Bulutangkis Indonesia Bangkit Melalui Tim Muda Thomas Cup 2016

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Mei 2016
Bulutangkis Indonesia Bangkit Melalui Tim Muda Thomas Cup 2016

SUKA bulutangkis? Pasti mengikuti pertandingan demi pertandingan di putaran final Thomas Cup 2016. Kecewa lagi-lagi Indonesia tidak membawa pulang Piala Thomas ke tanah air? Pasti. Karena Tim indonesia dikalahkan Tim Denmark 2-3 di final.

Tapi bila pecinta bulutangkis sejati, pasti tidak cuma merasakan kecewa, tapi juga bangga. Karena Indonesia yang sebagian besar diisi pemain-pemain muda usia, ternyata mampu menembus final, menyingkirkan Tim Korsel di semifinal, yang sebelumnya mengalahkan tuan rumah Cina di perempat final. Mereka pasti berharap, ini adalah awal kebangkitan bulutangkis Indonesia yang dimotori para pemain muda. Apalagi Indonesia baru merayakan Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei lalu. Benar-benar momen yang pas.

Saya bukan saja suka bulutangkis, tapi cinta. Sebagaimana yang namanya cinta, seperti kata lagu, berjuta rasanya. Kadang sedih, kadang gembira. Kadang kecewa, kadang bahagia. Menonton pertandingan bulutangkis, terutama bila yang main Indonesia, rasanya deg-degan tak karuan. Ya, seperti orang yang jatuh cinta. Bila menang, senangnya luar biasa. Rasanya membuat hari cerah ceria. Pengennya selalu tersenyum dan tertawa. Ibarat orang jatuh cinta, serasa dunia kita yang punya.

Tapi sebaliknya bila hasilnya kalah, rasanya sedih dan kecewa. Bahkan kadang juga timbul rasa marah dan dongkol. Saking dongkolnya, sering terlintas untuk tidak mengikuti dan menonton pertandingan bulutangkis lagi. Kapok sejadi-jadinya. Ibarat tobat, ya tobat nasuha.

Namun, namanya juga sudah terlanjur cinta. Tobatnya, laksana tobatnya penggemar sambal yang sakit maag. Hari ini tobat, besok makan lagi. Jadi, awalnya saja bilang kapok, tapi pas ada pertandingan bulutangkis Indonesia lagi, pasti nonton lagi. Pasti ngikuti lagi. Walau mungkin agak takut-takut. Maksudnya, di poin-poin kritis, sering pindah chanel gara-gara tak kuat deg-degan alias sport jantung.

Saya termasuk pecinta bulutangkis dengan tipe seperti ini. Saat bulutangkis indonesia terpuruk, malas nonton pertandingan. Tapi padahal diam-diam mengikuti. Bila ada pemain Indonesia yang menang, cari-cari video di youtube untuk menonton ulang.

Cara ini yang saya lalukan ketika mendengar kabar kemenangan tim Indonesia di kualifikasi Piala Thomas 2016 zona Asia di India. Para pemain muda ini juga yang diturunkan. Hebat, mereka bukan saja berhasil meloloskan Indonesia untuk bertanding di putaran final Piala Thomas 2016, tapi mereka juga bisa mengalahkan sang juara bertahan Jepang di final dan meraih gelar Juara Beregu Putra Asia. Dari sinilah mulai mengenal anak-anak muda ini; Ihsan Maulana, Anthony Ginting, dan Jonathan Christie yang mendampingi seniornya Tommy Sugiarto, serta pemain ganda Ricky Karanda/Angga Pratama menemani Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan.

Di penyisihan putaran final Piala Thomas, perjuangan anak-anak muda plus seniornya ini sungguh mengagumkan. Berhasil membawa Tim Indonesia menjadi juara grup. Mengalahkan Hongkong di perempat final. Puncaknya, berhasil mengkandaskan impian tim Korsel yang  secara dramatis baru saja menyingkirkan tuan rumah Cina.

Lawan mereka di final adalah Denmark yang di semifinal mengalahkan Malaysia juga secara dramatis karena sempat ketinggalan 0-2. Pemain tunggal Indonesia semuanya berguguran. Hanya ganda yang menyumbangkan angka, terutama pasangan Ricky/Angga yang berhasil menyamakan kedudukan dan menjaga harapan Indonesia hingga partai terakhir. Salut buat mereka. Tetap merasa bangga kepada anak-anak muda yang sudah berjuang keras meski akhirnya harus mengakui keunggulan lawan. Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih atas usahanya mendapatkan gelar Runner Up di Piala Thomas 2016. Semoga momen ini menjadi awal kebangkitan Bulutangkis Indonesia...! Percayalah, dua tahun mendatang, Piala Thomas pasti menjadi milik kita, melalui kebangkitan anak-anak muda yang sudah gagah berani membela nama Indonesia. Amiin...

  • view 184