Melody Merdekawati

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Melody Merdekawati

Andre Wicaksana

NAMANYA? Melody Merdekawati. Nama yang patrotis memang. Bukan tanpa alasan nama sepatriotik itu diberikan orangtuanya. Karena dia lahir tiga hari setelah perayaan HUT kemerdekaan RI, tepatnya tanggal 20 Agustus, 17 tahun yang lalu. Dia?

Sebuah gebrakan di bahu membuyarkan lamunanku. Yoga duduk di sebelahku sambil terkekeh. ?Masih di sini, aja? Cuma ngeliatin doang? Belum berani nyamperin??

Aku nyengir. Mati kutu! Yoga tahu, sudah hampir setengah jam aku duduk di sini. Memperhatikan Mel dan dua konconya sedang asyik ngobrol. Entah sedang mendiskusikan apa. Sementara aku melamunkannya.

?Aku bingung cara memulainya, Ga,? sahutku.

Lagi Yoga terkekeh. ?Cara memulai? Kamu ini? kayak tidak kenal Mel saja??

?Justru karena aku sangat mengenalnya, maka aku bingung. Aku tahu betapa angkuh dan keras kepalanya dia.?

?Angkuh dan keras kepala? Mel?? Yoga mengulangi ucapanku. ?Kemarin kau bilang, kesalahpahaman dengan Mel karena salahmu juga. Karena kamu terlalu percaya kata-kata Putri. Tidak cek dan ricek. Terlalu over reactive. Kalau memang begitu, kamu yang harus minta maaf pada Mel. Bukan begitu??

?Oh.. ah? eh, itu?? Aku tergugu.

?Sebenarnya, yang angkuh dan keras kepala itu, Mel atau kau sendiri??

Lagi aku mati kutu. Yoga benar. Mungkin memang aku yang angkuh. Mungkin memang aku yang keras kepala. Mengapa tidak dari dulu mendekati Mel dan meminta maaf? Mengakui kesalahan karena memutuskan menjauhinya. Seharusnya aku tidak seektrim itu. Tidak memutuskan hubungan persahabatan yang manis hanya karena hasutan Putri.

?Terus terang, aku takut, Ga. Aku khawatir, Mel masih marah padaku. Bagaimana kalau dia menolakku? Apa mungkin dia mau membantuku? Pasti dia berpikir, aku mendekati dan minta maaf, hanya karena kepepet dan butuh bantuannya.?

?Lha, memang begitu kenyataannya, kan?? Yoga kembali menggoda.

?Ya, tidak gitu juga.? Sebenarnya, aku pengen baikan lagi dengan Mel.?

?Jadi kamu nyesal menolak Mel? Baru nyadar Mel itu walau kadang angkuh dan keras kepala, sebenarnya hatinya tulus? Tidak suka iri dan hasut seperti Putri? Tidak??

?Ah, sudah! Susah ngomong sama kamu! Bukannya bantuin, malah tambah ruwet!? Aku berdiri, dan pergi meninggalkan Yoga yang kembali tertawa menggoda.

?Hei, Ndre! Bukankah kau sangat mengenal Mel? Kamu pasti tahu titik lemahnya, kan? Gunakan itu untuk membujuknya! Kau dengar?? Yoga masih sempat berteriak.

Aku pura-pura tak mendengar. Aku bergegas menjauh, mencari sudut yang lain untuk memperhatikan Mel dan dua sohibnya, Sisi dan Linda. Kembali memikirkan cara mendekati Mel dan meminta bantuannya.

Mel? Mel?! Melody Merdekawati. Anak itu sebenarnya manis. Meski dengan dandanan seadanya. Rambutnya yang lurus sebahu lebih sering diekor kuda. Wajahnya polos tanpa make up. Hanya bedak bayi tipis yang semakin siang kian luntur tergerus keringat, karena Mel tergolong aktif dan tidak bisa diam. Namun tetap saja wajah yang memiliki bibir tipis, hidung mungil, dan mata agak sipit itu terlihat manis. Tingginya juga semampai dengan berat proporsional. Secara keseluruhan, Mel sebenarnya cukup menarik.

Tapi Mel galak. Itu yang membuat cowok berpikir dua kali menjadikannya pacar. Kadang angkuh dan keras kepala. Aku hapal benar sifatnya, karena sejak kecil berteman. Rumah kami berseberangan gang. Lalu sejak SD sampai sekarang, selalu satu sekolah. Makanya kami berteman lumayan akrab. Sering berantem, tapi cepat baikan. Pertengkaran yang justru membuat kami semakin akrab. Membuat orang mengira kami pacaran.

Pacaran dengan Mel? Ih, terlintas dalam pikiranku pun tidak! Punya pacar segalak Mel? Uh, bisa-bisa setiap saat, setiap detik, kerjanya berantem melulu. Bisa stress aku dibuatnya.

Lalu Putri hadir. Dia murid kelas sepuluh, adik kelas kami. Cantik dan ayu. Feminim dan lembut. Benar-benar bertolak belakang dengan Mel. Tapi sama aktifnya. Maka sebagai Ketua Osis, aku cepat akrab dengannya. Keakraban yang katanya membuat Mel cemburu. Dari Putri pula aku tahu, diam-diam ternyata Mel naksir aku. Ternyata dia memendam harapan lebih padaku, tidak sekedar bersahabat.

