Never Gonna Dance Again

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Never Gonna Dance Again

Kota Air, 15 Agustus

??????????? I never gonna dance again

??????????? Guilty feet have got no rythem

??????????? Though it?s not easy to pretend

??????????? I know you?re not a fool

???????????

Masih ingat lagu itu, Ry? Sudah lama sekali aku tidak memutarnya. Lagu favorit yang dilantunkan penyanyi idolaku itu sudah lama tidak bergema di kamar. Sejak peristiwa tiga tahun yang lalu. Kamu masih ingat kan, Ry? Aku bercerita sangat detail kepadamu. Bahkan tubuhmu sampai dibanjiri airmataku sehingga sebagian tintanya luntur.

Pasti kamu masih ingat, Ry. Karena aku juga masih sangat ingat, meski sudah tiga tahun berlalu. Bahkan aku masih bisa mengingatnya, meski aku tidak membuka kembali ceritamu. Peristiwa itu, rasanya baru kemarin terjadi.

Kamu mau tahu mengapa aku membongkar kembali kaset favorit dan memutar lagu kesayangan ini di antara puluhan kaset nasyid yang kupunyai? Karena baru saja aku bagai kembali dilemparkan mesin waktu ke masa lalu.

?Ra, kamu mau tolongin aku, nggak?? ujar Padma tadi pagi.

?Tolong apaan?? tanyaku sambil terus menjelajahi situs-situs yang terpampang di layar monitor yang tengah kuhadapi.

?Temani aku meliput malam ini. Kamu tidak sedang ada acara, kan??

?Tidak. Meliput apa??

?Pergelaran tari di sanggar budaya. Masalahnya, barusan aku hubungi pimpinannya untuk diwawancara, katanya masih sibuk mempersiapkan pergelaran. Dia memintaku datang saat pergelaran sehingga bisa menonton sekalian wawancara.?

?Tari?? Aku menoleh setengah kaget.

?Iya, Ra. Please?!? Padma buru-buru pasang muka memelas karena melihat gelagatku yang cenderung menolak.

?Bukan aku tidak mau menolong, Pad,? Aku jadi serba salah. ?Tapi meliput tari di Sanggar Budaya??

?Aduh, Ra, please?!? Tampang Padma semakin terlihat menyedihkan. ?Kamu kan tahu, aku tidak mungkin ke Sanggar Budaya sendiri malam-malam. Lokasinya kan jauh dari rumahku. Mana teman yang lain tidak mungkin dimintai tolong, karena malam saat sibuk-sibuknya mereka. Hanya kamu yang punya waktu longgar.?

Ry, aku sungguh tidak tega melihat tampangnya yang suram seperti itu. Kamu kan tahu, di kantor redaksi ini, makhluk paling cantik hanya kami berdua, yang lainnya gagah dan ganteng. Maklum, tidak banyak cewek yang tahan menjadi reporter, terlebih untuk surat kabar harian yang menjual kriminalitas sebagai berita andalan. Bukan hanya ketahanan fisik yang diperlukan, melainkan juga keteguhan mental. Bila tidak, pasti memilih mengundurkan diri seperti beberapa wartawati terdahulu yang pernah dimiliki koran ini. Hanya aku dan Padma yang masih bertahan hingga sekarang.

Tidak mengherankan bila aku dan Padma jadi akrab meski kami diletakkan di desk berbeda, aku di Ekonomi dan Bisnis sementara Padma di Seni dan Budaya. Pasalnya, kami selalu saling bantu dan dukung. Tidak jarang, Padma juga menemaniku saat mendapat tugas liputan acara peluncuran produk di malam hari. Nah, bagaimana aku bisa menolak untuk menemaninya?

Akhirnya, aku setuju, Ry. Aku yakinkan hatiku, semua akan baik-baik saja. Namun kenyataanya, saat suara konang berdentangan, aku bagai terlempar kembali ke masa 3 tahun yang lalu.

?

Mohon maaf, kelanjutan ceritanya ada di sini, ya...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7880/sepanjang-sungai-barito

  • view 82