Bila Cinta Telah Datang

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Februari 2016
Bila Cinta Telah Datang

?BURUAN dong, Ly! Entar kita telat, nih!? desak teman-temannya yang sudah siap di atas sadel motor masing-masing.

Ully memandang wajah teman-temannya dengan bingung. Didesak begitu malah membuatnya tak bisa berpikir.

?Mau ikut nggak, nih??

Ully menatap Dian, minta pertimbangan. Hanya sahabatnya itulah yang mengerti apermasalahannya.

Dian tersenyum. ?Jujurlah pada diri sendiri!?

Ully mendesah. Kalau mau jujur, dia memang ingin sekali ikut. Sangat ingin. Sudah lama sekali ia tidak melihat cowok itu beraksi di lapangan basket. Dia sudah rindu gayanya. Larinya, loncatannya, tembakannya. Ah!

?Tapi??

?Kamu takut?? potong Dian cepat. ?Dia toh tidak akan menggigitmu??

Ully tercenung.

Suara raungan gas makin mengeras. Sedetik sebelum teman-temannya buka suara, Ully segera naik ke boncengan motor Dian.

Dian menyambutnya dengan senyuman.

Iring-iringan motor itu pun melaju di jalan, menuju lapangan basket Gelanggang Remaja.

***

?AYO!?

Ully menurut tarikan tangan Dian dengan langkah gontai. Dia tahu, sepasang mata itu sudah menemukannya sejak turun dari motor di lapangan parkir.

Mereka duduk melingkari lapangan basket berpagar kawat itu dengan beralaskan sandal masing-masing. Sedang para pemain sudah siap di pinggir lapangan.

?Tuh, kan? Hampir saja kita telat,? gerutu Mimi.

?He eh!?

Ully menunduk. Dia tahu, itu kesalahannya. Ada sesal merasuki dadanya. Mungkin lebih baik aku tidak ikut, bisiknya.

?Sssttt!?

Dian memberi isyarat dengan matanya.

Ully menggeleng.

?Kenapa di belakang? Kelihatan nggak? Sini, lebih strategis!?

Ully menggeleng.

Dian cemberut. Dia bergegas menghampiri.

?Di sini kamu nggak bakalan tahu, betapa sering dia ngelirik kamu.?

?Itu yang aku nggak mau.?

?Tolol!? Dian melotot tajam. ?Jadi untuk apa selama ini kamu mengaguminya??

Ully membuang muka, menghindari tatapan tajam Dian.

Untuk apa? Tentu saja sekedar mengagumi. Sekedar mengagumi. Dia tidak berani lebih dari itu.

Tapi mata itu? ah! Tidakkah menyuruhku untuk menaruh harapan lebih dari sekedar rasa kagum?

Ully melirik ke lapangan. Mengamati sosok yang sedang melakukan pemanasan itu secara diam-diam. Dengan seragam tim, kaos tanpa lengan warna biru dan celana pendek merah, membuatnya kelihatan tambah keren. Gagah dengan gayanya yang lincah. Apalagi dia sudah punya tampak cakep dari sononya. Kulitnya yang coklat bersih, berkilat oleh keringat, semakin menambah daya tariknya.

Kamu keren, Ar, bisik hati Ully. Aku terlalu ngeri untuk berharap banyak.

Bola mata cowok itu bergulir, meliriknya. Terlambat bagi Ully untuk menghindar. Dikuatkannya untuk terus memandang.

Dian menyodok pinggangnya.

?Lirikannya ni yee??

Ully tersenyum tipis.

?Nah, itu kan pertanda baik, Ly. Kenapa malah taku??

Ully menggeleng galau.

Pertanda baik? Benarkah? Apakah bukannya jebakan maut? Seperti dulu. Dulu beberapa kali.

Tidak! Ully tidak mau terjebak untuk kesekian kalinya. Tiga kali sudah cukup. Dia sudah kebal dengan lirikan yang memabukkan begitu. Dia tidak mau hanyut lagi.

Tapi apakah tidak mungkin kali ini lain? Lagi-lagi hati Ully bertanya galau.

Ully memejamkan mata. Satu satu wajah cowok yang pernah memekarkan harapannya terbayang.

Pertama Pandu. Cowok simpatik yang menjabat sebagai Ketua Osis di SMP nya dulu. Mulanya Ully hanya mengagumi. Mengagumi wibawanya, keaktifannya, kelincahannya di lapangan volley, juga keramahan dan kesupelannya. Itu yang paling penting. Dia suka sekali pada orang ngetop tapi tidak sombong. Ya, seperti Pandu itu.

Namun ketika Pandu mulai membalas dengan tatapannya yang sulit diartikan, kagum itupun berubah menjadi kuncup-kuncup harapan yang perlahan-lahan mulai mekar. Tatapan mata elang itu, ah, begitu memabukkan! Hingga Ully terhanyut dalam laut mimpi yang tak bertepi.

Ully tersenyum hambar. Aku memang terlalu perasa, keluh hati kecilnya. Baru begitu saja sudah gee r. akhirnya malah sengsara sendiri.

