Harga Sebuah Keberanian

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Februari 2016
Harga Sebuah Keberanian

SEANDAINYA boleh menurutkan kehendak hati,? ingin rasanya Latifah bolos pagi ini. Minimal, datang terlambat barang sejam dua jam. Soalnya, saat-saat seperti inilah yang paling dia benci dan sangat ingin dia hindari.

Seandainya saja mesin absen sidik jari bisa diajak kompromi, pasti sudah dilakukannya keinginan itu. Sayang, mesin tetap saja alat yang tak punya hati. Bila dia tak datang pagi ini, pastilah mesin itu takkan bisa diajak bekerja sama untuk berdusta. Itu berarti, bakal ada catatan hitam yang masuk ke bagian personalia tentang dirinya. Bila begitu, bisa ditebak, setelahnya dia akan mendapat surat peringatan yang akan berakibat pada bonus tahunannya.

Latifah menghela nafas. Dia menguatkan hati tetap berangkat pagi-pagi. Absen di depan pintu gerbang, dan memasuki gedung yang masih sepi. Lantai pertama dan kedua sepi, demikian juga lantai tiga dan empat. Dia berhenti di lantai lima, lantai paling atas. Di sinilah dia bertugas. Situasinya sama,? sepi.

Latifah maklum, statusnya memang berbeda dengan karyawan lain yang tidak terikat jam kerja. Sebagian besar staf di redaksi adalah wartawan yang tidak punya jam kerja tetap selama dua puluh empat jam. Tidak seperti dirinya yang bertugas sebagai sekretaris redaksi. Bertugas di bagian redaksi, tapi kewajiban jam kerjanya sama dengan staf di bidang administrasi.

Mudahan dia tidak datang hari ini, doa Latifah sambil menatap pintu ruangan yang masih tertutup rapat. Hati-hati dia menuju mejanya, berusaha untuk tidak menimbulkan berisik. Mematikan beberapa lampu yang masih menyala, dan membuka gorden dan jendela agar cahaya matahari masuk ke ruangan.

Dia ada tidak, ya? Apa harus kusiapkan minum? Latifah tercenung sejenak. Namun sedetik kemudian, dia beranjak menuju dapur. Dia tak mau disalahkan dan dianggap melalaikan tugas. Maka dia menyiapkan seteko teh.

Baru saja dia bermaksud menyendok gula, tiba-tiba pintu dapur terbuka.

?Ah, untung kamu sudah datang Tifah! Kukira masih belum ada orang.?

Latifah terkesiap kaget. Dia tak sempat menghindar ketika lelaki setengah baya itu mendekat dan memepet dirinya.

?Kamu bikin teh untukku, kan?? Dia berpura-pura membantu Latifah menyendok gula, namun sengaja menggenggam tangannya. ?Gulanya jangan banyak-banyak! Aku kan takut diabetes.?

?I?iya, Pak!? Latifah berusaha melepaskan genggaman yang mencengkeram jarinya. Namun semakin dia berusaha, justru semakin kuat. Bahkan Pak Bowo berusaha mendekapnya.

?Jangan, Pak! Nanti ada yang lihat!?

?Ah? kamu jangan munafik begitu, dong! Kamu kan juga sudah lama nganggur dan kedinginan. Pastinya juga mendambakan kehangatan, kan??

Latifah merinding. Hembusan nafas Pak Bowo yang hangat bagai menggelitik tengkuknya. Untunglah, di saat genting seperti itu, tiba-tiba terdengar suara langkah mendekat. Refleks Latifah berontak, Pak Bowo pun terjajar. Ketika sadar, dia langsung menuju pintu.

?Tehnya langsung bawa ke ruangan, Tifah!? ujarnya dengan suara sengaja dikeraskan sebelum pergi.

Latifah bergegas menyelesaikan pekerjaannya, dan membawa teko teh keluar dari dapur. Di ruang redaksi, dilihatnya Agus, wartawan kriminal sedang sibuk di depan komputer. Tampangnya masih acak-acakan. Pasti dia baru saja mendapat liputan berita kriminal dan belum sempat mandi.

Latifah berlalu. Melihat tampang Agus yang terlihat serius, dia urung mendekat. Dia kuatkannya hati untuk mengetuk ruangan Pak Bowo.

?Masuk!?

Latifah masuk dan meletakkan teko di atas meja. Namun saat berbalik, Pak Bowo menghadang langkahnya, sangat dekat.

"Pak, saya mohon! Bila Bapak nekat, saya teriak supaya orang mendengar,? ujar Latifah geram.

Wajah Pak Bowo yang mulai dihiasi kerut memerah.

?Dasar munafik! Awas, kalau kamu berani bicara macam-macam! Kita lihat saja, orang lebih mempercayai janda genit dan gatal sepertimu ataukah aku!?

Hati Latifah hangus terbakar. Tanpa menunggu, dia langsung beranjak dari ruangan. Jiwanya babak belur. Penghinaan Pak Bowo bagai cemeti yang melecut harga dirinya.

***

?APA katamu?? Kening Fauzi berkerut. Matanya mengungkapkan ketidakpercayaan.

?Kamu mendengar dengan jelas!? tegas Latifah.

?Kamu tidak sedang bercanda, kan??

?Apa aku kelihatan seperti bercanda? Aku serius, Zi. Aku sungguh-sungguh!? Latifah menandaskan.

Mata Fauzi menyipit. Mulutnya sedikit tertarik, terlihat sinis.

?Kamu tidak percaya padaku?? Latifah mulai geram.

?Siapa yang bisa mempercayai ceritamu itu? Kamu?? Pak Bowo??? Fauzi menggeleng ragu. Manajer Personalia yang baru saja diangkat itu jelas tidak mempercayainya.

?Jadi, kamu pikir aku berbohong? Kamu pikir aku hanya mengarang cerita? Untuk apa??

Fauzi mengangkat bahu. ?Mana aku tahu??

Kedua kalinya, hati Latifah terbakar. Jiwanya terluka.

Pak Bowo menang. Lelaki gaek itu menang. Dia sukses bersembunyi di balik jabatan dan sosok berwibawanya, dengan kacamata minus yang menyamarkan mata keranjangnya sehingga tampak sabar, dengan rambut ubannya sehingga terlihat matang. Orang lebih mempercayai sosoknya yang bertopeng senyum kebijakan daripada cerita dari mulutnya, seorang wanita centil dan lincah yang sudah lima tahun menyandang status janda seperti dirinya. Hanya pegawai rendahan pula.

Latifah menggigit bibir. Menahan airmata yang nyaris tumpah. Dia kemudian berbalik, melangkah lebar menuju pintu, keluar ruangan Personalia.

Lalu apa yang kemudian dilakukan Latifah...? Langsung baca di sini....

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7359/sayap-sayap-terluka

  • view 107