Renungan Jiwa :Berpikir Besar - Bercita-cita Besar - Menghasilkan Karya Besar

Lina Dewanto
Karya Lina Dewanto Kategori Renungan
dipublikasikan 22 Januari 2017
Renungan Jiwa :Berpikir Besar - Bercita-cita Besar - Menghasilkan Karya Besar

Apa yang bisa kita berikan untuk Indonesia?

Ucap kang Aher saat menasihati kami ketika kunjungannya ke Kairo beberapa bulan lalu. Kalimat itu terngiang di kepala saya sampai detik ini. Membayangkan kelak saya ingin melakukan ini dan itu. Dan berharap, cita-cita saya, impian saya memberikan dampak positif untuk Indonesia.

Satu kalimat itu pula telah membuat pertanyaan-pertanyaan hilang dari pikiran saya. Dahulu, sering saya berfikir,

nanti setelah studi saya usai, saya mau kerja dimana ya...?

ada peluang apa saja di Jawa Barat...?

berapa penghasilan saya nanti ya...?

dan setumpuk pertanyaan lain. Yang sebenarnya intinya cuma satu. Yaitu, apa yang saya dapatkan nanti usai studi saya ini selesai?

Itu membuktikan bahwa, fokus saya masih pada 'take' alias hanya mau mendapatkan saja. Sehingga lupa untuk 'give' alias memberikan yang terbaik dari segala yang telah saya dapatkan di bumi para nabi ini.

Saat fokus kita hanya ingin 'mendapatkan', kita lebih cenderung pasif dalam berikhitiar. Misal, hanya menunggu lowongan pekerjaan, menunggu panggilan, menunggu undangan. Bahkan tak bisa dipungkiri, mental kita menjadi tidak terlatih. Alias maunya yang enak-enak saja. Maunya langsung dipilih sebagai dosen, maunya ada undangan mengisi pengajian, maunya diminta menduduki suatu  jabatan, dsb. Padahal, perihal masa depan, hanya Allah yang tahu. Kita sebagai manusia harus berusaha. Alias akhdzul asbab atau mengupayakan 'sebab'.  Logika sederhananya, tak mungkin serta-merta, tiba-tiba tak ada angin tak ada hujan, ada orang penting yang menghubungi kita, sedangkan kita ini siapa?

Untuk itu, kita harus tahu bahwa kesuksesan besar, karya yang besar akan lebih banyak memiliki peluang untuk kita raih saat kita banyak 'memberi' alias the power of giving.  Banyak contohnya, terutama Kang Aher.

Beliau bercerita dari pengalamannya sejak kecil, mengajar hingga bisa seperti sekarang impiannya tercapai adalah karena aktiv berkontribusi. Beliau menggaris bawahi hal-hal penting, terutama agar hidup kita ini bermanfaat, menghasilkan karya besar. Yaitu,

  1. Mulailah berpikir besar!

Jangan kerdilkan diri kita!.Hargai potensi yang kita punya! Sebagaimana Umar bin Abdul Aziz berkata "Allah menyayangi seseorang yang mengenal dirinya". Maka, sejauh mana diri kita mengenal diri kita sendiri? Gali lebih dalam! Karena dari pikiran besar  kelak lahir cita-cita besar pula. Dan niscaya insya Allah, membuahkan karya besar pula. Kita harus percaya, bahwa diri kita ini punya khas masing-masing yang sangat disayangkan bila tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

  1. Bangunlah kepantasan!

Bagaimana kesuksesan itu terjadi? Kita harus memahami sejak awal, bahwa namanya kesuksesan itu adalah Iradah Ilahiyyah wa Ikhtiyar Basyarriyah alias takdir Allah  SWT dan usaha diri kita . Sebagaimana disinggung di awal, kita pantaskan diri kita, agar tercapai cita-cita kita. Maksudnya 'kepantasan' di sini adalah, usaha kita tidak ngasal . Usaha kita benar-benar terstruktur, rapi, cerdas dan cermat. Bisa kita evaluasi usaha kita selama ini, jika belum mendapatkan, bisa jadi karena usaha kita belum pas. Belum click. Hingga terasa sangat sulit.

  1. Jangan sepelekan ilmu!

Ilmu adalah salah satu unsur terpenting yang harus ada pada SDM. Tenaga kerja yang baik hadir bila SDM adalah SDM yang unggul. Kita contoh kang Aher, demi mewujudkan cita-citanya dalam ranah: pendidikan, pertanian, pembangunan, makro ekonomi, beliau rela belajar itu semua. Termasuk belajar tentang perikanan. Itu semua agar timbul kepercayaan, ketelitian, kepahaman, hingga saat beliau menjalankan proyek-proyeknya, beliau paham betul dan rapi mengerjakannya. Jangan heran, bila ngobrol dengan beliau, beliau bisa membawa kita berkelana dengan wawasan sejarahnya, hadits nabi, ilmu fiqih, dll. Itu semua akibat ilmu syariat yang pernah beliau pelajari, benar-benar beliau pahami dan praktikkan. Sehingga lisan mudah menjabarkan seluruh ilmu tersebut.

4. Jangan terpusat pada perkotaan!

Seringnya, perkotaan menjadi sasaran utama untuk mengais rezeki dan mencari peluang. Terkhusus bagi para da’i jangan hanya fokus pada perkotaan, sehingga menelantarkan perkampungan. Ingatlah, munculnya kesesatan saat ada ruang kosong. Alias tidak paham jalan yang benar. Na’udzubillahi mindzalik.

5. Rezeki bisa datang dari mana saja.
Rezeki datangnya tidak harus sama sesuai jurusan kita saat bersekolah atau kuliah. Namun, itu bisa menjadi pembuka awal bagi pintu-pintu yang lain. Mengapa? Karena minimalnya, kita memiliki modal yaitu berupa ilmu yang telah kita pelajari saat dahulu. Sehingga itu bisa kita gunakan sebagai modal terdekat kita. Selanjutnya, semua tergantung sejauh mana usaha kita dan secerdas apa kita menciptakan peluang. Maka jangan sia-siakan dari yang kita pernah peroleh dahulu. Barangkali di sanalah ada kesempatan yang bisa kita ambil. Kita pun harus ingat, bahwa rezeki itu Allah sudah mengaturnya. Kita bertugas mengetuk pintu rezeki itu.

Mari kita buang jauh-jauh segala alasan kebuntuan yang kita ciptakan , yang  selama ini menghambat langkah-langkah kita. Kita evaluasi hidup kita, bila ada yang keliru, segera perbaiki! Terutama dalam cara berfikir kita.

Wallahu a’lam bishawwab

 

  • view 129