Suara Tangisan Menyayat

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 April 2016
Suara Tangisan Menyayat

SEBENARNYA, sudah sering aku melihatnya berada di situ. Sesosok tubuh seorang lelaki. Bersandar di depan pagar sebuah rumah yang biasa kulalui bila pulang dari kantor. Tampaknya sedang beristirahat. Sepeda bututnya dibiarkan teronggok di dekatnya. Mungkin juga sedang beristirahat.

Jadi pemandangan seperti itu sudah biasa bagiku. Meski aku tidak pernah sengaja memperhatikan. Tapi aku tahu, sosok lelaki itu hitam dan kurus. Biasanya memakai kaos oblong dan celana pendek. Kumal dan dekil. Sandalnya juga tampak butut.

Biasanya, aku lewat, ya lewat saja. Memang setiap pulang, aku harus melalui gang itu. Gang di mana rumah itu berada. Kadang dia ada, sedang duduk dan beristirahat di depan pagar. Kadang juga dia tidak ada. Entah kenapa.

Tapi hari itu agak berbeda. Ketika aku lewat mengendarai motorku. Aku memang melihat sosok dekil itu. Tapi tidak seperti biasanya. Hari itu aku mendengar ada suara yang lain. Suara semacam tangisan yang terbawa angin saat aku melintas di sana. Yah, seperti suara tangisan yang menyayat!

Apakah lelaki itu menangis? Mungkin, karena aku tidak melihatnya jelas. Tapi suara tangisan menyayat itu seolah terniang meski aku sudah sampai di depan rumahku.

Apakah lelaki itu menangis? Mungkin. Mungkin karena dia sedang sedih. Kenapa? Mungkin karena dia banyak menghadapi persoalan. Mungkin dia menghadapi kesulitan hidup yang membuatnya tak kuasa menahan tangis. Tangis yang suaranya sempat tertangkap pendengaran saat selintas lewat.

Tiba-tiba aku merasa kasihan. Hatiku iba. Setiap aku lewat, tidak pernah mendengarnya menangis. Tapi kali ini dia menangis. Pasti beban yang ditanggungnya sangat berat. Sehingga dia tak kuasa menahan tangis.

Aku kembali ke jalan itu. Kuhampiri lelaki itu. Lalu kusodorkan selembar uang limapuluh ribuan. Dia menerima sambil mengucapkan terimakasih dengan suara lirih.

Aku berbalik. Aku sungguh tak tahu apa persoalan yang membuat lelaki itu menangis. Aku cuma berharap, uang limapuluh ribuan itu bisa meringankan beban persoalannya. Apapun itu. Supaya dia tak lagi menangis. Supaya tak lagi terniang suara tangisan yang menyayat di telingaku. Semoga...

  • view 115