Sayap-sayap Terluka

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Sayap-sayap Terluka

Prolog

PINTU rumah terbuka. Sesosok tubuh terbungkus busana muslimah berwarna biru laut lengkap dengan jilbab bordir ke luar. Dia memeluk buku-bukunya, dan melangkah menuju mesjid. Jalannya tenang, tak tergesa-gesa. Matanya lurus menatap ke depan.

Lutfi buru-buru menggeser sedikit duduknya, agar terlindung. Dia melirik arlojinya. Pukul 15.00 lewat lima. Seperti jam weker, dia selalu tepat waktu. Pagi berangkat ke madrasah pukul 07:00. Pulang pukul 14:00. Kemudian keluar rumah lagi pukul 15:00, untuk mengajar di TPA mesjid.

?Heh!?

Lutfi terlonjak karena tepukan tiba-tiba singgah di bahunya. Munawar menggeleng-geleng menatapnya.

?Kamu tahu, Lut, aku bosan melihat tingkahmu. Apa kamu sendiri tidak bosan?? tanyanya.

?Maksudmu?? Lutfi tampak tak mengerti.

?Kamu sudah berapa tahun memperhatikannya? Sejak kamu pindah ke sini? Apa tidak bosan?? cecar Munawar. ?Kalau kamu memang tertarik kepadanya, mengapa tidak langsung kamu lamar saja dia??

?Lamar?? Untuk kedua kalinya Lutfi terlonjak kaget.

?Iya. Daripada kamu hanya memperhatikan dia dari jauh. Lebih baik kamu melamarnya. Mumpung dia masih sendiri juga. Kalau memang jodoh, kamu bisa mempeloti dia siang malam,? ujar Munawar tertawa.

Lutfi tertegun. Harus diakui, dia memang tertarik dengan wanita itu. Bukan hanya sejak dia pindah ke daerah ini, tapi jauh sebelumnya. Tapi selama ini tak pernah terlintas di benaknya untuk mengajukan lamaran sebagaimana yang diusulkan Munawar.

?Kenapa bingung begitu? Wajar, bila pria tertarik pada seorang wanita. Sah-sah saja, asal berjalan di koridor yang ditetapkan Allah. Ingat, menikah itu sunnah, untuk melengkapi dien!? lanjut Munawar.

Lutfi masih terdiam. Diam-diam hatinya tergiris. Ya Allah, bila kami menikah, apakah itu berarti kami sudah melengkapi dien-Mu?

?Kamu ragu? Takut ditolak?? Munawar kembali menepuk pundaknya. ?Jangan khawatir, aku bisa bantu. Dia kan dekat dengan istriku. Walau, memang kata Raida, dia itu agak misterius. Tapi selagi niat kita ikhlas, Insya Allah, jalannya akan dimudahkan.?

Lutfi masih tercenung.

***

Gita Larasati

?APA ini?? tanyaku terheran-heran saat Raida menyodorkan amplop ke tanganku.

?Bukalah!? suruhnya tanpa menjawab pertanyaanku.

Penasaran, kubuka amplop yang tidak dilem tersebut. Selembar foto terpampang. Ada seraut wajah tampan seorang lelaki di sana. Buru-buru foto itu kumasukkan lagi.

?Apa ini, Raida?? tanyaku semakin bingung.

Raida tersenyum penuh arti.

?Sebuah lamaran!? jawabnya singkat.

?Lamaran?? Aku kian terlongo dibuatnya.

?Jangan berlagak bodoh, Lara! Kamu bukan gadis ingusan lagi. Hampir uzur malah! Aku yakin, kamu bukannya tidak tahu apa itu lamaran. Dan aku juga yakin, kamu juga sudah mengetahui proses ?pedekate?? dalam Islam berbeda dengan gaya anak muda sekarang!? ujar Raida, cuek dan ceplas-ceplos sebagaimana biasanya. Padahal, dia ibu dua bocah yang lucu-lucu. Tapi tetap saja gayanya seperti ABG gaul yang kebanyakan nonton sinetron remaja.

