Sepanjang Sungai Barito

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Februari 2016
Sepanjang Sungai Barito

PRAMUGARI mengumumkan, sebentar lagi pesawat akan mendarat di lapangan udara Syamsuddin Noor. Dia meminta para penumpang mematikan rokok serta memasang sabuk pengaman. Annisa menunduk. Sabuk pengamannya tidak pernah dibuka sejak naik dari Bandara Adi Sucipto. Waktu dua jam terasa begitu pendek. Selama perjalanan, lamunannya juga ikut menerobos gumpalan awan.

Pesawat terasa merendah sampai akhirnya berguncang cukup keras. Roda pesawat sudah menyentuh bumi Lambung Mangkurat. Itu berarti dia sudah sampai di kampung halamannya.

Annisa tidak merasa perlu tergesa turun. Dari jendela dia sempat melihat beberaoa sosok yang dikenalnya di antara penjemput yang berdesakan di anjung sambutan.

Setelah hampir semua penumpang turun barulah Annisa berdiri. Tak lupa dia membawa tas plastik berisi dua kotak snack. Inilah enaknya naik pesawat yang transit, dapat jatah konsumsi dobel. Walau dia sendiri tidak berselera, namun bisa dijadikan oleh-oleh untuk keponakan-keponakannya.

Annisa masuk ke ruang kedatangan. Benar, di sana dia sudah ditunggu para penjemputnya. Rame sekali! Ada Abah[1], Mama, beberapa sepupu dan keponakannya. Pasti Abah bela-belain menyewa mobil untuk mengajak mereka. Padahal kalau mau, dia bisa pulang sendiri, naik taxi bandara. Tapi sesekali tak apa! Toh, tidak setiap tahun mereka menjemputnya di bandara.

Annisa diberondong pertanyaan. Dijawabnya pendek-pendek. Akhirnya mereka behenti bertanya. Mungkin mereka pikir dia kecapekan. Annisa kembali mengisi perjalanannya dengan lamunan panjang.

Mobil memasuki halaman. Terasa singkat sekali perjalanan bagi Annisa. Terlalu cepat sampai.

Annisa menengah. Mengamati bangunan yang berdiri megah di hadapannya. Sebuah rumah tua berarsitektur rumah tradisional Banjar. Menurut Abah umurnya sudah ratusan tahun, namun masih terlihat kokoh.

Annisa menaiki tangga menuju teras.

?Langsung temui Nini[2], Nis!? suruh Abahnya. ?Beliau sudah tak sabar menunggu kedatanganmu.?

Annisa mengangguk. Dia terus melangkah. Melewati beberapa ruang yang lantainya berjenjang-jenjang. Dia membelok ke sayap kiri, masuk ke kamar neneknya.

Seorang wanita tua duduk bersimpuh di atas kasur yang terhampar di tengah ruangan. Rambutnya yang putih kelihatan mulai menipis. Tubuhnya kurus dan ringkih. Cuma tulang berbalut kulit yang telah keriput. Kebaya dan kainnya tampak lusuh. Beliau sedang membaca Yasiin. Kacamata bacanya melorot sampai ke ujung hidung. Tangannya yang sedang menggenggam Yasiin kecil tampak gemetaran.

Melihat wanita tua itu, Annisa tak kuasa lagi menahan rindu dan harunya.

?Ni!? panggilnya dengan suara serak.

Nenek mengangkat wajahnya. Membuka kacamatanya dan meletakkannya ke samping bersama yasiin.

?Annis, cucuku!? Nenek tersenyum. Tangannya mengembang.

Serta merta Annisa menghambur ke pelukan tubuh ringkih itu. Tuhan, baru dia sadari, betapa sebenarnya dia merindukan wanita tua ini. Merindukan pelukan hangatnya, tatapan lembutnya, senyum arifnya, kata-kata bijaknya.

?Nini sakit apa?? Suara Annisa menyimpan isak.

?Kangen sama Annis. Kenapa Annis tidak pernah pulang mengengok Nini? Annis tidak kangen pada Nini??

?Kangen, Ni. Tentu saja kangen,? sahut Annisa cepat/ ?Tapi Annis kan sibuk kuliah.?

?Walau pada saat libur juga??

Annisa menunduk. Dia merasa bersalah.

