Renungan Jiwa : Dua Hal yang Tidak Bisa Dipisahkan

Lina Dewanto
Karya Lina Dewanto Kategori Renungan
dipublikasikan 05 Maret 2017
Renungan Jiwa : Dua Hal yang Tidak Bisa Dipisahkan

Bagaimana kita bisa berakhlak dan berbudi luhur?

Menyayangi sesama tanpa membeda-bedakan: ini ada pada diriku, sedangkan dia tidak punya ini.

Bagaimana mengimani Allah SWT serta menta'ati ajaran Rasulullah SAW secara paripurna, hingga yang di bumi dan di langit tentram menemani kita? 

Bagaimana kita tahu, hal-hal wajib dan penting yang harus kita tahu, sebelum ada penyesalan yang nelangsa di isak tangis kita?

Bagaimana kita bisa tidak menyerobot pada hak orang lain. Kerabat, teman, bahkan sang guru. Agar kita tidak menjadi murid yang kehadiran pun tak diharapkan akibat semena-menanya diri kita saat duduk di majelis beliau. Saat bertanya,bahkan saat mengkritik sang guru. 

Bagaimana kita tahu bahwa akhlak ihsan itu adalah perkara yang teramat detil. Tidak hanya dalam perkara shalat saja seakan-akan melihat-Nya, kalaupun kita tidak melihat-Nya, Sungguh Allah melihat kita. Dari sejak kita bangun tidur hingga tidur lagi. Ada akhlak ihsan yang harus diperhatikan untuk tubuh kita, akhlak ihsan untuk lingkungan kita, serta terhadap Allah SWT. Terutama saat lintasan fikiran bermain-main dalam benak kita...?

Bagaimana kita bisa mendidik diri kita agar menjadi makhluk yang memiliki rasa berterimakasih pada orang lain. Dan menjadi makhluk yang pandai bersyukur pada Allah?

 Bagaimana cara agar hati dan fikiran ini bekerjasama agar tunduk khusyuk saat shalat, agar syahdu nurani kita saat membaca ayat-ayat-Nya?

Bagaimana kita mampu paham untuk merespon segala kejadian, takdir...agar mudah lisan ini berkata : Selamat datang takdir Allah?

Dan masih banyak segudang 'bagaimana' yang harus kita kupas.

Untuk bisa paham itu semua, maka kita butuh : BELAJAR. Agar memiliki ilmunya.

Ulama berkata akhlak adalah buah dari mengamalkan suatu ilmu.

Lalu mengapa imam Malik berkata "Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu".

Dikisahakan, Imam Malik diperintahkan oleh ibunya agar belajar adab kepada gurunya Rabi'ah sebelum belajar ilmu lain. Karena ibunya khawatir, kelak anaknya pintar namun akhlaknya tidak bagus. Maka dari itu, sang ibu Imam Malik ingin mengingatkan anaknya bahwa diantara bab keilmuan, ada bab adab dan akhlak yang wajib dipelajari juga.

Sejak saat itu imam Malik sering mengingatkan murid-muridnya agar jangan lupa belajar adab dan akhlak.

Ingat di kalimatnya imam Malik, tetap menggunakan kata 'belajar':  Belajarlah adab. Alias bukan memaknainya seperti ini : berakhlak lah dahulu daripada belajar ilmu lain.

Karena, itu salah besar bila kita mengenyampingkan belajar karena beranggapan akhlak bisa didapatkan tanpa belajar. Logikanya, bagaimana kita bisa sabar, lembut, adil, bijaksana dll jikalau kita tidak pernah belajar tentang itu semua...tentang akhlak?!

Maka berilmu dan berakhlak adalah dua hal yang tidak bisa kita pisahkan.

Dilihat 728