Sepucuk Surat dari Kampung

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Juni 2016
Sepucuk Surat dari Kampung

“SUS, kamu masih sakit?”

Tari muncul dengan dandanan siap kerja. Pakaian seksi plus riasan menor. Dia mendekati Susi yang terbaring di ranjang,  meraba dahinya.

“Hangat, sih! Tapi tidak panas,” gumamnya.

“Tapi aku menggigil,” sahut Susi terbata. “Tolong, bilang Mami!”

Tari memandangnya dalam. Susi berusaha menghiba. Sungguh, malam ini perasaannya benar-benar  tidak enak! Dia tidak bisa kerja seperti biasa.

Tari menghela nafas.

“Baiklah, untuk malam ini saja.”

Susi menggenggam tangannya, penuh terimakasih. Tari balas menepuk punggung tangannya.

“Jangan lupa minum obat!”

Susi mengangguk. Memandang sosok Tari yang menghilang di balik pintu bilik mereka.  Tanpa sadar tangannya meraba ke bawah bantal., menyentuh sebuah lipatan kertas. Mungkin surat ini yang membuat perasaannya jadi aneh. Surat dari Arif, adik bungsunya. Dalam surat itu, dia bercerita tentang Guru Agama Islam di sekolahnya yang juga menjadi tetangga mereka di kampung.

           

Pak Lutfi mengajari kami mengaji, Mbak Sum. Menurutnya, di antara teman sebaya, Arif yang ngajinya paling lancar. Tentu saja, dulu kan Arif, Mbak Narti, dan Mbak Sulis sudah pernah diajarin ngaji sama Mbak Sum. Gimana nggak lancar? Wong, Mbak Sum dulu ngajarnya galak banget. gih! Kalo nggak bisa, main jentik kuping! Beda sama Pak Lutfi, cara mengajarnya  sabar dan lemah lembut.

Pak Lutfi sempat nanya lho Mbak Sum, tentang orang yang mengajari Arif ngaji. Katanya sayang, Mbak Sum keburu merantau, sehingga pelajaran ngaji Arif terhenti. Kalau diteruskan, katanya sih, mungkin saja Arif bisa jadi qari. Bisa saja Pak Lutfi itu! Katanya, ngaji Arif merdu. Duh, coba kalau dia mendengar Mbak Sum yang ngaji, pasti lebih terpana lagi. Seingat Arif, Mbak Sum dulu sering ngisi acara ngaji di kelurahan, kan?

Tapi ngaji dengan Pak Lutfi agak lain, Mbak. Tidak cuma belajar membaca Al-Quran yang baik dan benar saja. Kita juga diajarin menerjemahkan artinya. Baru sedikit sih, Mbak, Arif belajarnya. Baru sampai Al-Baqarah, itupun belum tamat.  Mbak Narti dan Mbak Sulis yang ngajinya sudah lebih banyak. Mereka sekarang  berjilbab lho, Mbak. Tentu saja, karena mereka sudah bisa memahami kewajiban mereka sebagai muslimah. Senang deh rasanya punya kakak sholehah.

Tapi meski kajian Arif masih sedikit, Arif juga sudah bisa merasakan, betapa benar-benar indah Al-Quran, betapa memang indah Islam itu. Kalau sudah begitu, rasanya menyesal deh, mengapa baru kenal Pak Lutfi sekarang? Mengapa tidak dari dulu sehingga Arif bisa merasakan keindahan hidayah ini? Mengapa….

 

Tangan Susi bergetar hebat. Dia tak sanggup lagi membaca deretan hurup tulisan tangan adiknya itu. Seolah ada godam yang menghantam-hantam dadanya. Isi surat Arif bagai menghadirkan lagi sosok Sumiati, seorang gadis desa yang lugu, yang sempat diajari mengaji saat di Tsanawiyah, bahkan sempat beberapa kali juara. Duh, betapa jauhnya sosok Sumiati yang dulu dengan sosok Susiati yang sekarang, seorang primadona sebuah kompleks pelacuran.

Dan slide masa lalu perputar cepat di kepalanya. Sosok Arif, adik bungsunya yang sudah beranjak remaja menjadi titik pangkalnya.

