Jerat-jerat Cinta

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Jerat-jerat Cinta

SEORANG wanita setengah baya sedang menyapu halaman. Mengumpulkan daun-daun kering yang berjatuhan ditiup angin. Asyik sekali tampaknya, sampai tidak menyadari kehadiran Dinda.

?Kulonuwun!? salam Dinda sambil mendorong pintu pagar bambu.

Wanita itu serentak mengangkat wajahnya. Keningnya berkerut. ?Siapa, ya?? gumamnya.

Dinda melangkah mendekati. Sepatu ketsnya yang menggilas kerikil menimbulkan suara rame. Dia tersenyum.

?Bu Nur lupa sama saya??

Wanita itu diam. Dia coba mengingat-ingat. Lalu tiba-tiba menepuk dahinya sendiri. Sapu lidi di tangannya terlepas begitu saja.

?Eaaalahhh? ! Nak Dinda, too? Adiknya Nak Ayu??

Dinda mengangguk. ?Tepat sekali, Bu. Masak ibu lupa, sih??

?Ah, tidak, Nak! Ibu tidak lupa. Cuma heran saja.? Bu Nur memandang Dinda dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas.

Dinda langsung menyadari keadaan dirinya. Dia ngacir dari Solo ke Yogya ini dengan seragam sekolah lengkap. Pasti itu yang membuat Bu Nur keheranan.

?Maaf, Bu. Ayunda ada?? tanya Dinda cepat, sebelum Bu Nur duluan mengajukan pertanyaan yang akan sulit untuk dia jawab.

?Oh, ada! Kebetulan sekali sudah pulang. Kalo biasanya sih masih di kampus. Tapi hari ini, baru saja pulang.?

?Jodoh ?kali, Bu,? sahut Dinda tertawa.

Bu Nur ikut terkekeh, memamerkan gigi-giginya yang tak utuh lagi. Dinda makin geli melihatnya.

Sambil terus terkekeh Bu Nur membalikkan tubuhnya. Dari gerakannya, Dinda bisa menduga, pasti Bu Nur berniat memanggil Ayunda. Maka cepat-cepat dia meraih lengan Bu Nur.

?Nggak usah dipanggil, Bu!? cegah Dinda. ?Kalo boleh, biar saya saja yang masuk! Saya ingin memberi kejutan pada Yunda.?

?Oh, tentu boleh,? sahut Bu Nur cepat. ?Nak Dinda masih ingat letak kamarnya, kan??

?Iya, Bu. Permisi!?

Dinda melangkah memasuki rumah lumayan besar di hadapannya. Maklum, penghuni rumah itu cukup banyak. Sebagian besar anak-anak kos. Sedang Bu Nur cuma ditemani Sumi, keponakannya yang membantu mengurus rumah kos ini. Sedang anak-anak Bu Nur sendiri sudah menikah dan tinggal di berbagai kota.

Yunda beruntung mendapat induk semang sebaik Bu Nur, pikir Dinda. Orangnya ramah, pengertian, dan bijaksana. Mana rumahnya enak lagi. Dirawat dengan sungguh-sungguh. Lihat saja halamannya yang penuh dengan bermacam jenis tanaman yang teratur rapi!

Dinda menghentikan langkahnya tepat di depan pintu sebuah kamar paling ujung. Sayup-sayup terdengar suara Michael Bolton berkumandang ditemani saxophone ?Don?t make me wait for love?. Sedang kamar-kamar lain senyap. Mungkin, yang lain kuliah.

Tanpa sadar Dinda tersenyum. Alangkah bedanya suasana kamar kakaknya ini dengan kamarnya sendiri di rumah. Yah, walau terlahir dari rahim dan benih yang sama, dia dan Ayunda berbeda. Ayunda lebih suka mendengarkan lagu-lagu manis dan romantis. Mencerminkan wataknya yang lembut, kalem, anggun, dan penyabar. Beda dengan Dinda. Kamarnya selalu semarak dengan musik-musik cadas milik Bon Jovi, Metalica, Gun ?n Roses, dan lain-lainnya sebagai lukisan sifat tomboy, keras kepala, egois, dan sedikit manjanya. Maklum, dia putri bungsu kesayangan keluarga.

Sedang apa ya Yunda di dalam? Pikir Dinda lagi. Mengkhayal? Melamun? Merenung? Membaca? Belajar? Dinda mengingat-ingat kebiasaan kakaknya bila sedang sendirian di kamar.

Pelan-pelan Dinda mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Dinda mengetuk lebih keras lagi. Masih tak ada jawaban. Sekali lagi?

?Ya, masuk! Nggak dikunci, kok.? Terdengar sahutan dari dalam. Suara itu amat dikenalnya. Siapa lagi punya suara semerdu dan selembut itu selain kakaknya tercinta?

Dinda memutar handel pintu. Benar, pintu langsung terbuka. Dia masuk tiga langkah, dan menunggu.

?Ada apa?? tanya Ayunda tanpa membalikkan badannya. Dia duduk di meja belajarnya membelakangi Dinda. Di meja dan sekitarnya penuh dengan berbagai jenis dedaunan.

Dinda terkikik geli. Dasar calon insyinyur pertanian!

