Usai Ijab Kabul

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Usai Ijab Kabul

PENGANTIN wanita pingsan beberapa menit usai ijab kabul. Suasana berubah seketika. Mulanya kebahagiaan dan kemeriahan meliputi. Menjelang ijab kabul, keheningan menyebarkan kesakralan sekaligus ketegangan. Saat ijab kabul berjalan lancar, kelegaan penuh rasa syukur menyembur. Namun kemudian berubah heboh oleh kepanikan bercampur kecemasan.

?Ambilkan minyak angin!?

?Aduh, jangan bergerombol di kamar! Beri Aida ruang agar bisa bernafas dengan leluasa!?

?Bawa kipas anginnya ke kamar. Dia kegerahan.?

Hampir aku berdiri. Tapi sebuah tangan menahan lututku sehingga tak bisa membongkar sila.

?Kamu di sini saja!? bisik Julak Imad.

?Benar,? ujar Pak Basri, lelaki setengah baya yang baru saja resmi jadi mertuaku. ?Sudah banyak orang yang mengurus Aida.?

Aku menurut. Berusaha mengikuti kelanjutan prosesi pernikahan dengan hikmat. Namun, aku tak bisa menulikan telinga dari berbagai komentar yang dilontarkan di sela hiruk-pikuk. Tidak mengherankan, karena kejadian pengantin pingsan usai ijab kabul memang bukan peristiwa biasa. Banyak spekulasi mengenai penyebabnya. Hampir semua bernada miring, semakin memantapkan kegalauan yang sempat kurasakan menjelang pernikahan kami.

Sebenarnya kasak-kusuk ini sudah seminggu menghantuiku. Tepatnya, sejak kepulanganku ke kampung halaman untuk menyunting Aida. Gosip mengatakan Aida terpaksa menerima lamaranku. Soalnya, dia tidak tahan terus didesak keluarga dan digunjing tetangga karena umurnya sudah melewati usia ideal seorang wanita desa untuk menikah. Padahal sesungguhnya Aida sudah memiliki pria yang dicintainya.

Aku tak percaya desas-desus itu begitu saja. Memang dalam proses lamar-melamar, aku tidak terlibat langsung. Saat Bunda memintaku menikah, aku setuju karena memang sudah lama berniat menggenapkan dien setelah memperoleh pekerjaan yang cukup mapan. Begitu pula ketika Bunda mengajukan nama calonnya, ?Aida?, aku juga tidak memerlukan waktu panjang untuk mempertimbangkan. Aku sudah mengenal Aida. Kami tetangga kampung. Bahkan sempat jadi teman sepermainan ketika masih kanak-kanak.

Menjelang remaja, kami menapaki hidup masing-masing. Setelah Ayah meninggal, Bunda menitipkanku pada Julak Imad, saudara tertuanya yang tinggal di kota. Sementara kabarnya, Aida melanjutkan kuliah ke Jawa.

Beberapa kali kami sempat bertemu. Biasanya menjelang Idul Fitri, karena aku selalu menghabiskannya bersama Bunda dan adik-adikku di kampung. Tapi kami sebatas saling sapa dan bertukar salam saat berpapasan di masjid atau ketika bersilaturrahmi Idul Fitri.

Kemudian kesibukan kerja membuatku semakin jarang pulang kampung. Akhir-akhir ini aku lebih sering meminta Bunda dan adik-adik yang datang berkunjung. Bahkan tawaran pernikahan itupun diajukan Bunda ketika mereka menghabiskan liburan Idul Fitri di rumah kreditanku.

?Bagaimana dengan Aida Zuraida?? ujar Bunda waktu itu. ?Kalau kau setuju, Bunda ingin dia menjadi menantu Bunda.?

Aida Zuraida? Aku tercenung. Aku tahu siapa yang dimaksud, karena hanya satu Aida yang kami kenal. Kucoba membongkar kembali bayangan gadis itu di memoriku. Wajahnya cukup manis. Dia juga ramah dan sopan. Sedikit pemalu dan agak pendiam. Namun sebenarnya dia pintar dan cerdas. Kelebihan itu sudah terlihat sejak dia kanak-kanak.

?Saya setuju sekali, Bang. Kak Aida orangnya baik,? cetus Abizar, adikku ikut nyeletuk.

?Saya sependapat. Kak Aida terlihat makin dewasa sejak kematian mamanya. Semua urusan rumah tangga sekarang berada di pundaknya, sementara dia juga tetap aktif mengajar anak-anak tsanawiyah.? Isna, adik bungsuku ikut mendukung.

Karena mereka sepakat, aku mengangguk setuju. Lagipula, setahuku sejak lulus kuliah, Aida mengubah penampilannya dengan berjilbab. Meski kadang masih dipadu kemeja longgar dan jeans baggy. Dia juga cukup aktif ke mesjid. Bagiku kenyataan itu sudah cukup untuk memberikannya nilai positif. Ditambah lagi kebulatan pendapat keluargaku.

Ternyata prosesnya berjalan mulus, meski aku tidak ikut acara lamaran karena kesibukan kerja yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi aku sempat mendengar persetujuan langsung Aida melalui telepon. Sebelumnya, aku bicara dengan ayahnya, menyampaikan maaf atas ketidakhadiranku. Ayahnya pun memaklumi dan menganggapnya bukan masalah penting.

Maka disusunlah rencana pernikahan. Kedua pihak keluarga berembuk masalah waktu dan tetek-bengek lainnya, berusaha menyesuaikan dengan jadwal kerjaku di kantor sehingga bisa mengajukan permohonan cuti tanpa hambatan. Namun ketika aku pulang ke kampung untuk acara sakral yang telah direncanakan secara matang itu, hembusan kabar burung sampai ke telingaku. Bukan kabar? menyenangkan sehingga bukan saja membuat wajahku merah, tapi juga mengacak-acak kemantapan dalam hatiku.

Aku bertanya pada Bunda. Secara jujur beliau mengakui ada kemungkinan gosip itu bukan sekedar isapan jempol.

?Sekitar dua tahun lalu, memang ada lelaki yang kerap mengunjungi Aida. Tidak jelas apakah mereka pacaran atau sekedar teman biasa. Bahkan keluarganya pun tidak tahu pasti sejauh mana hubungan mereka karena Aida tidak pernah membicarakannya secara terbuka,? tutur Bunda. ?Tapi lelaki itu tidak pernah datang lagi. Juga tidak jelas apa sebabnya. Apakah mereka putus atau belum. Karena Aida juga tidak cerita. Sejak itu, dia tidak pernah terlihat dekat dengan lelaki manapun.?

Bunda memintaku untuk tidak terlalu merisaukan masalah itu. Aku tahu, karena pernikahan kami semakin dekat. Apapun yang terjadi, aku tak mungkin mundur lagi. Tapi tetap saja kenyataan ini membuatku ragu melangkah. Bagaimana mungkin aku bisa tenang menikahi wanita yang menyimpan lelaki lain di hatinya? Bagaimana mungkin aku bisa hidup bersama sebagai suami istri dengan wanita yang mencintai pria lain?

Membayangkannya saja hatiku sudah bagai disulut bara! Bukan sekedar kecemburuan yang berkobar, tapi harga diriku sebagai lelaki juga terusik. Andai saja waktu bisa diputar ulang.

Penasaran apa yang sebenarnya terjadi?

Silakan lanjut di sini...?

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8106/usai-ijab-kabul

  • view 94