Satofumi-san

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Satofumi-san

Nurmala mendorong pintu pagar kosnya.

?Assalamualaikum!? salam Mala setengah berteriak.

?Waalaikumsalam!? Terdengar jawaban yang nggak kalah kencang. ?Mbak Mala, ada surat dari Koibito-nya!?

Mala nggak jadi ke kamarnya, tapi memutar ke kamar Emmy, si empunya suara kencang tadi. Emmy meraih sepucuk surat dari meja belajarnya, lalu menyerahkannya kepada Mala.

Satofumi Eguchi, gumam Mala dengan wajah cerah. Pantas Emmy bilang itu surat dari koibitonya, yang berarti pacar dalam Bahasa Jepang. Dibanding sahabat-sahabat penanya yang lain, memang Satofumi yang paling sering berkirim surat.

Mala membuka amplop surat itu. Tumben, Satofumi cuma menulis selembar. Biasanya paling sedikit tiga lembar. Suratnya ditulis dalam Bahasa Inggris yang singkat.

?

Dear Nurmala,

Aku punya kejutan. Sengaja tidak kuceritakan, perusahaan tempatku bekerja punya beberapa cabang di kota-kota besar di Indonesia, termasuk Yogyakarta. Tiap tiga tahun diadakan pergantian personil. Lima bulan lalu, aku mengajukan permohonan untuk ditempatkan di kantor cabang Yogyakarta, dan permohonanku dikabulkan.

Bayangkan, betapa senangnya aku, Mala! Kita akan berjumpa lagi. Tidak Cuma beberapa minggu, tapi tiga tahun. Bahkan mungkin saja selamanya. Bagaimana pendapatmu, Mala? Bukankah sudah terbukti takhyul dulu itu ternyata tidak benar?

Kutunggu jawabanmu secepatnya, Mala. Agar aku bisa memberikan jawaban positif pada atasanku.

?

Rinduku selalu

Satofumi Eguchi

?

Mala melipat kembali suratnya sambil mengulum senyum. Dikembalikannya lipatan surat itu ke dalam amplopnya.

?Satofumi itu pacar Mbak, ya?? tanya Emmy tiba-tiba.

Mala mendongak, tidak menyangka disodori pertanyaan seperti itu.

?Kenapa kamu nanya begitu?? Mala balik bertanya.

?Abis, kalo dapat surat dari dia, Mbak Mala jadi lain.?

?Lain gimana??

?Yah, jadi lebih ceria! Wajah Mbak Mala berseri-seri, mata bersinar-sinar, dan bibir selalu mengembangkan senyum.?

?Benarkah??

Emmy mengangguk mantap.

Mala tertegun. Benarkah aku seperti itu? Gumamnya sangsi. Anehnya, dia sendiri tidak menyadarinya. Ataukah cuma pura-pura tidak sadar?

?

Mohon maaf, pengen tahu lanjutannya silakan temukan di sini, ya...?

Nurmala mendorong pintu pagar kosnya.

?Assalamualaikum!? salam Mala setengah berteriak.

?Waalaikumsalam!? Terdengar jawaban yang nggak kalah kencang. ?Mbak Mala, ada surat dari Koibito-nya!?

Mala nggak jadi ke kamarnya, tapi memutar ke kamar Emmy, si empunya suara kencang tadi. Emmy meraih sepucuk surat dari meja belajarnya, lalu menyerahkannya kepada Mala.

Satofumi Eguchi, gumam Mala dengan wajah cerah. Pantas Emmy bilang itu surat dari koibitonya, yang berarti pacar dalam Bahasa Jepang. Dibanding sahabat-sahabat penanya yang lain, memang Satofumi yang paling sering berkirim surat.

Mala membuka amplop surat itu. Tumben, Satofumi cuma menulis selembar. Biasanya paling sedikit tiga lembar. Suratnya ditulis dalam Bahasa Inggris yang singkat.

?

Dear Nurmala,

Aku punya kejutan. Sengaja tidak kuceritakan, perusahaan tempatku bekerja punya beberapa cabang di kota-kota besar di Indonesia, termasuk Yogyakarta. Tiap tiga tahun diadakan pergantian personil. Lima bulan lalu, aku mengajukan permohonan untuk ditempatkan di kantor cabang Yogyakarta, dan permohonanku dikabulkan.

