Unforgetable Lombok

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Maret 2016
Unforgetable Lombok

LOMBOK adalah salah satu wilayah di Indonesia yang saya impikan bisa saya kunjungi. Itu adalah salah satu alasan, mengapa saya berangkat dengan semangat. Lagipula, Mataram adalah kota pertama di luar Pulau Jawa dan Kalimantan yang saya kunjungi. Kami, rombongan LPMP Kalsel yang mengikuti Temu Karya LPMP Regional Tengah berada di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) dari Selasa, 19? sampai Mingu, 24 Mei 2009 lalu.

Take off dari Surabaya sekitar pukul 09:00. Mendarat di Bandara Selaparang Mataram. Bandaranya kecil saja. Tapi kelihatan apik, bersih dan rapi. Kami dijemput bis oleh panitia dan di antar ke LPMP NTB. Jaraknya, tidak jauh dari bandara hanya 15 menit. Sepanjang jalan, saya lihat kota kecil dan sepi. Ini bila saya bandingkan dengan Banjarmasin. Jalan-jalannya tidak terlalu lebar. Kendaraan yang lewat juga tidak banyak. Panasnya mungkin sama dengan Banjarmasin, tapi terasa lebih adem karena banyak pepohonan di pinggir jalan utama.

Kami disambut dengan keramahan luarbiasa oleh karyawan LPMP NTB. Datang langsung makan siang. Kemudian diantar ke kamar. Karena masih siang dan belum ada kegiatan, sorenya kami jalan-jalan. Lagi-lagi karyawan LPMP membantu menelponkan? taxi Argo. Sebenarnya setiap kontingen dari berbagai provinsi di Jawa, Bali, Nusa Tenggara plus Kalsel dan Kaltim, diberi sarana satu mobil untuk jalan-jalan. Berhubung hari pertama tu jatah bos-bos yang jalan-jalan, kami yang kroco-kroco ini terpaksa cari sarana transportasi yang lain.

Tujuan kami jelas? Pantai Sengigi. Tidak terlalu jauh dari LPMP NTB. Hanya sekitar 30 menit perjalanan. Dan subhanallah? keindahan pantainya sulit untuk dilukis kata-kata. Lagi-lagi saya menyesal kenapa sampai kehilangan? MP4. Airnya jernih, dengan variasi warna biru menawan. Pasirnya putih bersih. Semakin jauh, pemandangan makin bagus. Karena jalan mendaki? menuju bukit dengan pantai di bawahnya. Masyaallah? indahnya?

Kami menghabiskan sunset di pantai yang sepi pengunjung. Menikmati jilatan ombak. Merasakan lembutnya pasir putih dengan bentuk karang unik seperti tulang ayam. Bukan main. Sampai sekarang pun, kekaguman saya pada pantai Sengigi tidak hilang-hilang. Keindahannya terasa masih terbayang-bayang.

??????????? Paginya kami jalan-jalan dulu ke Meseum NTB. Kebetulan, letaknya berdekatan dengan gedung LPMP. Sementara yang lain menghadiri technical meeting dan temu karya. Kami kemudian latihan tennis meja, menjajal meja. Rasanya lain dengan meja tempat kami biasa latihan di kantor. Peserta dari kontingen lain mulai berdatangan. Jumlahnya keseluruhan 11 kontingen, termasuk kontingen PMPTK.

??????????? Acara pembukaan dimulai. Sangat meriah. Meski sempat terlambat karena menunggu Gubernur NTB untuk membuka. Kekesalan karena menunggu lenyap, karena gubernur yang ditunggu ternyata masih muda, dan cakep pula. He? he? he?! Dasar?! Katanya tu gubernur termasuk Tuan Guru, di atasnya kyai. Anaknya pendiri Nahdatul Waton--- semacam organisasi keagamaan terbesar di NTB.

??????????? Acara pembukaan meriah. Tak kalah meriah dengan acara serupa yang siaran langsungnya pernah saya lihat di televisi. NTB memang berusaha keras menjadi tuan rumah yang baik. Menyuguhkan hiburan terbaik berupa tarian-tarian.daerah yang atraktif. Tadinya hanya terpesona keindahan alam Lombok, sekarang terkagum-kagum pada kekayaan budayanya.

