Don Robinson

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Don Robinson

SUASANA kelas tegang. Pak Basuki sedang memberikan beberapa pertanyaan, sebelum pelajaran dimulai. Bila murid yang ditunjuk tidak bisa menjawab, hukumannya cukup memerahkan muka. Disuruh menjewer kuping sendiri, atau mencubit lengan sendiri, atau yang sejenis itu.

Tiba-tiba pintu kelas diketuk dari luar. Ketegangan mencair sesaat. Semua mata langsung tertuju ke pintu yang membingkai sosok mungil Amara.

?Maaf, Pak, mengganggu! Boleh saya pinjam Ken sebentar?? tanya Amara sambil mengangguk hormat.

?Oh, tentu boleh!? Pak Basuki menoleh ke arah di mana Ken duduk. Dia memberi isyarat. ?Silakan! Tapi jangan lupa mengembalikannya, ya? Kan, cuma pinjam.?

Amara tersenyum. Pak Basuli memang guru yang rada kocak.

?Tergantung Bapak Kepala Sekolah, mau mengembalikan atau tidak,? jawab Amara tak kalah konyol.

Ken yang sudah berada di dekat Amara, langsung memukul bahunya. Mereka kemudian pamit pada Pak Basuki.

?Anak AFS itu sudah datang,? jelas Amara sebelum Ken bertanya. ?Sekarang ada di kantor, dan Pak Anwar menyuruhku ke sana.?

?Lho, yang dipanggil kan kamu. Kenapa aku dilibatkan?? protes Ken.

?Oh, please, Ken! Kamu harus kenal dia juga. Dia calon anak buahmu.?

Ken tersenyum masam. Alasan yang benar-benar sempurna. Padahal dia tahu pasti, sahabatnya itu cuma pengen ditemani. Lagipula apa yang bisa dia bantu? Bahasa Inggrisnya berantakan. Lain dengan Amara yang sempat menjuarai pidato berbahasa Inggris.

Gosip tentang sekolah yang akan menerima seorang siswa AFS dari Amerika memang lagi hangat belakangan ini. Minggu lalu Kepala Sekolah sudah mengumumkannya secara resmi. Dia mengingatkan seluruh penghuni sekolah agar menyambut kedatangannya dengan ramah dan bersahabat.

Tapi Ken lebih dulu mengetahui kabar itu karena diberitahu Amara. Sedang Amara sendiri tahu langsung dari Pak Anwar, Kepala Sekolah, karena dia Ketua Osis sekaligus murid terpintar berbahasa Inggris. Jadi, diberharapkan Amara dapat membantu siswa AFS itu berkomunikasi dan beradaptasi.

Lalu Amara melibatkan Ken juga. Alasannya karena Don, nama siswa AFS itu --- adalah jagoan basket. Jadi tugas Ken untuk mengajaknya bergabung dengan regu basket sekolah. Tujuannya agar dia membagi keahlian dan kemampuannya kepada anggota regu yang lain.

Mereka sampai di depan kantor. Tampaknya banyak orang berkumpul. Guru-guru dan karyawan lainnya, kecuali yang sedang mengajar. Rupanya ada acara perkenalan. Pemandunya adalah Bu Siti, guru Bahasa Inggris yang sengaja dibebastugaskan. Pantas kelas Fisik yang seharusnya dapat Bahasa Inggris, ribut kayak tikus ditinggalkan sang kucing.

Amara mengetuk bingkai pintu. Semua berbalik, menoleh ke pintu. Saat itulah kerumunan terbuka, dan sosok yang tadi mereka kelilingi terlihat duduk di kursi.

Ken terlongo. Demikian juga Amara.

?Oh, God! Kamu nggak bilang kalau Mr. AFS kita ini seorang negro, Mara,? bisik Ken tertahan.

?Aku juga tidak tahu,? jawab Amara balas berbisik. ?Kupikir yang bakal kita temui makhluk sejenis Tom Cruise atau kayak Bon Jovi.?

Pak Anwar menyambut mereka. ?Masuk, Mara, Ken! Perkenalkan kawan baru kalian dari Amerika!?

Amara menarik lengan Ken. ?Tak apa, Ken. Walau dia Afro-Amerika, tapi tak kalah ganteng dengan bule-bule itu. Seperti Danzel Washington.?

Mereka mendekat. Cowok itu pun berdiri dari kursinya.

Dalam hati Ken menyetujui pendapat Amara. Cowok negero ini memang ganteng. Kulitnya tidak terlalu gelap. Hanya coklatnya lebih tua sedikit dari kulit sawo matangnya Indonesia. Rambutnya yang keriting membentuk gelombang-gelombang indah. Matanya bagus. Bulat, dan jernih. Warna coklat tua di tengahnya, dikelilingi putih bersih. Kesannya seperti danau tenang yang airnya berkilauan. Dan bibir penuh yang selalu menyimpan senyum itu, menambah kesan ramah di wajahnya.

Menurut Ken, dia malah lebih ganteng dari Danzel Washington. Ken sempat terkagum-kagum melihat tubuhnya yang tinggi menjulang, membuat Pak Anwar tak lebih dari sebahunya.

?Hi!? Amara menyapa sambil mengulurkan tangannya. ?I?m Amara Miranti, the head of Student Organization ini this school.?

?Hi! Nice to meet you. I?m Don Robinson,? sahut cowok itu dengan senyum yang semakin melebar.

?Robinson,? gumam Ken. ?Seperti nama toko aja.?

Amara menyenggol lengan Ken.

?And this is Ken. She is the head of sport club in this school.?

Ganti Don menyalami Ken. Ken sempat gugup ketika mata jernih itu berbinar secerah senyumnya.

?Just Ken?? tanyanya.

?Kenita Melati,? sahut Ken agak gagap.

?It?s nice name. How do you do, Ken??

Ken bingung harus menjawab apa. Akhirnya dia cuma mengangguk sambil melirik Amara. Berharap temannya itu membantu menyelamatkannya.

?Don, kami diminta untuk membantumu berkenalan dengan lingkungan dan orang-orang di sekolah ini. Bisa kita mulai sekarang??

?Of course! Memang aku menunggu kalian.?

Setelah pamit pada Pak Anwar dan guru-guru serta karyawan sekolah yang ada di kantor, mereka mulai berkeliling. Amara menjelaskan segala tetek bengek tentang sekolah.

Ken mengikuti mereka. Dalam hati dia bersungut-sungut. Dia sama sekali tidak bisa menangkap isi pembicaraan mereka. Lebih mudah mengartiin percakapan di film atau televisi, karena sudah ada teksnya. Akhirnya dia cuma jadi pengawal tanpa suara.

Maaf, kelanjutannya silakan cari di sini, ya...!

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7570/don-robinson

  • view 87