Cowok Rumah Sebelah

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Cowok Rumah Sebelah

Seminggu menjelang Lebaran

BERISIK suara weker mengusik alam mimpi yang sedang diarungi Tari. Dia terlempar dari dunia maya. Mendapati dirinya tergolek di atas dipan yang berantakan. Dia tidur bersama tumpukan pakaian kering yang belum sempat disetrika.

Sambil mengeliat, Tari melirik weker yang ?berteriak? nyaring di atas meja. Setengah terhuyung dia menekan tombol, menghentikan suaranya. Setelah itu kembali menghempaskan tubuh ke atas dipan.

Duh? malasnya bangun! Maklum, bulan puasa. Setelah Shalat Subuh memang saat yang paling nikmat untuk berlayar kembali ke alam mimpi. Apalagi hari ini kuliah libur. Bu Nurul--- dosen Bahasa Indonesia--- konon sudah mudik lebaran ke kampung halaman. Jadi, dia bisa santai.

Ah, tapi tidak juga! Tari menendang tumpukan pakaian yang menghalangi gerak geliatnya. Dia berencana beres-beres kamar hari ini. Mencuci pakaian kotor yang tersisa dan menyetrika yang sudah kering. Sungguh, bukan kerja ringan! Apalagi saat puasa seperti sekarang. Pas bulan puasa, cuacanya garing melulu --- panas luar biasa. Padahal sebelum puasa, sudah sempat hujan beberapa kali.

Makanya, puasa tahun ini bawaannya malas melulu! Maunya tidur ? aja! Kalo sudah siang, liat air rasanya ingin berendam aja agar bisa menyejukkan kulit yang seolah mulai retak-retak kekeringan.

Kemalasan harus dilawan! Tari berusaha menyemangati dirinya sendiri. Tidur memang jadi ibadah kalo lagi puasa. Tapi lebih baik lagi bila tetap diisi dengan kerja.

Tapi melawan kemalasan sama beratnya dengan melawan hawa nafsu. Buktinya, Tari masih enggan bangun. Bahkan dia berusaha memejamkan mata. Dia ingin istirahat lebih lama. Rasa capek seakan meluluhlantakkan tubuhnya. Maklum, saat puasa dia harus tetap kuliah sambil kerja sambilan. Hitung-hitung menambah sangu buat lebaran. Akibatnya, setiap hari tulang-tulangnya serasa rontok.

Tapi beberapa menit mencoba, Tari tak jua kunjung terlena. Alam mimpi terlanjur menjauh. Rasa kantuk terlanjur lenyap. Dia hanya bisa berguling-guling di dipan.

Merasa tak bisa tidur lagi, akhirnya Tari bangkit. Dengan malas dia meraih handuk dan baju mandi yang tergantung. Kemudian menggendong keranjang bambu tempatnya menumpuk pakaian kotor.

Saat membuka pintu kamar, Tari tak mendapati seorang pun di koridor. Pintu-pintu kamar sepanjang koridor rumah kos semua tertutup. Sebagian teman kos sudah mudik ke kampung masing-masing. Hanya tinggal tiga yang tersisa. Dia sendiri sudah memesan tiket untuk mudik lusa. Makanya, dia ingin beres-beres sebelum mudik.

Sementara dua teman kosnya yang masih tersisa, Savitri dan Nafa berasal dari Semarang dan Solo. Tidak terlalu jauh dari Yogya. Jadi, tidak buru-buru mudik. Wong, setiap minggu mereka juga pulang.

?Bengong??

?Astagfirullah?!? Tari terlonjak kaget sambil mendekap dadanya. Dia buru-buru mengatur nafas melihat Savitri yang menyapanya.

?Makanya, pagi-pagi jangan bengong aja!? Vitri tersenyum. Wajah dan rambutnya terlihat agak basah. Tampaknya habis ngambil wudhu.

?Shalat Dhuha, Vit?? tanya Tari meski sudah bisa menebak jawabannya.

?Insya Allah?!?

?Sudah nyuci??

?Barusan selesai.?

?Yah? kok nggak nungguin, sih! Mbok ngajak-ngajak kalo mo nyuci. Nyuci bareng kan enak, bisa sambil ngobrol.?

?Ngobrol apa ngerumpi?? Bisa batal tuh puasanya.?

Tari nyengir. Teman kos yang satu ini memang tergolong hanif. Tidak pernah terpengaruh teman-teman kos lain yang terkadang masih suka melakukan perbuatan jahiliah. Misalnya? ngejahilin teman, atau ngerumpiin orang.

Tapi dia juga tidak serta merta menutup diri dengan ekstrim. Dia tetap bergaul dengan wajar sambil kadang menyelipkan sedikit nasihat atau sindiran. Terkadang berhasil, tapi sering pula gagal. Maklum, penghuni kos di sini kan tergolong bebal. Jadi, bila ingin melakukan amar makruf nahi munkar harus berani gagal.

?Nah kan, bengong lagi! Sudah nyuci sana! Mumpung mataharinya terik. Jadi siang sudah kering.?

?Ah, kamu. Setiap hari juga terik. Ramadhan kali ini, mana pernah ada hujan,? gerutu Tari sambi melangkah ke belakang.

Vitri mengangkat bahu. Dia segera kembali ke kamarnya.

Cerita selanjutnya, silakan cari di sini...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8197/cowok-rumah-sebelah

  • view 121