Konspirasi

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Project
dipublikasikan 18 Oktober 2016
Kumcer Misteri Hilangnya Sang Ratu

Kumcer Misteri Hilangnya Sang Ratu


Buku kumpulan cerpen pertama karya Lis Maulina di tahun 2016 yang diterbitkan melalui www.nulisbuku.com. Sebelumnya sudah ada beberapa buku kumcer yang diterbikan melalui media serupa.

Kategori Cerita Pendek

124 Hak Cipta Terlindungi
Konspirasi

DUA motor tiba-tiba memasuki pintu gerbang sekolah tanpa mematikan mesin, cukup mengundang tanda tanya. Pengendaranya dua lelaki, sama-sama gondrong. Bedanya, yang satu rambutnya agak berombak, ikat ke belakang, bertubuh tinggi tegap, berkulit hitam manis. Memakai kaos dan celana jeans. Satunya lagi rambutnya lurus dibiarkan tergerai sebahu, lebih kurus, dan berkulit lebih terang. Mengenakan jaket dan celana pantaloon.

“Intel,” cetus Kak Razi, pegawai sekolah yang kebetulan berada dekatnya.

Yang berambut lurus menghampirinya. “Maaf, Bu. Kantor guru sebelah mana?”

Dia hanya sempat menunjuk. Kak Razi bergegas menawarkan untuk mengantar. Dia memandangi mereka ragu. Antara rasa ingin tahu dan keinginan untuk bersikap tak peduli. Tapi toh, rasa ingin tahunya menang. Dia menyusul ke kantor guru yang kebetulan sepi, karena sebagian guru pergi menjenguk seorang rekan yang kemarin kecelakaan dan sedang dirawat sebuah rumah sakit.

Dilihatnya Pak Ardian, wakasek kurikulum menerima mereka. Dia mendengar Kak Razi diminta memanggil Andre, murid kelas III. Kemudian dua murid lainnya, Rusdi dan Sari juga diminta ke kantor. Sementara dua lelaki itu ke kantor sebelah, ruangan kepsek, dia menghampiri Andre dan bertanya.

“Kemarin saya berkelahi, Bu. Dengan Vina,” jelasnya.

“Sampai ke polisi?”

Andre menunduk, menyembunyikan senyum getirnya.

Kedua petugas kembali bersama Pak Ardian. Dia urung bertanya lebih lanjut. Terlebih ketika Rusdi datang, Sari menyusul kemudian dengan wajah cemas.

“Kalian sepulang sekolah singgah ke kantor, ya!” ujar petugas yang bertubuh tegap.

“Bagaimana kalau sekarang, Pak?” tawar Pak Ardian.

“Kalau bisa sekarang, lebih baik lagi.”

Dia mendengar dan memperhatikan dari jauh. Anak-anak itu disuruh ke kantor polisi. Sendiri? Tidak didampingi? Ada ketidakrelaan memberontak dalam batinnya. Bagaimanapun kantor polisi bukan tempat yang menyenangkan. Bahkan bagi orang dewasa. Apalagi bagi remaja seperti mereka.

“Pak Ardian, saya menemani mereka,” putusnya.

Dia harus membujuk Sari dulu agar mau ikut. Selain Andre, Rusdi, dan Sari, beberapa teman sekelas yang bersimpati pada Andre ikut menemani. Sesampai di kantor polisi, mereka menunggu di ruang pemeriksaan lantai atas. Saat itulah baru dia mendengar cerita kejadian selengkapnya. Vina dan genknya yang terkenal ‘bermulut pedas’ mengejek Andre yang memang berpenampilan feminim sebagai bencong. Hal itu yang memancing kemarahan Andre dan menampar muka Vina sehingga berdarah.

“Hampir tiga tahun saya menahan diri mendengar ejekannya, Bu,” ujar Andre lirih.

“Tidak hanya Andre, Bu. Kami semua sering diejeknya. Tapi kami lebih banyak mengalah,” tambah Dian. “Bahkan dia tidak hanya mengejek, tapi juga menganiaya Nunik, memukulnya pakai sepatu. Sampai berdarah juga.”

“Benar, Bu. Kalau bisa, saya juga mau menuntut dia,” cetus Nunik kesal.

Meski hanya mengajar seminggu sekali, tapi dia sudah mengajar kelas ini sejak mereka kelas satu. Dia hapal benar karakter murid-muridnya. Terutama mereka yang tergabung dalam genk Vina yang memang terkenal bermulut pedas. Dia sendiri kadang tak tahan mendengarnya sehingga seringkali memilih meninggalkan kelas sebelum jam pelajaran berakhir.

Petugas berambut gondrong dan bertubuh tegap  datang.

“Bu, Andre ini statusnya tersangka. Tadi statusnya penangkapan. Bila suratnya selesai, dia ditahan,” jelasnya.

Dia panik seketika. Ditahan? Dia kira mereka cuma dimintai keterangan. Astaga! Isi suratnya apa, sih?

“Ditahan, Bu?” Irma menatapnya minta penjelasan.

Dia menyuruh Andre menghubungi keluarganya. Dia mencoba menghubungi rekan-rekannya sesama guru. Demikian juga murid lain. Walikelas dan Ketua Jurusan berhasil dihubungi. Mereka menyusul ke kantor polisi.

“Andre masuk sel tadi malam.”

Lanjutannya ada di sini... 

http://nulisbuku.com/books/view_book/8698/misteri-hilangnya-sang-ratu

  • view 123