Aku, Sakit , Engkau dan Mereka #1

Lina Dewanto
Karya Lina Dewanto Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Maret 2016
Aku, Sakit , Engkau dan Mereka #1

????? Kairo, Desember'13
?????
????? Kota klasik ini tak pernah berubah. Di awal Desember sang surya seakan takut oleh awan mendung. ia tak berani menampakan sinarnya walau sekejap saja melainkan tiga bulan kemudian. Hingga Kairo diselimuti kebekuan yang merasuk ke setiap tulang yang merasakannya. Kota pun menjadi sunyi. Masing-masing sibuk mencari perlindungan diri. Siapa sangka Kairo bisa memiliki musim es? Ya. Dulu aku pun tak menyadarinya. Namun, kini di tahun ke tiga aku masih selalu merasa ini adalah hal yang pertama. Seakan-akan aku dan musim es ini tak pernah berkenalan sebelumnya.
????? Tak hanya kebekuan yang aku harus hadapi bila musim es tiba. Melainkan musim penat. Musim ujian kampus yang selalu membuatku gemetran. Azhar, kampusku memang berbeda dari kebanyakan kampus lainnya. Tidak seperti kampus-kampus? di Indonesia. Selain tumpukan diktat kuliah yang banyak, ujian Azhar dilaksanakan kurang lebih tiga sampai empat minggu setiap termin. Tidak ada semester di kampusku. Itu berarti setiap tiga bulan sekali aku dan teman-teman selalu memburu ilmu, melahapnya, memahatnya di fikiran dengan cepat untuk menghadapi ujian ini.
????? Pastinya terbayang bagaimana sempitnya waktu serta ruang gerak saat masa ujian tiba. Selalu ku berujar, sehat terus ya Lin...sehat terus ya...masih banyak ujian. Tapi apa daya. Manusia hanya bisa berusaha, Allah yang berkehendak segalanya. Sehari sebelum ujian tiba aku jatuh sakit. Akibat minum susu kemasan yang ternyata tiga hari kemudian akan expired.
????? Setelah pagi ku lewati terus-terusan dengan buang air ke wc, aku pun akhirnya muntah juga. Sebenarnya pada saat itu aku merasa sungkan sekali dengan teman- teman seisi rumah. Akhirnya aku pun merepotkan mereka.
????? Aku diantar menuju klinik Rumah Sehat Masisir. Disini klinik akupunktur dan thibbun nabawi. Klinik ini sudah terkenal dikalangan kami masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir). Teh Latifah, sang terapis sangat terampil dan ahli dengan profesinya ini. Sudah tak terhitung banyaknya pasien yang disembuhkannya. Selain pelayananya optimal, disana kami tidak bayar kecuali untuk obat-obtan saja atau jika ingin berinfak disedikan tempat bagi mereka yang ingin menyisihkan rezekinya. Maaa Syaa Allah...aku berharap dapat membalas kebaikannya kelak.
????? Disana aku diperiksa dan diterapi menggunakan jarum aku punktur. Kemudian aku diberikan beberapa obat-obatan herbal. Androghapis namanya. Obat ini dikonsumsi untuk dosis seminggu. Serta aku dianjurkan minum propolis sehari dua kali. Setiap satu gelas air hangat ditetesi delapan tetes. Selain itu aku memiliki banyak pantangan. Olahan susu, strawberi, mintak-minyak, pecin, kacang-kacangan termasuk olahannya tempe dan tahu, sambal. Dan aku wajib memperbanyak makan sayuran.
???? Lalu, bagaimana dengan ujianku dan ujian-ujian lainnya? Aku terus bergumam dalam hati. Ragu bagaimana melewatinya. Disatu sisi aku harus ujian karena tidak ada ujian susulan. Di sisi lain aku tak mampu berfikir terlalu keras. Karena perutku masih sakit. Yang aku butuhkan banyak rehat. Hanya satu kalimat yang terhembus di lisan ini, Laa Haulaa Wa Laa Quwata Illa billah...
????? Seminggu kemudian, tujuh hari yang dirasa sangat panjang ku laluinya, aku kembali ke klinik. Untuk cek kesehatanku kembali. Teh Latifah berkata, bahwa penyebab sakitnya sudah mulai mereda. Namun aku harus tetap konsumsi propolis sebagai penguat sistem imun tubuhku. Ku terima sarannya dengan baik. Setiap hari aku rutin minum dua belas tetes propolis. Aku pun mulai terbiasa makan terjadwal rapi. Bermula dari pagi, tidak boleh makan pagi melebihi jam tujuh pagi, makan siangku tak boleh lebih dari jam dua belas pagi, akan malam harus pukul lima sore. Diluar waktu itu perutku akan terasa sangat sakit. Sakitnya hingga ke ulu hati. Aku sering menduga apakah lambungku sudah separah itu...dan apakah aku bisa sehat seperti sedia kala...
????
Awalnya terasa berat. Bayangkan, ujian padat merayap. Aku harus lihai memilih makanan yang masuk ke mulutku setiap aku akan makan. Ditambah aku tak mungkin memasak ini-itu karena waktu belajarku akan tergilas percuma. Dan tak mungkin aku minta tolong teman-teman untuk memasakanku. Sempat terlintas untuk selalu delivery terutama saat hari-H ujian. Ah tapi ku urungkan niatku karena itu namanya pemborosan.
?? ?
Aku tidak ingin berfikir terlalu keras yang memicu stress. Banyak hal yang harus ku jalani di negeri asing ini. Selain ujian tentunya. Sekarang aku hanya bisa berharap, aku bisa bersabar dalam kesabaran ini. Dan semoga Allah menyembuhkanku. Yang penting aku harus selalu berfikir positif serta mengambil banyak pelajaran. Bahwa ternyata apapun itu yang memiliki jangka waktu sxpired sebentar, semisal seminggu dari masa produksi tidak boleh dimakan disaat tiga hari menuju waktu terakhirnya. Misalkan roti batas akhirnya tanggal empat. Nah tanggal satu sudah tidak baik dikonsumsi lagi. Mungkin sebagian orang yang pernah makan disaat waktu expirednya mepet merasa baik-baik saja. Tapi untuk berhati-hati. Sebagimana pepatah berunyi Al-Wiqoyah khyrun minal 'Ilaaj. Pencegahan lebih baik daripada mengobati.
?????? teruntuk mereka, tak mampu diri ini meremas terima kasih. Atas segala bara semangat demi kesembuhanku.
?????? teruntuk malaikat-malaikat-Nya yang biasa dipanggil keluarga, maaf merepotkan penuh keluh.
?????? teruntuk Engkau, Sang Penggenggam segala, semoga Kau jadikan sakitku sebagai pnawar dosa.
????? dan kepada sakit... ah, biarkan aku menjadikanmu kerelaan agar ringan ujianku.


(Selanjutnya, memoar menyembuhkan diri yang di derita limpaku)

  • view 119