Kinanti

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Kinanti

AKHIR-AKHIR ini hanya nama itu yang mendominasi pembicaraan Fauzi. Sejak dia mengenal cewek itu sebagai seorang mahasiswi baru di fakultas kami beberapa bulan yang lalu.

?Kamu kenal Kinanti, Din?? tanyanya waktu itu.

Dahiku berkerut. ?Kinanti?? ulangku bingung.

?Masa kamu nggak kenal? Paling tidak kamu pasti tahu.?

Aku menggeleng.

?Astaga! Dia kan bintangnya angkatan tahun ini. Waktu OPSPEK dia sudah menyita perhatian banyak orang. Nggak cuma panitia, tapi juga para peserta.?

?Begitukah?? sahutku tanpa minat.

Mestinya Fauzi tahu, aku tak pernah tertarik dengan hal begituan. Aku bukan wartawan gosip atau cewek yang nggak punya kegiatan selain ngerumpi tidak karuan. Aku masih banyak urusan yang harus dipikirkan.

Apalagi waktu OPSPEK aku menjabat bendahara. Lebih banyak berada di kantor dengan setumpuk perhitungan keuangan daripada di tengah peserta. Beda Fauzi yang bertugas sebagai koordinator Seksi Disiplin dan Ketertiban. Kerjanya memang mengawasi para peserta OPSPEK beserta beberapa anak buahnya.

?Anaknya emang manis, sih!? Fauzi meneruskan. ?Imut-imut banget. Dengan wajah kekanak-kanakan, mata bening dan rambut sebahu diponi. Menambah kesan polos dan lugu. Perawakannya juga kecil mungil, cocok dengan wajahnya.?

Aku menatap Fauzi. Dia bicara dengan mata menerawang. Seakan tengah membayangkan wajah yang digambarkannya. Astaga! Apa-apaan? Apa dia sengaja melakukannya untuk memancing kecemburuanku?

?Tapi yang paling menggemaskan cueknya itu. Minta ampun! Padahal anak-anak suka sekali ngerjain dia. Sengaja nyari-nyari kesalahannya agar ada alasan menghukumnya. Kin malah keliatan enjoy aja. Nggak tampak malu, apalagi takut. Bahkan waktu dihukum nyanyi dangdut, enak saja dia berjoget gaya Vety Vera. Konyol, nggak??

Bukan konyol lagi, tapi edan! Sahutku tanpa suara. Dan entah apa lagi cerita Fauzi waktu itu. Aku memilih menulikan telingaku. Kupikir ceritanya akan berakhir sampai di situ. Ternyata tidak.

?Sekarang ketahuan Kin tomboy berat,? kata Fauzi setelah seminggu kegiatan kuliah dimulai. ?Kamu liat dia masuk kuliah tadi, kan??

Aku menggeleng. Aku belum mengerti maksud Fauzi. Aku benar-benar lupa dengan nama Kin yang disebutkannya.

?Itu, yang pake sepatu kets dekil, jeans lusuh, kemeja kedodoran, dan topi tua. Gayanya cuek minta ampun. Bawaannya cuma selembar buku dan sebilah pulpen.?

Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya aku berhasil juga mengingat nama Kin. Tapi aku tidak berhasil mengingat seseorang yang ciri-cirinya seperti gambaran Fauzi. Maklum, kalo jalan aku memang tidak biasa jelalatan. Paling kalau ada wajah yang kukenal, baru kuberikan senyum dan sapaan.

?Tapi jangan dianggap main-main. Walau senjatanya cuma selembar buku dan sebilah pulpen! Pemegang NEM tertinggi angkatan baru kan Kinanti.?

Aku cuma manggut-manggut. Pura-pura menyimak cerita Fauzi. Padahal sih, seperti dulu, aku lebih berkonsentrasi pada tugas penyusunan proposal Pergelaran Musik kampus yang akan diadakan fakultasku.

?Kinanti ikutan MAPALA, Din!? lapor Fauzi ketika dia selesai mengadakan Diklat MAPALA. ?Ngeliat badannya yang kecil mungil begitu, aku sempat nggak yakin. Apa kuat dia mendaki gunung yang sulit dan terjal? Tapi keraguanku langsung terjawab saat Diklat. Dia terpilih jadi calon anggota terbaik. Kecil-kecil begitu, ternyata powernya besar. Kata teman-temannya sih, Kin emang sudah jadi macan betina gunung sejak SMA. Pantas tampak berpengalaman banget.

Bila penasaran ada apa sebenarnya dengan Fauzi dan Kinanti serta Dinda, silakan temukan jawabannya di sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7805/kinanti

  • view 73