Bayangkan, betapa senangnya aku, Mala! Kita akan berjumpa lagi. Tidak Cuma beberapa minggu, tapi tiga tahun. Bahkan mungkin saja selamanya. Bagaimana pendapatmu, Mala? Bukankah sudah terbukti takhyul dulu itu ternyata tidak benar?

Kutunggu jawabanmu secepatnya, Mala. Agar aku bisa memberikan jawaban positif pada atasanku.

?

Rinduku selalu

Satofumi Eguchi

?

Mala melipat kembali suratnya sambil mengulum senyum. Dikembalikannya lipatan surat itu ke dalam amplopnya.

?Satofumi itu pacar Mbak, ya?? tanya Emmy tiba-tiba.

Mala mendongak, tidak menyangka disodori pertanyaan seperti itu.

?Kenapa kamu nanya begitu?? Mala balik bertanya.

?Abis, kalo dapat surat dari dia, Mbak Mala jadi lain.?

?Lain gimana??

?Yah, jadi lebih ceria! Wajah Mbak Mala berseri-seri, mata bersinar-sinar, dan bibir selalu mengembangkan senyum.?

?Benarkah??

Emmy mengangguk mantap.

Mala tertegun. Benarkah aku seperti itu? Gumamnya sangsi. Anehnya, dia sendiri tidak menyadarinya. Ataukah cuma pura-pura tidak sadar??

Nurmala mendorong pintu pagar kosnya.

?Assalamualaikum!? salam Mala setengah berteriak.

?Waalaikumsalam!? Terdengar jawaban yang nggak kalah kencang. ?Mbak Mala, ada surat dari Koibito-nya!?

Mala nggak jadi ke kamarnya, tapi memutar ke kamar Emmy, si empunya suara kencang tadi. Emmy meraih sepucuk surat dari meja belajarnya, lalu menyerahkannya kepada Mala.

Satofumi Eguchi, gumam Mala dengan wajah cerah. Pantas Emmy bilang itu surat dari koibitonya, yang berarti pacar dalam Bahasa Jepang. Dibanding sahabat-sahabat penanya yang lain, memang Satofumi yang paling sering berkirim surat.

Mala membuka amplop surat itu. Tumben, Satofumi cuma menulis selembar. Biasanya paling sedikit tiga lembar. Suratnya ditulis dalam Bahasa Inggris yang singkat.

?

Dear Nurmala,

Aku punya kejutan. Sengaja tidak kuceritakan, perusahaan tempatku bekerja punya beberapa cabang di kota-kota besar di Indonesia, termasuk Yogyakarta. Tiap tiga tahun diadakan pergantian personil. Lima bulan lalu, aku mengajukan permohonan untuk ditempatkan di kantor cabang Yogyakarta, dan permohonanku dikabulkan.

Bayangkan, betapa senangnya aku, Mala! Kita akan berjumpa lagi. Tidak Cuma beberapa minggu, tapi tiga tahun. Bahkan mungkin saja selamanya. Bagaimana pendapatmu, Mala? Bukankah sudah terbukti takhyul dulu itu ternyata tidak benar?

Kutunggu jawabanmu secepatnya, Mala. Agar aku bisa memberikan jawaban positif pada atasanku.

?

Rinduku selalu

Satofumi Eguchi

?

Mala melipat kembali suratnya sambil mengulum senyum. Dikembalikannya lipatan surat itu ke dalam amplopnya.

?Satofumi itu pacar Mbak, ya?? tanya Emmy tiba-tiba.

Mala mendongak, tidak menyangka disodori pertanyaan seperti itu.

?Kenapa kamu nanya begitu?? Mala balik bertanya.

?Abis, kalo dapat surat dari dia, Mbak Mala jadi lain.?

?Lain gimana??

?Yah, jadi lebih ceria! Wajah Mbak Mala berseri-seri, mata bersinar-sinar, dan bibir selalu mengembangkan senyum.?

?Benarkah??

Emmy mengangguk mantap.

Mala tertegun. Benarkah aku seperti itu? Gumamnya sangsi. Anehnya, dia sendiri tidak menyadarinya. Ataukah cuma pura-pura tidak sadar?

Mohon maaf, kelanjutannya silakan ditemukan di sini, ya...?

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7674/satofumi-san

  • view 104