?Sudahlah! Nini mengerti,? kata Nenek lembut sambil membelai rambut Annisa. ?Nini tidak menyalahkan Annis. Nini bahagia sekarang Annis sudah datang.?

Annisa makin mempererat pelukannya.

?

ANNISA sudah berkali-kali mondar-mandir mengelilingi rumah. Dia sendirian. Nenek tidur. Abah bekerja. Mama pergi belanja. Bik Surti mencuci di sungai.

Annisa mendengus kesal. Dia bosan. Sudah tiga hari dia cuma ngendon di rumah. Dia membayangkan, teman-temannya pasti sedang bersenang-senang di Bali. Semula rencananya dia dan beberapa teman yang sama-sama lulus pendadaran pergi refreshing di Bali. Tapi tiba-tiba sepucuk telegram datang mengabarkan neneknya sakit dan memintanya pulang segera.

Mulanya Annisa mengira itu cuma akal orang rumah memaksanya pulang. Selama lima tahun kuliah, dia memang tak pernah pulang sekalipun. Liburan panjangnya malah dihabiskan di kampung halaman teman-temannya, tak pernah di kampungnya sendiri.

Nenek alasan paling tepat untuk memaksanya pulang. Mereka tahu, Annisa sangat menyayangi neneknya. Dia takkan berani mengacuhkan telegram mengenai neneknya. Bila terjadi sesuatu tanpa dia sempat bertemu, dia takkan bisa memaafkan dirinya. Akhirnya Annisa memutuskan pulang.

Annisa terus melangkah ke dapur sampai beranda belakang yang menghadap sungai. Ada Bik Surti dan beberapa tetangga yang mencuci sambil ngerumpi.

?Non Anis!? sapa Bik Surti.

Annisa tersenyum, membalas sapaan itu. Dia menebarkan pandangan ke sekeliling. Pemandangansungai khas Kalimantan. Dia takkan pernah menemui pemandangan seperti ini di tempat lain.

Berbagai jenis perahu, yang bermotor maupun yang didayung hilir mudik menyusurui sungai. Yang bermotor namanya kelotok[3] dan yang didayung disebut jukung[4]. Sesekali melintas speed boat yang membuat gelombang sungai lebih besar.

Di sepanjang pinggiran sungai tampak jejeran batang[5] dan lanting[6]. Batang adalah rakit yang diatasnya dibangun jamban kecil. Di sanalah penduduk mandi, mencuci, dan tentunya buang air. Sedang lanting adalah rumah atau warung yang juga dibangun di atas rakit.

Annisa melihat sebuah jukung dan kelotok tertambat di tiang teras. Dia ingat, Abah memang punya jukung dan kelotok. Untuk penduduk pinggiran sungai, jukung atau kelotok adalah alat tranportasi vital seperti halnya sepeda dan motor untuk penduduk darat. Annisa tersenyum. Dia ingat, dia dulu suka sekali berjukung ria. Setelah tinggal di Yogya yang tak punya sungai besar, hobbynya beralih jadi bersepada.

?Non Anis mau ke mana?? tanya Bi Surti melihat Annisa melompat ke dalam jukung.

?Putar-putar saja, Bik.? Sahut Annisa sambil melepas tali jukungnya. ?Kangen mau naik jukung.?

Annisa mengangguk. Dia pamit kepada mereka, kemudian mengayuh jukungnya membelah sungai.

Annisa tersenyum kecil. Sekarang dia baru merasa, betapa rindunya dia pada kampung halamannya ini. Hidup yang mengalun selaras dengan ayunan gelombang sungai.

Aha! Ingat sungai, dia jadi ingat seseorang. Orang yang pernah dengan bangga berkata,? bila mencariku, temuilah aku di mana suangai mengalir!? Sungguh sok puitis!

Kenapa aku tidak mencarinya? Annisa membelokkan arah jukungnya.

?

[1] Abah (Bahasa Banjar) : Ayah

[2] Nini (Bahasa Indonesia) : Nenek

[3] Kelotok (Bahasa Banjar) : perahu bermotor

[4] Jukung (Bahasa Banjar) : perahu dayung

[5] Batang (Bahasa Banjar) :? dermaga terapung

[6] Lanting (Bahasa Banjar) : rumah terapung

?

Siapa yang dicari Annisa? Cari tahu di sini...?

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7880/sepanjang-sungai-barito

  • view 169