Aku shock. Selama ini aku hanya menganggap Mel sahabat, tidak lebih. Harapan terpendam Mel membuatku kaget sekaligus takut. Itu yang membuatku memutuskan menjaga jarak dengannya. Sejak itu aku selalu menghindar. Aku menjauhinya. Agar misi ini berhasil, aku sengaja semakin akrab dengan Putri. Membuat orang salah paham dengan mengira kami pacaran.

Sekarang aku memerlukan bantuan Mel. Benar-benar membutuhkannya. Lalu bagaimana caraku untuk meminta? Sementara aku sedang menjauhinya dengan membabibuta. Sama sekali tanpa penjelasan dan alasan.

Tapi aku harus! Hanya Mel yang bisa membantu. Kalau tidak, Pak Rusdi --- Kepala Sekolah, pasti memarahiku. Pasti beliau akan mengomeliku. Atau kalaupun tidak, beliau pastinya merasa kecewa. Dan akulah penyebabnya.

Tidak! Bagaimanapun, ini adalah tanggungjawabku sebagai Ketua Osis. Ini demi menjaga nama baik sekolah. Bila sekolah kami mengundurkan diri dari perlombaan ini, omelan Pak Rusdi bukan masalah, tapi nama baik sekolah yang akan tercoreng. Apa nanti kata orang-orang Dinas Pendidikan? Bukan hanya Pak Rusdi sebagai kepala sekolah yang malu, tapi seluruh penghuni sekolah, termasuk seluruh siswa.

Aku menghela nafas. Aku harus bisa menekan egoku. Tak peduli harga diriku jatuh di mata Mel, karena menghiba-hiba bantuannya. Yang penting, nama baik sekolah terselamatkan. Yah, ini tanggungjawabku! Aku harus bisa.

Tiba-tiba aku teringat kalimat terakhir Yoga. Katanya, titik lemah Mel bisa kugunakan untuk membujuknya. Mungkin nasihat ini bisa kumanfaatkan.

Bukankah dulu kami juga sering bertengkar dan kemudian baikan lagi? Kucoba mengingat-ingat, bagaimana kami bisa baikan dengan mudah setelah musuhan. Setelah merasa yakin, kubulatkan tekat. Sengaja kutunggu Mel dekat persimpangan gang. Saat itu dia sudah sendiri, tidak lagi bersama dua konconya.

?Mel, kamu ikut gerak jalan, ya?? kataku tanpa basa-basi.

***

Melody Merdekawati?????

NAMAKU Melody Merdekawati. Yah, sebuah nama yang hebat.? Kata Ayah, nama itu diberikan karena saat lahir nada-nada kemerdekaan masih nyaring berkumandang. Baik lewat televisi, radio, maupun pengeras suara yang digunakan panitia lomba perayaan HUT RI. Nama yang kadang membuatku terbebani. Seperti kejadian kemarin misalnya?

?Mel, kamu ikut gerak jalan, ya??

Aku tertegun. Semula sempat berbunga-bunga ketika Andre tiba-tiba muncul di hadapanku. Tampaknya, dia sengaja menunggu di persimpangan gang. Setelah sekian lama, baru kali ini aku kembali berdekatan dengannya. Tapi kalimat pertama yang meluncur dari bibirnya benar-benar membuatku kecewa.

Keruan saja aku cemberut. Tak bisa menyembunyikan perasaan tidak suka. ?Bukankah anggotanya sudah lengkap? Genknya Putri ada lima orang. Tinggal menambah enam orang kan??

?Itulah masalahnya Mel.? Andre menghela nafas. Berat. ?Putri mengundurkan diri. Sudah itu, semua anggota genknya juga ikut mundur. Gimana aku nggak bingung??

Keningku terangkat. Putri mengundurkan diri? Ajaib benar! Bukankah semula dia paling bersemangat? Saking semangatnya sampai aku tersisih. Terutama karena Andre sangat mendukungnya.

?Kenapa dia mundur?? tanyaku penasaran.

Andre nyengir. ?Dia ngambek. Marah sama aku.?

Aku mencibir. ?Rasain!?

Andre menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. ?Tapi aku gimana dong, Mel? Kita kan nggak mungkin mundur dari lomba. Bisa-bisa diamuk Kepsek aku! Kan, gawat!?

Lomba gerak jalan yang akan kami ikuti ini memang bukan lomba gerak jalan biasa. Lomba ini diadakan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-67. Jarak yang ditempuh sepanjang 17 kilometer --- melambangkan tanggal 17. Setiap regu beranggota 8 orang--- dengan 3 cadangan, sama dengan Bulan Agustus yang bulan ke-8. Kemudian yang diundang sebagai peserta adalah SMP dan SMA sebanyak 45 regu yang menandakan tahun 45. Nah, bila sekolah mereka mengundurkan diri, berarti jumlahnya tidak 45 lagi. Itulah sebabnya peserta yang mendaftar tidak boleh mundur. Apalagi saat lomba tinggal seminggu.

?Bukan urusanku!? cetusku cuek.

Pengen tahu kelanjutan kisah antara Andre dan Mel serta Putri...?

Ada di sini....

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7980/melodi-merdekawati

  • view 110