Pasti sekarang Arif sudah kelihatan lebih gagah lagi, bisik hati Susi. Keluarganya memang boleh berbangga, karena dikarunia kebagusan fisik. Di desanya, Susi dan adik-adiknya termasuk ‘bintang’. Maklum, konon almarhum Bapak keturunan priyayi yang dikucilkan keluarga karena memilih Simbok yang dari golongan jelata sebagai istri. Tidak terbiasa bekerja keras di sawah membuat Bapak sering jatuh sakit, dan meninggal sebelum sempat melihat kelahiran Arif. Saat itu, umur Susi sepuluh tahun. Jadi, ingatannya tentang sosok bapak hanya samar-samar.

Sejak kematian Bapak. Simbok yang membanting tulang, membesarkan Susi, dua adik perempuannya--- Sunarti dan Sulistyani, serta si Bungsu Arif. Kerja keras yang membuat Simbok kehilangan kecantikannya yang membuat Bapak rela meninggalkan keluarga demi meraih cinta Simbok. Bagaimana mau cantik bila setiap hari membanting tulang di sawah sebagai buruh tani, di bawah terik matahari. Kemudian sore hari, mencucikan pakaian para tetangga yang hidupnya lumayan makmur sehingga tidak bisa mencuci pakaian sendiri. Lalu malamnya mempersiapkan bahan agar subuh bisa membuat kue untuk dititipkan di warung-warung.

Dengan kerja keras seperti itu setiap hari, tentu saja tubuh Simbok cepat keropos.  Susi yang telah menyelesaikan SMP  tidak tega menambah bebannya sehingga memutuskan tidak melanjutkan sekolah. Dia mencoba membantu meringankan beban di pundak Simbok yang sudah mulai bongkok. Dia mengalah dengan membiarkan adik-adiknya tetap sekolah.

Namun, tuntutan hidup yang semakin mahal membuat apa yang mereka hasilkan sama sekali tidak berharga. Oleh karena itu, ketika ada mantan teman satu SMP-nya yang tampaknya berhasil setelah merantau ke Kalimantan, Susi minta diajak. Temannya tidak keberatan. Simbok juga akhirnya mengizinkan setelah dia menguraikan berbagai rencana dan mimpinya agar bisa menyekolahkan ketiga adiknya sampai ke jenjang yang paling tinggi. Mereka pun melepasnya dengan harapan yang membumbung tinggi.

Namun nasib justru menghempaskan Susi ke kompleks pelacuran di kawasan pertambangan batubara. Dia tidak mungkin kembali setelah menghadapi kenyataan, daerah harapan yang ditujunya tidak memberikan kesempatan yang lebih baik selain menawarkan ‘kehangatan’ tubuh.  Pekerjaan di daerah pertambangan batu bara hanya untuk laki-laki. Kalaupun ada lowongan untuk wanita, pastilah untuk wanita berpendidikan tinggi. Semua lowongan untuk wanita berpendidikan pas-pasan seperti dirinya sudah terisi, kecuali lowongan di kompleks  yang selalu terbuka, terlebih bagi Susi --- saat itu masih memakai nama Sumiati yang kebetulan punya kecantikan fisik di atas rata-rata.

Tak ada pilihan lain bagi Susi. Terlebih saat dia mengingat binar-binar harapan yang menghiasi mata Simbok dan adik-adiknya saat melepas kepergiannya. Tak mungkin dia sanggup memusnahkan binar harapan itu dengan kenyataan pahit yang dihadapinya.

Maka Sumiati pun menjelma menjadi Susi--- sang primadona baru komples. Namun kepada keluarganya di Klaten, Susi mengatakan dia bekerja sebagai tukang masak di perusahaan batu bara. Kebetulan, langganannya hampir semuanya pekerja pertambangan, sehingga dia bisa mengarang cerita dengan cara mengulangi cerita para pelanggannya tentang suasana di tempat kerja mereka.

Keluarganya percaya. Apalagi, setiap bulan Susi mengirim sebagian gajinya. Cukup besar, dengan alasan standar gaji di Kalimantan memang lebih tinggi. Tapi tentu saja dengan biaya hidup yang juga lebih mahal.

Keluarganya pun tak pernah curiga. Semua berjalan sebagaimana yang diinginkannya. Dia bahkan bisa pulang kampung setahun sekali, saat Lebaran, kecuali Lebaran tahun lalu, karena dia menggunakannya untuk jalan-jalan ke beberapa kota besar di Kalimantan Selatan dan Timur. Sekedar refreshing, menghilangkan kejenuhan.

Sampai surat ini sampai kepadanya.

Penasaran...? Silakan baca lanjutannya di sini, ya...!

http://nulisbuku.com/books/view_book/8698/misteri-hilangnya-sang-ratu

  • view 223