Pelajaran Bersyukur dari Lombok

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 April 2016
Pelajaran Bersyukur dari Lombok

SELAMA beberapa hari di Mataram, diam-diam saya menyimpan rasa prihatin dan miris melihat masyarakatnya. Kenapa? Karena sepenglihatan saya, masyarakat Lombok hidup jauh dari sejahtera ataupun makmur. Sepanjang yang saya lihat, bangunannya tua, kecil, dan tidak ada yang terlihat wah atau megah. Beda dengan Banjarmasin yang banyak punya bangunan bagus. Bahkan saya lihat-lihat, masjidnya pun tidak ada beda. Tergolong kecil bila dibanding Banjarmasin, sudah itu tampak tua, dan jauh dari kesan megah. Lalu cara berpakaian mereka, baju-baju mereka terlihat lusuh dan kumal. Gaya mereka lugu dan bersahaja.

Semula saya berpikir, mungkin gaya hidup orang lombok memang sangat bersahaja. Beda dengan gaya hidup orang Banjar yang memang cenderung menomorsatukan gengsi dan prestise. Biar miskin, tapi gaya. Tapi semakin banyak saya melihat kehidupan masyarakat Lombok, semakin miris dan prihatin saya jadinya. Ya, Allah… kenapa di bumi seindah dan sesubur ini, saudara-saudara saya di lombok tidak hidup sejahtera…?

Terlebih ketika mendengar penjelasan guide. Katanya di Lombok, khususnya suku Sasak, para lelaki bodoh-bodoh. Saking bodohnya, bila sudah menikah, mereka tidak kerja. Yang kerja malah istri-istrinya. Itu bodoh atau malas? Saya makin kasihan dengan wanita Lombok.

Hari terakhir di Lombok, pagi-pagi saya sudah mandi. Maksudnya, supaya pakaian tersisa bisa langsung dipak. Tinggal yang dikenakan di badan.

Pas keluar kamar, saya melihat ibu setengah tua membersihkan tong sampah di depan wisma kami. Dia mengumpulkan kue-kue sisa snack kami. Ya, Allah… padahal tu kue kan sudah basi. Tapi kelihatannya ibu itu tidak peduli. Bahkan dia mengumpulkan kacang yang dibelikan tapi saya tidak makan. Ada juga nasi yang dibelikan malamnya oleh teman Bu Ida karena saya tidak bisa makan malam akibat mabuk. Tu nasi juga sudah setengah basi.

            Bagaimana hati saya tidak tersentuh. Akhirnya semua barang sisa di kamar kami keluarkan. Ada sabun mandi, sabun cuci, sampo, obat nyamuk, dan lain-lain. Toh, kami tidak akan memakainya lagi. Kami juga tanya pada ibu itu. Katanya, mereka para pemulung yang saat ada kegiatan dipekerjakan secara lepas oleh LPMP NTB.

            Memang, saat kegiatan, kami dijamu dan dilayani secara luar biasa. Snack selalu tersedia, pagi siang, maupun malam. Kuenya juga tidak hanya 2, kadang 3, bahkan 4 plus minum air mineral gelas. Makanya, kadang kami kekenyangan dan snacknya tidak termakan. Bila sambil nonton pertandingan, kami sembarang membuang kotak, maupun gelas plastic air. Ibu dan beberapa kawannya inilah yang membersihkan, sambil sekaligus mengumpulkan barang yang bisa mereka jual kembali.

            Kami juga tanya, berapa mereka dibayar. Katanya sih, Rp25.000. Lumayan, apalagi bila hasil mulung mereka dijual. Apalagi, katanya, pas kerja mereka dapat makan di LPMP. Tentunya, setelah para peserta makan semua. Wah, ternyata kegiatan ini membawa berkah juga buat mereka. Karena kasihan, saya dan kawan-kawan memberi sedikit uang buat ibu itu. Dia senang sekali. Wajahnya sumringah. Berterimakasih sampai berkali-kali. Sampai bersalaman cium tangan segala. Membuat saya tidak enak hati.

            Melihat ini, semakin kuatlah dugaan saya tentang kondisi masyarakat Lombok yang masih berada di bawah sejahtera. Para pedagang souvenir yang ada di sekitar kami juga berpakaian lusuh dan kumal. Sangat bersahaja. Mereka berdagang sambil membawa anak dan keluarga. Bahkan ada yang ikut menginap di LPMP. Meski kadang sambil mengomel, mereka tetap melayani kami. Bahkan sebagian ada yang jadi teman. Tukar menukar barang untuk kenang-kenangan. Mereka mencarikan kami kardus untuk memuat barang.

            Itulah sebabnya, saya sarankan Bu Iyi yang mau meninggalkan sepatu lamanya di NTB untuk memberikan pada ibu itu saja. Tapi Doni --- anak Bu Ita --- Kasubbag Umum--- yang mendengar ikut nimbrung. Katanya, tu ibu bakalan memakai nggak sepatunya. Kalau tidak, kan bakal sia-sia. Kubilang sih, tidak perlu dipakai, yang penting dimanfaatkan olehnya. Kalau memang dia jual, uangnya kan bisa digunakan. Katanya, jangan-jangan tu ibu rumahnya besar dan megah. Seperti di Malang. Jadi, Cuma pura-pura jadi orang susah.

Kami siap-siap pulang. Banjarmasin… I’m coming! Katanya, bis sudah menunggu. Sebagian teman-teman sudah menuju sana. Saya dan Bu Een juga bergegas. Sesampai di depan LPMP, kami lagi-lagi disambut Ibu pemulung itu untuk mengucapkan selamat jalan. Kelihatan sedih melepas kami. Dia bahkan sempat memeluk dan mencium pipi saya dan juga Bu Een. Benar-benar membuat terharu. Benar-benar membuat saya tersentuh. Rasanya, sikapnya begitu tulus. Begitu ikhlas. Andainya, saya benar-benar dibohongipun, saya rela. Asal saya mendapat perlakuan sehangat ini. Ah… sayang… kenapa baru hari terakhir saya mengenalnya? Bahkan, saya tidak mengetahui namanyaBagaimanapun, Alhamdulillah… untuk semua yang saya nikmati dan alami di Lombok. Sekecil apapun, saya tidak akan pernah melupakannya seumur hidup. Karena di sini aku mendapatkan pelajaran untuk selalu bersyukur... ***

  • view 145

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    Aku baru tau lombok seperti itu, laut yang cantik dan indah ternyata ada masyarakatnya yang kurang sejahtera. Biarpun mereka lusuh yang halal adalah cara mereka untuk bertahan dari apa yang mereka lihat dan rasakan, mendapatkan manfaat dari apa yang mereka cari dan pakai. Btw aku jadi benar-benar penasaran sama lombok loh, belum pernah ke sana, suatu hari nanti aku ingin sekali bisa ke sana.

    Salam kenal dan berkunjung. Jangan lupa follow saya ya.