. Di sana sudah ada beberapa orang yang ternyata punya maksud dan tujuan sama.

Tidak lama menunggu, kemudian kami dibawa ke sebuah ruangan di lantai teratas. Ruangan yang ditata seperti kelas. Para pelamar duduk berbaris. Di bagian depan disusun beberapa kursi yang diduduki para petinggi perusahaan. Ada dari bagian personalia, ada dari redaksi. Mereka adalah karyawan yang bertugas menyeleksi penerimaan karyawan-karyawati baru yang akan ditempatkan di redaksi.

Dijelaskan pada kami, setelah iklan lowongan dimuat, mereka menerima ratusan surat lamaran. Dari ratusan tersebut, mereka menyaring menjadi 60 orang yang diperkirakan memenuhi syarat. Namun dari 60 ini, hanya 15 yang akan diberi kesempatan menjalani masa percobaan sebagai wartawan magang, sebelum akhir ditetapkan apakah layak menjadi karyawan tetap atau tidak.

Ditambahkan, seleksi dilakukan bertahap. Pertama kami mengikuti seleksi tertulis, meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pengetahuan Umum, dan mengarang bebas. Karena kapasitas ruangan terbatas, 60 pelamar dibagi 3 kelompok yang akan mengikuti seleksi tertulis di hari berbeda. Kami kelompok pertama. Besok dan lusa giliran kelompok berikutnya.

Setelah seleksi tertulis, peserta harus melalui tes wawancara. Bila dinyatakan lulus keduanya, baru mereka berhak mengikuti traning jurnalistik selama dua minggu. Maklum, latar belakang pelamar tidak ada yang dari jurnalistik atau publisistik. Jadi mereka harus dilatih dulu bagaimana cara hunting dan mengumpulkan fakta dan data di lapangan kemudian melaporkannya dalam bentuk berita.

Alhamdulillah, saya berhasil melalui tahap ini dengan mulus, meski sempat deg-degan. Untuk seleksi tertulis, hanya Pengetahuan Umum yang menyulitkan saya. Sementara Bahasa Indonesia dan Mengarang bebas, sama sekali tidak masalah karena saya terbiasa menulis cerpen yang sempat dimuat di media massa nasional. Kalau Bahasa Inggris, kebetulan saya juga punya ijazah diploma 3 jurusan ini. Tapi pengetahuan umum saya payah. Karena yang ditanyakan adalah pengetahuan umum tentang daerah. Maklum, ini adalah perusahaan media massa yang beredar secara regional, bukan nasional.

Ketika tes wawancara, saya sempat gugup. Maklum, ?penyakit bawaan?. Namun untunglah, meski panas dingin, saya tidak membuat kesalahan fatal. Paling kesalahannya cuma disebabkan jawaban yang terlalu bersemangat dan mantap. Itu adalah imbas ?penyakit gugup? bila pertanyaan serasa mendesak sehingga jawaban yang tercetus tidak dicerna dengan baik.

Lepas dari itu, sekali lagi Alhamdulillah, saya lulus. Bukan main leganya, karena saya menginginkan pekerjaan ini. Bukan apa-apa, saya cukup lama menyandang predikat penganggur.

Padahal sebenarnya saya tidak ongkang-ongkang kaki di rumah. Saya menjaga kios. Tapi pekerjaan ini jadi beban karena saya lulusan diploma 3 perguruan tinggi di Yogyakarta. Meski tidak mendengar langsung, seolah orang-orang di sekitar saya tak hentinya menyindir ?kalau cuma menjaga kios, untuk apa tinggi-tinggi kuliah, bahkan jauh-jauh ke Yogya?.

Itulah sebabnya, beban itu seolah terangkat dari pundak saya setelah dinyatakan lulus dua tahap tes. Berarti saya berhak untuk mengikuti pelatihan jurnalistik yang diadakan perusahaan.

?

?

15 Agustus

SEMULA saya sangat bersemangat. Tapi ibarat api, semangat itu mulai meredup. Saya mulai bertanya pada diri sendiri, apakah saya mampu?

Tidak saya kira, pelatihannya seberat ini. Kami diberikan modul pelatihan berisi materi dan tugas. Kami harus mengerjakannya dengan mesin ketik manual, tanpa boleh ada coretan atau hapusan tip ex. Apabila ada kesalahan ketik, kami harus mengulangi dari awal. Benar-benar harus bersih, rapi, dan tanpa kesalahan. Dan kami tidak diperbolehkan pulang sebelum mengumpulkan tugas seabrek-abrek itu setiap hari.

Karena mengerjakan tugas, saya selalu pulang pelatihan saat malam telah turun. Awalnya, pukul enam sore sudah bisa pulang. Berikutnya semakin malam dan semakin malam. Akhirnya, saya terbiasa pulang di atas pukul sembilan malam. Tidak terbayangkan bagaimana rasanya badan dirajam kelelahan. Dari pagi hingga malam bukan hanya tenaga yang terkuras memencet tuts, tapi otakpun dipaksa bekerja keras mencerna materi yang diberikan pelatih. Selain itu juga dilecut secara mental. Karya tulis yang kami buat selalu dibahas dan dikritik secara terbuka dengan bahasa yang tidak hanya pedas, tapi juga penuh ejekan, dan diremehkan.

Tidak mengherankan bila akhirnya terlintas keinginan mundur dalam benak saya. Apalagi beberapa kawan sudah melakukannya. Dan para pelatih yang didatangkan dari Jakarta dan Surabaya menanggapinya dingin-dingin saja. Bahkan mereka mempersilakan yang mau mundur untuk melakukannya sekarang, daripada terlanjur jauh. Katanya, menjadi wartawan memang tidak mudah, harus bermental baja.

Teman yang mengundurkan diri kemudian diganti peserta lain yang dipanggil belakangan. Mereka pelamar yang nilainya berada di urutan berikutnya. Ditekankan mereka, bukan hanya kepintaran yang diperlukan untuk menjadi wartawan, lebih dari itu harus berotot kawat, bertulang besi, dan bermental baja.

Apakah aku juga akhirnya mengundurkan diri? Jawabannya ada di sini...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8022/suatu-siang-di-warung-pojok-terminal

  • view 88