Diary, Karya Tulisku yang Pertama

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 April 2016
Diary, Karya Tulisku yang Pertama

DULU orang sering bertanya padaku, bagaimana sih caranya menulis sehingga bisa banyak menghasilkan cerpen? Saat itu aku akan kebingungan untuk menjawabnya, karena memang aku tidak tahu jawabannya. Aku menulis ya, menulis aja. Aku tidak pernah belajar caranya menulis secara formal. Aku tidak tahu teori menulis atau bagaimana cara menulis secara teori. Pelajaran menulisku saat itu, ya dalam Pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah. Itu saja...!

Sekarang, demi mengasah kembali mata pena, aku harus mengajukan pertanyaan serupa, dan diriku juga yang harus menjawabnya. Maka, aku berusaha mengingat-ingat kembali, bagaimana awal mulanya, sehingga aku tergerak untuk menulis.

Mulanya hobby membaca. Membaca majalah anak-anak; Bobo dan sebagainya. Suatu ketika, aku dihadiahi buku agenda oleh ayahku. Agenda kerja perusahaan sebenarnya. Yang dibagikan untuk karyawan-karyawan kantor perusahaannya. Buku agenda bagus dan tebal.

Aku senang menerimanya.

Lalu apa yang kutulis di sana? Curhat! Yah, curhat tentang kekecewaan karena kekalahan telak tim Piala Uber Indonesia dari Cina. Itulah karya tulisanku yang pertama. Aku belum tahu itu namanya catatan harian atau diary. Aku menulis cuma untuk menumpahkan rasa kekecewaan.

Tulisan pertama itu dibaca orangtuaku. Mereka tertawa membacanya. Membaca curhatku di diary. Itulah awal aku mulai menulis. Karena itu, mungkin aku harus mulai menulis catatan harian lagi. Supaya mata penaku kembali tajam. Supaya karya tulisanku kembali mengalir. Amiiin...

  • view 106