Betis Indah Ken Diah

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Betis Indah Ken Diah

?WAH, betismu indah sekali!?

Refleks Diah menurunkan ujung kulotnya.

?Ah, Kak Fatma bisa saja,? ujarnya dengan wajah merona, tersipu.

?Aku memuji sejujurnya, karena aku bukan tipe orang yang suka berbasa-basi, apalagi sengaja menjilat dengan menebar pujian,? tegas Fatma.

Diah tersenyum tipis. Bukan sekali ini saja dia mendengar komentar tentang betisnya. Bahkan mungkin sudah sejak lahir, dia telah terbiasa mendengar pujian serupa.

?Ketika bidan membawamu kepada kami beberapa menit setelah dilahirkan, semua langsung memujimu sebagai bayi perempuan yang sangat cantik. Namun, dari seluruh anggota tubuhmu, yang paling menarik adalah kakimu. Entah kenapa, bentuk kakimu terlihat begitu sempurna. Terlebih kulit yang membungkusnya tampak cerah dan bercahaya. Benar-benar bercahaya sehingga orang yang melihat langsung terpikat," cerita Eyang Putrinya belasan tahun lalu. ?Oleh karena itulah, Yangti usul diberinama Ken Diah.?

?Apa hubungannya betis dengan nama, Yangti?? debatnya saat itu.

?Pernah mendengar kisah Ken Dedes dan Ken Arok? Konon, kecantikan Ken Dedes tampak sempurna karena keindahan betisnya yang luar biasa. Katanya, selain indah, betis Ken Dedes juga bercahaya. Ini yang membuat para pria tergila-gila. Bahkan Ken Arok nekat membunuh Tunggul Ametung, suami Ken Dedes untuk merebut istrinya. Dari tragedi cinta? inilah akhirnya berdiri Kerajaan Singosari, kerajaan terbesar di Pulau Jawa pada jaman itu. Kerajaan yang menyimpan banyak kisah tragedi, dendam dan cinta.?

Saat itu, Diah kecil sangat suka mendengar cerita dan dongeng Eyang Putri, terutama cerita tentang Ken Dedes yang menjadi inspirasi namanya. Meski demikian, dia juga tidak ingin keindahan betisnya menjadi penyebab terjadinya tragedi berdarah sebagaimana yang dialami Ken Dedes.

Sejak saat itu pula, Diah mulai terbiasa mendengar pujian dan decak kekaguman tentang betisnya. Demi menjaga keindahan bentuk kakinya, Ayah sering mengajaknya olahraga, terutama jogging. Lama-lama, Diah jatuh cinta pada olahraga mengayuh kaki ini. Bukan hanya karena bermanfaat bagi bentuk kakinya yang semakin terlihat langsing dan jenjang. Juga karena dia bisa leluasa memamerkan keindahan kakinya kepada orang lain.

Beranjak remaja, Ayah mendaftarkan Diah sebagai anggota sebuah klub atletik di kotanya. Mulai saat itu, dia mulai menekuni olahraga lari secara intensif. Spesialisasinya, lari gawang. Pasalnya, dia suka sekali berlari sambil sesekali mengayunkan kaki tinggi-tinggi dengan melakukan lompatan.

Karena rajin berlatih, sebentar saja Diah mulai mengukir prestasi di gelanggang atletik. Satu-satu, medali dan piala dikumpulkannya. Bahkan piagam tak bisa lagi dipajang, karena akan menutupi sebagian besar dinding rumah. Akhirnya semua ditumpuk, disimpan di lemari khusus bersama jajaran piala dan medali yang ditata sedemikian rupa.

?Ayo berangkat, Di! Kok, malah melamun!? Fatma menepuk pundaknya.

Rangkaian masa lalu buyar dari benak Diah. Dia kembali terlempar ke masa kini. Sekarang, dia adalah pengajar TPA di Mesjid Raudatul Jannah. Baru sebulan dia bergabung.

?Bagaimana rasanya mengajar anak-anak TPA?? tanya Fatma tiba-tiba.