?Aku tahu itu. Tapi? apa hubungannya denganku?? tanyaku masih tidak mengerti, karena Raida memang tidak menjawab pertanyaanku secara gamblang.

?Kamu benar-benar naif, Ra! Pantas saja sampai sekarang kamu masih menjomblo saja. Masak aku harus memberi penjelasan secara harfiah?? Dia menggeleng-geleng kepalanya yang tertutup jilbab ungu terong. ?Baiklah, Nona Naif! Dengar, ada seorang pemuda tampan yang berminat menjadikanmu istrinya. Karena itu, dia meminta bantuanku untuk melakukan ta?aruf. Nah, di dalam amplop ini ada foto dan biodatanya!?

Raida merebut amplop di tanganku. Kali ini dia mengeluarkan sendiri foto itu dan mengacungkannya hanya sekitar sepuluh senti dari mataku.? Mau tak mau, mataku kembali menangkap raut wajah tampan itu.

Rambutnya lebat dan bergelombang terpotong rapi. Alis yang hitam hampir bertaut. Mata kelam dengan sinar yang tajam. Hidung mancung. Bibir bagus. Rahang yang kokoh dihiasi jenggut tipis. Kulit yang coklat namun bersih. Dia tersenyum lembut.

Astagfirullah?! Buru-buru aku membuang muka dengan wajah pias. Takut wajah tampan itu memancing pikiran kotor di benakku.

?Bagaimana? Dia tampan bukan?? sergah Raida.

Tampan? Raida becanda? Dia justru sangat tampan. Bila ada produser atau sutradara melihat, mungkin akan ditawari main sinetron. Namun di hadapan Raida, aku tidak menjawab, cuma mengangguk kecil.

?Namanya Ahmad Lutfi Fadillah,? Raida membalik foto, memperlihat sederet biodata yang tertulis di sana. ?Sebagaimana namanya, dia tidak hanya tampan wajahnya, tapi juga hanif. Aku sendiri heran, minyak pelet apa yang kau gunakan, sehingga dia tertarik padamu dan ingin menjadikan kamu istrinya. Katanya, dia sering memperhatikanmu dari jauh.?

Aku mengerutkan kening. ?Masak? Perasaan, aku tidak pernah melihatnya.?

?Karena kamu buta!? ceplos Raida gemas. ?Bagaimana kamu bisa lihat, bila tak pernah memandang orang lebih dari tiga detik. Jangankan lelaki, aku saja tidak pernah kamu pandang. Makanya, kadang kupikir, kamu benar-benar rabun.?

Aku tersenyum tipis. Raida kalau mengkritik memang tak pernah pakewuh.

?Bagaimana??

Aku mendongak. ?Apanya yang bagaimana??

?Tolol!? Mata Raida melebar. ?Tentu saja tawaran ta?aruf-nya. Terima atau tidak? Tapi bila kamu tolak, berarti kamu lebih goblok dari yang aku duga.?

Aku memalingkan muka, menghindari tatapan Raida yang menuntut. Duh, bagaimana aku harusnya menjawabnya, ya Rabb? Tapi aku tak mungkin bisa mengelak begitu saja dari Raida. Aku tahu benar, dia bukan orang yang cepat menyerah.

?Maaf, Da! Aku? be ?lum si??

?Bohong!? Raida memotong suaraku yang terbata sebelum kalimatnya benar-benar selesai. ?Bohong bila kamu bilang kamu belum siap. Anak kecil pun pasti akan tertawa mendengarnya. Bagaimana mungkin kata belum siap keluar dari bibir wanita yang usianya sudah berkepala tiga sepertimu??

Aku menggigit bibir. Meski aku memaklumi sifatnya, tetap kata-katanya bagai cambuk melecut hatiku. Pedih! Mataku mulai terasa panas menahan perihnya.

?Apakah? hanya umur yang jadi patokan kesiapan untuk melangkah ke gerbang pernikahan?? tanyaku lirih. ?Aku belum siap karena aku??

