Kabut di Lontontour

Kabut di Lontontour

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Kabut di Lontontour

Menjelang Fajar, 22 Nopember 1859

DEWI malam masih menebar kelam ke permukaan Tanah Borneo, sementara sang bagaskara terlelap dalam selimut harizon. Kegelapan semakin pekat karena berbaur dengan kabut embun hasil uap air yang terhisap dari ribuan sungai dan anak sungai yang tertoreh di Bumi Kalimantan.

Kabut yang melingkupi Sungai Teweh, salah satu sungai yang mengalir di pedalaman Kalimantan Tengah mendadak tersibak pendar cahaya terang benderang. Sungai Teweh terbelah. Sebuah kapal perang besar dan megah meluncur gagah, mengusir kegelapan di sepanjang sungai.

Sontak, keheningan terkuak. Seolah ikut terkejut, seluruh binatang penghuni sekitar Sungai Teweh terjaga. Nyaris bersamaan, mereka bersuara, seakan mengungkapkan kekaguman pada benda asing yang berenang menyusuri sungai.

?Onrust?, nama itu terukir indah di badan kapal yang tampak sangat kokoh. Bendera merah putih biru berkibar gagah di puncak layarnya. Sementara di geladak, berbaris deretan meriam yang siap menyalak, dijaga puluhan prajurit berkulit putih berseragam? serdadu. Mereka mengawasi pemandangan sepanjang Sungai Teweh dengan tatapan waspada.

Dalam kabin kapal yang mewah, berkumpul beberapa prajurit berpangkat tinggi. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja bundar, sedang serius berdiskusi. Mereka adalah Komandan Van der Velde, Letnan I Bangert, Van Perstel, dan Van der Kop yang ditugaskan memimpin ekspedisi ke Sungai Teweh guna menemui Temenggung Surapati untuk sebuah misi penting.

?Letnan yakin, Temenggung Surapati mau membantu kita mengatasi Pangeran Antasari?? tanya Van der Kop yang bertubuh tinggi kurus, berhidung bengkok, dan bermata setajam elang.

?Saya optimis,? ujar serdadu berpangkat letnan menyahut mantap. Dia bertubuh lebih gempal. Berusia sekitar 40-an. Namun kumis dan jenggotnya yang tidak beraturan membuatnya kelihatan jauh lebih tua dari usianya yang sebenarnya.???????

?Benarkah Letnan pernah menjalin hubungan persahabatan dengan Temenggung Surapati?? Kali ini Van Perstel yang bertanya. Dia adalah yang paling muda di antara mereka.

?Itulah yang membuat saya yakin. Dua tahun lalu, Temenggung Surapati dan kita pernah menjalin persahabatan melalui hubungan dagang. Bahkan saya dan Komandan Militer Marabahan Stuurman JJ Meyer pernah dijamu olehnya.?

?Berarti Letnan sudah sangat mengenal Temunggung Surapati. Bagaimana menurut pendapat Letnan? orang itu?? tanya Van der Velde, sangat ingin tahu.

?Selain seorang pemimpin, Temunggung Surapati seorang pengusaha dan saudagar. Bila kita memberikan tawaran yang menguntungkan, saya yakin, dia tidak akan keberatan membantu kita. Selain kita tawarkan hadiah, sebaiknya kita juga memberinya gelar kebangsawanan--- Pangeran, misalnya. Pastinya dia semakin tidak bisa menolak,? tutur Letnan Bangert bersemangat.

Komandan Van de Velde mengangguk-angguk sambil mengelus-elus kumisnya yang berwarna kepirang-pirangan.

?Baik. Sekarang, kita diskusikan isi surat untuk Temenggung Surapati agar dia tertarik dan mau membantu kita!?

?Sebaiknya memang begitu.?

Kemudian mereka kembali terlibat dalam diskusi serius. Sementara Kapal Onrust terus melaju, mendekati Desa Lontontour, sebuah kampung yang terletak di antara Muara Teweh dan Buntok.

Bersambung ke sini...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7341/kabut-di-lontontour

  • view 91