Bersama Bayangmu, Tulisan Pertama yang dimuat di Media

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 April 2016
Bersama Bayangmu, Tulisan Pertama yang dimuat di Media

Sedang apa kau di sana, Fan? Sedang belajarkah? Atau mungkin kau sedang ingat si Dia-mu yang di kota anu itu, ya? Mungkin juga. Yang jelas kamu tidak sedang memikirkanku. Apa untuk memikirkan seorang gadis yang kagak kece kayak aku ini?


Akh, Fan! Mungkin aku ini orang yang sentimental. Entahlah! Mengapa sampai sekarang aku belum bisa melupakanmu, akupun tak tahu! Mengapa aku tak bisa melupakan wajah simpatikmu? Mengapa suaramu yang penuh wibawa selalu terniang di telingaku? Mengapa sosok atletismu selalu menari-nari di pelupuk mataku? Mengapa?


Aku bodoh, kau kan tak mungkin bisa menjawab pertanyaan konyol begitu. Aku sendiri saja tidak tahu jawabnya, apalagi kamu yang tidak mengerti duduk persoalannya. Siapa aku saja, mungkin kau sudah lupa. Tidak seperti aku yang tidak pernah melupakanmu.

Sebenarnya, aku sudah setengah mati berusaha untuk menghapus namamu di lubuk hatiku, tapi tak dapat. Sungguh! Segala yang ada di sekolah kita, selalu mengingatkanku padamu, bagaimana aku bisa melupakanmu? Setiap hari aku selalu ada di sini. Terang aja, aku selalu dikelilingi bayangan sosokmu yang mengagumkan itu.


Bila aku berada di lapangan, aku jadi ingat kelincahanmu bila sedang mengejar bola. Bila mataku menatap kelasmu, terbayang di mataku kau sedang berdiri di ambang pintu sambil  memperhatikan anak-anak yang sedang bermain basket. Apabila melihat Aji yang sekarang menggantikanmu menjadi Ketua OSIS, aku selalu ingat kamu. Segala tingkah laku dan perbuatannya mengingatkanku padamu. Bukan karena apa-apa, karena perilakunya itu seperti dibuat-buat.  Ia sepertinya sok sekarang. Sok aktif, sok alim, sok pintar, dan sok segala-galanya.  Sepertinya dia meniru kamu. Hampir semua kegiatan sekolah, ia menangani. Ia ingin menonjolkan diri sendiri. Keaktifanmu dulu adalah wajar saja, sedangkan  Aji berlebihan.


Itu sebabnya, bila aku melihatnya, aku jadi ingat kamu. Kalau kulihat kelakukannya yang agak sok itu, hatiku selalu berbisik, "Kau tidak begitu."


Entah kenapa, sampai sekarang tidak pernah kutemukan cowok yang menarik seperti kamu. Bagi saya, kau adalah satu-satunya cowok yang cocok dengan sikapku. Segala kelakuan dan sifatmu, tak ada satupun yang bertentangan dengan hatiku. Di mataku, kau tidak ada cacat celanya.


Salahkah aku, Fan? Salahkah aku bila sampai sekarang tidak bisa melupakanmu, melupakan semua pesona, karismatik, senyum symphatikmu, dan segala yang ada padamu? Salahkah aku bila selalu merindukanmu? Sedangkan kau sudah ada yang punya dan sudah tidak berada di sini lagi.

Aku ingin sekali melupakanmu, tapi tak bisa. Apakah aku harus meninggalkan sekolah ini agar bisa lepas dari bayang-bayangmu? Bukankah itu pengecut namanya? Apalagi aku tak mau meninggalkan konco-koncoku yang baik.


Biarlah, Fan! Biarlah aku tetap di sini bersama bayangmu!


Sayonara, Fan! Belajarlah dengan rajin! Di sini, doaku selalu terucap untukmu. Semoga kau sukses selalu dan selalu ceria bersama 'Dewi'mu! Bila fajar mulai merayap ke arah barat, mendengar doaku yang dikirim lewat angin malam. Sayonara! ***

 

Gambar ilustrarasi majalah Hai untuk tulisan ini ketika dimuat.

  • view 130