Tadinya, karena sudah tak ada pertandingan lagi, kami mau jalan-jalan mulai pagi. Tapi ternyata panitia tidak mengijinkan. Bolehnya, jalan-jalan setelah makan siang. Mungkin takut pertandingan final tidak ada yang nonton. Jadi paginya, kami nonton orang bertanding voli. Sambil belanja tentunya.

Bagaimana tidak, pedagang souvenir selalu membuntuti ke mana peserta pergi. Bila santai di depan kamar, mereka hampiri. Pas nonton di pinggir lapangan, juga mereka datangi. Dan barang yang mereka bawa semakin hari semakin bagus. Harganya juga semakin hari semakin miring. Jadi menyesal, mengapa buru-buru belanja. Kenapa tidak sabar dulu, menunggu harga murah. Mungkin memang seperti itu strategi pemasaran mereka.

Puas nonton pertandingan, setelah makan siang kami berangkat jalan-jalan naik mini bis yang disediakan panitia. Ada juga disediakan guide yang menjelaskan banyak hal yang ingin kami ketahui.

Semula kami ingin berwisata ke Pantai Kute-nya NTB. Tapi katanya, jaraknya cukup jauh, sehingga tidak bisa bila hanya waktunya setengah hari. Perlu waktu seharian. Jadi, tujuan pun diubah. Kembali ke Pantai Sengigi tujuan akhirnya. Kebetulan ada teman yang belum sempat ke Pantai Sengigi.

Tujuan pertama kami ke desa Banyu Muleg. Katanya sih artinya air yang jernih. Desa ini pusat kerajinan gerabah. Produk uniknya adalah kendi yang memasukan air dari bawah. Tapi anehnya, airnya tidak tumpuh. Setelah di pikir-pikir dan dilihat-lihat--- mungkin tu air terkurung di dalam sehingga tidak tumpah. Tapi di sini kami hanya lihat-lihat. Tidak banyak yang beli. Lagian, bawanya berat. Sementara oleh-oleh yang kami beli sudah banyak.

Tujuan selanjutnya ke Desa Sugre Are. Katanya sih artinya Suka lari. Maksudnya, di desa ini ada adat, anak gadisnya lebih suka diculik dan dibawa lari baru kemudian dikawini. Kok, aneh, ya? Tapi ternyata, menculiknya juga harus sesuai adat. Kalo tidak, bakal didenda. Tapi tetap dikawini akhirnya.

Desa ini pusat tenun tradisional. Di sini kami mengunjungi para wanita Sasak yang sedang menenun kain dengan peralatan tradisional. Kami juga dipersilakan untuk mencoba. Tapi saya tidak ikutan. Takut kain orang jadi rusak gara-gara campur tangan saya. He? he,? he? Ternyata satu kain diperlukan waktu lama, 1 ? 1,5 bulan. Pantas harganya mahal. Upah tenun pun tidak besar. Hanya Rp150 ribu per bulan. Itulah sebabnya, mereka juga mengharapkan tip dari pengunjung yang ingin mencoba.

Selain itu kami juga berkesempatan melihat-lihat hasil karya tenun yang sudah jadi. Macam-macam. Dari sarung sampai sajadah. Tapi harganya lumayan mahal bagi kantong PNS. Apalagi yang sudah terlanjur belanja banyak seperti saya. Jadi, Cuma yang punya duit yang belanja. Saya mah, cari yang murah aja, biar dapat banyak.

Selama beberapa hari di Mataram, diam-diam saya menyimpan rasa prihatin dan miris melihat masyarakatnya. Kenapa? Karena sepenglihatan saya, masyarakat Lombok hidup jauh dari sejahtera ataupun makmur. Sepanjang yang saya lihat, bangunannya tua, kecil, dan tidak ada yang terlihat wah atau megah. Beda dengan Banjarmasin yang banyak punya bangunan bagus. Bahkan saya lihat-lihat, masjidnya pun tidak ada beda. Tergolong kecil bila dibanding Banjarmasin, sudah itu tampak tua, dan jauh dari kesan megah. Lalu cara berpakaian mereka, baju-baju mereka terlihat lusuh dan kumal. Gaya mereka lugu dan bersahaja.