Diah diam, berpikir sejenak. ?Rasanya, tidak jauh berbeda dengan apa yang Kak Fatma rasakan.?

?Sama?? Masak??? Fatma membeliak setengah tak percaya. ?Kondisi kita kan berbeda. Kalau aku, memang memerlukan pekerjaan ini. Kebetulan, hanya mengajar anak-anak mengaji kemampuanku. Sementara kamu, jelas lain. Keluargamu berkecukupan. Tidak bekerja pun, bagimu tidak masalah. Kalaupun harus bekerja dengan alasan mencari pengalaman misalnya; Bahasa Inggrismu lancar. Kemampuan ini akan sangat laku dijual di beberapa lembaga kursus yang jelas honornya juga lebih setimpal.?

Diah tersenyum.

?Meski kondisi kita berbeda, namun saya yakin motivasi kita sama. Bukankah jauh di lubuk hati Kak Fatma, bukan sekedar uang yang menjadi alasan menekuni pekerjaan ini, kan??

Alis Fatma terangkat. Diah selalu begitu. Selalu menjawab pertanyaan dengan kalimat yang justru mengundang lebih banyak pemikiran. Penuh makna memang. Pertanda yang mengucapkannya memiliki keluasan wawasan dan kebijakan yang dalam. Padahal, usianya lebih muda. Namun ucapannya selalu menggambarkan kedewasaan dan kematangan.

Diam-diam Fatma menyimpan kekaguman sekaligus kecemburuan pada adik tingkat yang baru dikenalnya setengah tahun lalu saat pengajian akbar yang diadakan Rohis. Diah mahasiswi pindahan. Tidak tanggung-tanggung, pindahan luar negeri. Tidak mengherankan Bahasa Inggrisnya lancar. Bahkan perawakannya pun kebarat-baratan, meski berkulit kuning langsat. Pasalnya, dia berbadan langsing dan ramping. Meski mengenakan baju panjang longkar, tetap saja tidak bisa menutupi postur proposionalnya.

Diah bukan pengurus tetap Rohis, tapi setiap ada kegiatan, dia selalu dilibatkan dalam kepanitiaan. Bukan apa-apa. Bila dana minim, Diah dengan senang hati nomboki. Jadi, kendati tidak pernah mengatakan secara terang-terangan, semua bisa menyimpulkan dari keluarga golongan mana dia berasal. Apalagi, dia juga kost di kompleks perumahan elite.

Itulah sebabnya kadang Fatma tak habis pikir, mengapa Diah langsung mengajukan diri saat dia bercerita TPA tempatnya mengajar kekurangan guru. Bukan itu saja, dia rela pindah ke kamar sewaan murahan di sebelahnya agar lebih mudah menjalankan tugas.

Semula Fatma sempat khawatir, Diah tidak terbiasa dengan kehidupan perkampungan seperti tempat tinggalnya. Maklum, meski letaknya di tengah kota, kondisinya sama sekali tidak bisa dibanggakan. Gang-gangnya sempit dihiasi sungai kecil yang airnya sudah lebih mirip comberan. Rumah-rumah semi permanen berhimpitan, jauh dari syarat-syarat kesehatan.

Belum lagi penduduknya padat dengan berbagai karakter. Ibu-ibu tua muda kurang kerjaan yang lebih sering terlihat ngerumpi di pinggiran gang. Bapak-bapak dan anak-anak muda pengangguran lebih suka menghabiskan waktu nongkrong di pojok gang, menggelar tikar sambil main kartu atau dadu demi memenangkan uang sekedar membeli rokok dan minuman. Kemudian bocah-bocah yang malas ke sekolah, mulai belajar menghamburkan uang saku dengan jajan undian kecil-kecilan yang menjanjikan hadiah makanan atau mainan.

?Bukankah kampung ini cocok untuk ladang dakwah?? jawab Diah ketika dia bertanya. Jawaban yang membuatnya lagi-lagi kehabisan kata-kata.

Mohon maaf, bersambung ke sini, ya..!

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7357/betis-indah-ken-diah

  • view 144