?Aku tahu.? Lagi-lagi dengan telak Raida memotong kalimatku. ?Kamu pernah terluka karena cinta. Meski kamu tidak mengatakannya, aku tahu itu. Soalnya, tidak mungkin seorang gadis kota yang cantik sepertimu, dengan pendidikan yang lumayan tinggi, mau pindah ke pinggiran kota kecil, menghabiskan waktu mengajar di madrasah dan TPA, bila bukan disebabkan alasan yang masuk akal.

Kemudian melihat betapa dinginnya sikapmu terhadapi lawan jenis, dan bagaimana acuhnya kamu bila disinggung masalah pernikahan, aku bisa meraba alasan tersebut. Pasti kamu pernah terluka karena cinta, dan untuk mengubur luka itulah, maka kamu mengasingkan diri di sudut kota kecil ini.?

Suara Raida terdengar sangat mantap, sangat yakin dengan apa yang diucapkannya. Dia kemudian mendekat, dan menepuk bahuku.

?Aku memang sengaja tidak menanyakan langsung padamu, Ra. Aku tidak ingin mengorek luka yang ingin kamu kubur. Namun, bila kamu juga mengubur cintamu bersama luka itu, aku jelas menentangnya. Kutegaskan padamu, siapapun dia, lelaki yang membuatmu terluka, dia sama tak berharga untuk kamu tangisi. Dia sama sekali tak berharga untuk kamu sesali sehingga kamu menutup pintu hatimu sama sekali. Dia sama sekali tidak layak untuk itu.?

Aku menunduk dalam-dalam. Duh, Rabbi! Apa yang harus kukatakan? Apa? Tak mungkin kukatakan pada Raida kebenaran yang ada padanya hanya sekitar 25 persen. Tak mungkin kuceritakan padanya 75 persen lainnya yang masih kusimpan rapat-rapat dalam peti rahasia di dasar hatiku. Kebenaran dan kenyataan yang bukan saja menyakitkan dan memilukan, namun juga membuatku menggigil ketakutan.

Rabb, hanya Engkau yang mengetahui rahasia itu. Hanya Engkau yang mengetahui dosaku. Hanya Engkau yang mengetahui aibku. Jangan biarkan masa lalu yang kelam itu kembali menghantui langkah-langkahku, setelah dengan susah payah aku berusaha keluar dari belenggunya.

?Lara!?

?Jangan desak aku, Da! Please?!? Aku menatapnya penuh harap ketika kulihat dia masih menuntut.

Raida menatapku. Aku balas memandangnya penuh permohonan. Aku berharap dikasihani kali ini. Amat sangat. Akhirnya dia menghela nafas panjang.

?Baiklah, aku takkan mendesak. Tapi setidaknya, aku ingin kamu mempertimbangkan. Mintalah petunjuk Allah, supaya tidak salah mengambil keputusan. Ingatlah, yang baik bagimu, belum tentu baik di mata Allah! Sebaliknya, apa yang menurutmu buruk, belum tentu buruk di pandangan Allah! Simpan amplop itu! Minggu depan, kutunggu jawabanmu!?

Raida berlalu. Aku lega, untuk sementara waktu. Aku terkulai di sudut kamar. Rasanya, aku tak mampu bangkit. Beban masa lalu itu, kembali memberati pundakku.

Andai Raida tahu yang sesungguhnya, mungkinkah dia mau menjadi perantara lamaran ini untukku? Andai Raida tahu, masihkah dia menganggap aku layak untuk lelaki hanif yang tampan bernama Ahmad Lutfi Fadillah itu? Andai Raida tahu, masih maukah Raida berada di dekatku dan menganggap aku temannya?

Aku menggeleng galau. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi seandainya Raida tahu. Aku sama sekali tidak seperti bayangannya. Aku tidak seberharga yang diperkirakannya.

Pengen tahu rahasia yang disembunyikan Lara...? Jawabannya ada di sini...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7359/sayap-sayap-terluka

  • view 117