Semula saya berpikir, mungkin gaya hidup orang lombok memang sangat bersahaja. Beda dengan gaya hidup orang Banjar yang memang cenderung menomorsatukan gengsi dan prestise. Biar miskin, tapi gaya. Tapi semakin banyak saya melihat kehidupan masyarakat Lombok, semakin miris dan prihatin saya jadinya. Ya, Allah? kenapa di bumi seindah dan sesubur ini, saudara-saudara saya di lombok tidak hidup sejahtera??

Terlebih ketika mendengar penjelasan guide. Katanya di Lombok, khususnya suku Sasak, para lelaki bodoh-bodoh. Saking bodohnya, bila sudah menikah, mereka tidak kerja. Yang kerja malah istri-istrinya. Itu bodoh atau malas? Saya makin kasihan dengan wanita Lombok.

Selanjutnya kami singgah ke toko souvenir makanan. Yang dijual dodol dan manisan rumput laut. Ada juga dodol dan manisan buah lain. Kemudian ada produk kacang mete. Ada berbagai jenis madu lombok. Dan banyak lagi.

Terakhir baru kami singgah lagi ke Pantai Senggigi. Setelah menyusuri jalan pinggiran pantai, dari dataran rendah sampai naik ke tebing bukit tinggi (hari pertama saya dan beberapa teman sudah ke sini), kami berhenti di pantainya. Kalau hari? pertama kami singgah di pantai yang sepi pengunjung dan sama sekali tidak ada orang jualan. Sekarang kami masuk ke bagian pantai yang ramai. Masuknya aja melalui jalan Hotel Sengigi Beach. Di bagian ini pengunjung dan penjual banyak sekali.

Selain yang berdagang, ada juga penyewaan kano, ban, dan lain-lain. Eh, ada juga yang menawarkan jasa men-tato. Bukan tato beneran, tapi tato heena, mahendi atau pacar kata orang Banjar. Motifnya macam-macam, dan bagus-bagus. Katanya sih, tu tato bisa bertahan 2 minggu. Sri tertarik untuk ditato. Bagaimana tidak, tukang tatonya cakep sih. Saya sempat berpikir, kok cakep-cakep jadi tukang tato di Sengigi, sih? Kenapa nggak jadi bintang sinetron aja? Pikiran yang aneh, ya! Buktinya, Sri aja, tidak cuma minta tato tangan, tapi juga kaki. Untung, bukan bagian lain. Bisa ngamuk tuh suaminya--- si Jojon.

Selain menikmati pemandangan sambil main air dan pasir di pinggir pantai, saya juga asyik memperhatikan turis. Ada anak bule lucu-lucu. Tapi saya lihat, Ibunya kok berjilbab. Tapi setelah saya dekati dan dengar mereka bicara, bahasanya ke arab-araban. Kayaknya sih mereka turis Turki. Balita lelaki mereka lucu banget. Agak takut sama ombak. Tidak berani ke tengah. Tapi dia suka dan berteriak-teriak. Lucu? Ada juga kakak-kakaknya. Ada anak lelaki sekitar 10 tahunan. Ada yang ABG, lelaki dan perempuan. Yang perempuan berjilbab. Mareka asyik bercanda sambil main kano.

Puas kami menikmati Pantai Sengigi di bagian ini. Magrib baru kami kembali ke bis. Sayang, mimpi saya untuk melihat bawah laut lewat snorkling atau diving tidak terwujud. Saya tanya guide-nya, tempat biasa untuk keduanya di arah bagian menuju pulau Gili Trawangan. Ih, gaya ya, PNS mimpi bisa diving dan snorkling. Wong, ke Lombok aja pake biaya kantor. Dasar pemimpi?!

Bagaimanapun, Alhamdulillah? untuk semua yang saya nikmati dan alami di Lombok. Sekecil apapun, saya tidak akan pernah melupakannya seumur hidup.

  • view 190