Namun itu masih bisa dimaklumi. Kala itu dia masih ingusan. Masih belum tahu apa-apa. Kenal cowok baru sekali itu. Yang tidak bisa Ully mengerti, mengapa dia mengulangi kebodohan yang sama untuk kedua kalinya.

Terbayang lagi wajah Yogi, kemudian Eko. Keduanya adalah cowok yang Ully kagumi setengah mati setelah Pandu. Sama-sama jago basket. Tapi yang satu kece, satunya lagi biasa saja. Yang satunya lincah dan ramah, yang satunya rada pendiam. Dan keduanya sama seperti Pandu, membuat Ully terbuai oleh mimpi yang berkepanjangan.

Sekali lagi Ully tersenyum. Kali ini getirnya begitu terasa.

Bahkan lebih parah, bisik Ully sedih, mereka ternyata malah sudah punya kekasih. Aku yang terlalu bodoh! Aku terlalu ge er! Baru ditatap begitu saja sudah melambung ke awing-awang. Padahal seharusnya aku tahu mereka sudah punya seseorang yang melebihiku. Aku ini, apalah!

Perlahan Ully menghembuskan nafas. Mencoba mengurangi beban yang memberati dadanya.

Ufff! Dian menyikut pinggangnya lagi. Lebih keras.

Ully meringis.

?Kamu nonton atau melamun? Tuh, doi ngeliat ke sini terus. Jadi nggak konsentrasi dia. Kamu nggak ngasih semangat, sih. Tepuk tangan, kek. Dia kan udah main bagus.?

Ully tak mengacuhkan omelan Dian. Matanya lebih suka menekuri rumput-rumput yang rubuh terinjak-injak.

Kamu lagi, Ar, desahnya putus asa. Apa sih mau kamu? Mau bikin aku ge er lagi?

Ully mengangkat bola matanya sedikit. Mencoba mengintip dari balik bulu matanya.

Kedua regu sedang time out. Cowok itu berada bersama teman-temannya, sedang meneguk Aqua. Seperti serius mendengar wejangan pelatih. Tapi matanya tampak selalu mencari-cari.

Nah, kan! Ully menunduk semakin dalam. Gimana aku tidak akan resah mendapat teror seperti itu? Aku ngaku aku suka kamu, aku kagum kamu. Tapi kamu biasa aja, dong! Jangan balas menteror begitu! Aku takut.

Takut? Kalau saja Dian mendengar kata itu, pasti dia akan tergelak. Dan komentarnya pasti sama, aneh. Menurutnya, Ully seharusnya malah senang, karena cowok yang dikaguminya ternyata juga membalas menyukai. Yah, seharusnya memang begitu. Tapi Dian tidak ngerti.

?Dia juga suka kamu, tolol!? geram Dian dengan nada gemas waktu itu. ?Seharusnya kamu jingkrak-jingkrak. Bukannya menggigil begitu.?

?Tapi dia tidak sungguh-sungguh. Dia hanya main-main. Dia??

?Lho, darimana kamu dapat kesimpulan begitu??

?Aku?? Ully kebingungan menjawabnya.

?Dengar! Dia sudah mulai mencoba mendekatimu. Dia mencoba mendekatimu. Dia mengajakmu berkomunikasi. Mengajakmu tersenyum. Menancing pembicaraan denganmu. Bahkan nekat menunggu kamu.?

?Tid? tidak! Tidak pernah begitu. Dia??

?Tidak pernah katamu? Lalu untuk apa kenekatannya selama ini? Sengaja pura-pura mau menabrakmu dulu itu, kalau bukan untuk menarik perhatianmu? Untuk apa dia nekat berbuat konyol, masuk ke kelas kita dan pura-pura ikut ulangan umum? Duduknya tepat di sebelahmu lagi. Lalu untuk apa pula sia selalu pulang lambat-lambat, walau kelasnya sudah lama bubar? Untuk apa??

Ully menggeleng-geleng bingung.

Yah, untuk apa? Untuk apa, Ar?

Mungkin Dian benar. Mungkin cowok itu juga suka. Tapi Ully tidak pernah berani berharap begitu. Tidak berani. Dia tidak mau kejadian yang lalu terulang kembali. Ge er itu tidak enak. Nanti kecewanya tidak enak. Nanti kecewanya sungguh menyakitkan.

Lagipula dia terlalu istimewa. Dia kece dan punya banyak pengagum. Cowok saja banyak yang mengaguminya apalagi cewek.

Tepuk dan sorak-sorai bergema di sekeliling Ully. Pikiran Ully terbelah. Teman-temannya tengah asyik menikmati permainan.

?Wuih, mantap benar gaya Arga! Meyakinkan,? decak seseorang yang duduk di sampingnya. ?Bravo, Arga!?

Dian mengedipkan sebelah matanya.

Ully tersenyum tipis. Tuh, kan! Kamu terlalu hebat, Ar. Aku tak ada artinya. Biarlah aku hanya mengaguminya. Hanya mengagumi.

Ully terus mengamati sosok yang bergerak lincah di lapangan itu dengan decak yang tersimpan di dadanya.

Mohon maaf, ceritanya berlanjut ke sini, ya...!

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7570/don-robinson

  • view 96