Mendengar suara khas itu, tiba-tiba Ayunda berbalik. Dia terbelalak melihat cocok Dinda yang tegar berdiri di depan pintu. Tawa Dinda makin keras melihat mimic kakaknya sedikit bingung campur kaget.

Tapi ini bukan pertama kali. Sering malah kakaknya itu dibuat bingung, kaget, dan tak berdaya oleh ulah Dinda. Demikian juga almarhumah Mama, sering senewen menasihatinya. Cuma Papa tampak santai. ?Kali beliau sadar, kebengalan Dinda diwarisi dari dirinya. Kalo Yunda, banyakan nurunin sifat-sifat Mama.

?Kinoi, kamu?? Yunda bangkit. Dia langsung menjitak sayang kepala Dinda. Mengacak-acaknya dengan gemas. ?Apa-apaan kamu, Noi??

Dinda memeluk kakaknya penuh rindu. Ayunda balas memeluknya. Lama.

Tiba-tiba saja Dinda merasakan keharuan bergolak di balik dadanya. Ingin rasanya dia menangis. Beban yang selama ini memepatkan benaknya dan menyesakkan dadanya seakan luluh dalam kehangatan pelukan kakaknya yang penuh kasih.

Dulu, ketika Mama masih ada, cuma kelembutannya yang mampu mengendalikan kebandelan Dinda. Kesabaran Mama mampu melumerkan kekerasan hatinya. Tatapan Mama yang sejuk mampu meredakan gejolak perasaannya.

Setelah Mama tiada, perannya digantikan Ayunda. Kakaknya itu benar-benar duplikat Mama. Tidak cuma wajahnya, tapi juga sifat dan wataknya. Sehingga Dinda tidak sempat merasakan kehilangan yang teramat karena Ayunda memerankannya dengan nyaris tanpa cacat cela.

Ketika Ayunda harus pergi, meneruskan kuliah di Yogya, barulah Dinda merasakan kehilangan pegangan.

?Yogya-Solo seberapa jauh sih, Noi? Tiap minggu aku juga pulang. Atau kalau tidak, kau yang menjengukku di sana,? hibur Ayunda.

Memang, Ayunda selalu berusaha menepati janjinya. Tapi waktu satu minggu cukup untuk membuat cerita yang akan dikisahkannya pada Ayunda basi. Persoalan akan keburu memuncak bila menunggu Ayunda pulang ke rumah dulu. Segala saran dan nasehat takkan ada gunanya lagi bila peristiwanya sudah berlalu.

Untunglah, hal itu tidak berlangsung lama, karena kemudian muncul Intan. Anak baru itu sejak mula sudah menarik perhatian Adinda karena sifat dan pembawaannya mirip Mama dan Yunda. Dan benar saja, Intan bisa menjadi sahabat Adinda yang setia, pengganti Mama dan Yunda. Temannya berbagi cerita, suka dan duka. Temannya dalam menghadapi segala persoalan, minta pertimbangan dan saran.

Kehadiran Intan, sungguh berarti bagi hidup Dinda. Tapi?

Ah! Dinda mengeluh. Mengingat Intan bagai menusuk-nusukan pisau ke dadanya sendiri. Sakit! Nyeri! Pedih!

Kalau persoalan yang tengah dihadapinya kini berkaitan dengan Intan, kepada siapa lagi dia harus mengadu? Pada Papa? Mana mungkin Papa punya waktu memikirkan persoalannya. Kasihan, problem beliau sendiri sudah banyak. Sedang untuk memecahkannya sendiri, dia rasa belum sanggup.

Kalo menurutkan hati, Dinda pasti mengumbar emosi. Dan dia yakin hasilnya bukan baik, tapi tambah runyam. Sekarang dia butuh seseorang untuk memberikan pertimbangan. Dia butuh dukungan dan saran.

Makin lama terbelit persoalan, Adinda makin tak sanggup berkelit. Dia tak mampu lagi menahan gejolak perasaan. Dia tak sanggup lagi untuk bertahan. Dia pun nekat untuk mengabil keputusan, lari menghindarkan diri dari kenyataan.

Ayunda merasakan bahu adiknya berguncang dalam pelukannya. Ada isak tersimpan dalam guncangan itu. Dia merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Adinda yang sudah basah bersimbah air mata dengan penuh tanda tanya.

?Adin, ada apa?? tanya Ayunda. Dia tidak lagi memanggil Adinda dengan panggilan manja ?Kinoi?.

Adinda membuang muka, menghindari tatapan kakaknya.

Ayunda mengambil dagu adiknya, memaksa untuk terus memandangnya. ?Adin punya masalah?? tanyanya lembut sambil merapikan anak rambut di dahi Adinda.

Adinda melepas pelukan kakaknya. Dia melemparkan tasnya. Lalu dia pun melemparkan tubuhnya di atas tempat tidur yang tertata rapi. Memeluk guling erat-erat. Menutup mata rapat-rapat.

Ayunda menghela napas. Dia mengerti, tak mungkin memaksa Adinda bicara saat ini. Dia pun kembali ke mejanya, menyelesaikan tugas laporan praktikum.

Kisah selanjutnya silakan dapatkan di sini...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7674/satofumi-san

  • view 101