Serial Parenting : Sang Ayah Penyelamat Keimanan Anak- Anaknya.

Lina Dewanto
Karya Lina Dewanto Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 16 Januari 2017
Serial Parenting : Sang Ayah Penyelamat Keimanan Anak- Anaknya.

Ayah... betapa gagah pundaknya, berani menanggung ribuan kehawatiran untuk diuraikan,
Ayah... betapa mulia tugasnya, hingga Allah jadikan para ayah sebagai sumpah yang tersemat dalam kalam-Nya,
surat Al-Balad : 3

و والد و ما ولد
"Dan demi ayah dan anaknya"

Maka, berbahagialah calon ayah dan para ayah! Allah sematkan tugas sebagai ayah dalam bentuk sumpah, 'demi ayah..'
Allah SWT memilih kata 'ayah' dalam bentuk sumpah, agar para makhluknya memperhatikan apa yang Allah jadikan sumpah tersebut.
Allah juga ingin kita mentafakkuri hal tersebut, karena disanalah letak rahasia-Nya. Hingga tersingkaplah kebodohan dari akal kita. Saat semua tersingkap, kita akan lebih peduli, lebih teliti pada tugas dan  kehadiran 'ayah' di muka bumi.

Sosok ayah sejati, yang bisa menjadi pahlawan bagi anak-anaknyalah yang diimpikan oleh calon ayah.
Banyak keteladanan yang bisa para calon ayah dan ayah tiru. Termasuk gigihnya ayah Sa'ad bin Zayid, yang kelak membuat anaknya selamat dijamin masuk Surga.

Zayid bin 'Amru bin Nufail, adalah lelaki teguh pendirian pada tauhid yang diajarkan nenek moyang mereka Nabi Ibrahim a.s. Ia selalu mendidik istrinya serta Sa'ad yang pada masa itu masih kecil untuk tetap teguh pada ajaran tauhid meski tetangga mereka, warga Quraiys mayoritas telah menyembah berhala, meninggalkan ajaran tauhid.
Merasa terasingkan oleh lingkungannya, tak membuat keimanan Zayid goyah.
Cara ia memandang suatu masalah begitu jernih, hingga ia memiliki skill yang sudah menjadi natural mengalir di darahnya.
Dan ia aplikasikan kemampuannya itu untuk mengarungi dunia tanpa terombang-ambing mengikuti arus.

Terbukti, ketika mayoritas penduduk Quraiys sedang berpesta merayakan hari besarnya, bermegah-megah dengan sorban sundusiyah (sorban termahal), para wanita memakai pakaian yang gemerlap dan perhiasan yang mewah, bahkan binatang-binatang ternak pun mereka dandani, menghiasi dengan perhiasan megah setelah itu ramai-ramai menyembelihnya dengan semau nafsu mereka.

Keluarga Zayid tidak ikut merayakan, Zayid hanya bersandar di dinding Ka'bah. Menatap manusia-manusia yang telah jauh meninggalkan tauhid. Cara hidup mereka, adab mereka sungguh tak pantas dan tak layak. Hingga Zayid geram dan berkata "Waha kalian penduduk Quraiys, Allah lah yang menurunkan hujan agar bintang ternak kalian tak kehauasan. Allah juga yang menumbuhkan rerumputan agar bintang ternak kalian kenyang, tapi betapa bodohnya kalian, tidak menyembelih binatang-binatang itu dengan atas nama Allah!"

Singkat cerita, Zayid dikucilkan dan pergi jauh ke negeri Syam untuk memperdalam tauhid dan membuktikan bahwa ajaran tauhid adalah yang paling benar. Jiwanya sangat semangat mencari kebenaran, Allah melihat niat Zayid begitu kuat, Allah pertemukan Zayid dengan ahli agama, disanalah Zayid tahu bahwa sebentar lagi Rasulullah , Sang Utusan Nabi terakhir akan hadir, membebaskan mereka dari kezaliman dan menuntun mereka tata cara beribadah yang lengkap.
Bergegaslah Zayid pulang ke Makkah. Fikirannya amat senang, fokusnya hanya pada satu hal, agar ia dan keluarganya selamat di dunia dan akhirat. Namun, taqdir Allah mendahuluinya. Ia wafat dibunuh segerombolan pria, namun Allah maniskan lisannya di akhir hayatnya, saat sakaratul maut menjemput, suara yang parau bersamaan degup jantung yang akan berhenti, ia masih mampu berdoa " Ya Allah, janganlah Engkau haramkan Sa'id anakku dalam agama yang lurus ini..."

Apakah cita-cita sang ayah, peringatan sang ayah pada anaknya terhenti saat ayah itu wafat? Tidak!.
Allah Maha Penyayang, niat tulus sang ayah, telah Allah sampaikan meski sang Ayah tidak menyaksikan anaknya. Terbukti, saat Sa'ad belum genap usianya 20 tahun, ia menjadi Assabiqunal Awwalun minal Awwalin. Yaitu orang-orang yang paling dahulu mendahului yang lain dalam mengimani Nabi Muhammad menjadi Rasul penutup para Nabi. Dan Sa'ad pun mengimani bahwa Islam adalah agama penyempurna ajaran tauhid yang terdahulu yang ia dengar dari ayahnya. Selain itu Sa'ad sangat  berani menghadapi iparnya Umar bin Khattab saat Umar menghadangnya dengan senjata. Ia tak takut, bahkan ia membuat Umar bin Khattab tertarik dengan Islam. Sifat-sifat baik Sa'ad adalah berkat didikan orangtuanya, serta doa sang ayah terdahulu.

Prinsip-prinsip tauhid yang telah ayahnya ajarkan kepada Sa'ad membuat Sa'ad begitu mudah, tanpa ragu berdakwah bersama Rasulullah SAW.  Ia tumbuh gagah, berani mengikuti segala perang demi tersebar kembali ajaran tauhid. Prestasi-prestasi mulianya membuatnya bersama para sahabat yang lain yang dijamin masuk Surga.

Ayahnya, Zayid memang telah wafat mendahului niat mulianya. Namun, Islam begitu mudah, saat kita berniat melakukan suatu amal, namun ada penghalang (uzur) yang tak bisa kita hindari sehingga kita belum sampai pada tujuan,
ketahuilah.... ketahuilah... bahwa ia telah dicatat melakukan amal tersebut karena niat tulusnya lillahi ta'ala.

Maka, mari meneladani kisah ini, bahwa ayah bisa memiliki saham pahala yang tak pernah putus, yang terletak pada anak-anak mereka. Sebagaimana Zayid mengajarkan anaknya untuk tetap bertauhid pada Allah dan tidak ikut menyembah berhala, maka saat Sa'ad mengamalkan ajaran, peringatan, nasihat dari sang ayah, saat Sa'ad berdzikir hatinya mengingat Allah, bahkan jauh, setelah ayahnya tiada, Sa'ad menjadi pahlawan di berbagai perang, maka pahala itupun mengalir pada sang ayah.
Mari kita sama-sama ingatkan para calon ayah dan ayah, bahwa betapa mulia tugas mereka untuk mendidik anak-anaknya, mengantarkan anak-anaknya agar menjadi shalih dan mushlih, karena tugas mendidik bukan hanya pada tangan sang ibu, tapi sang ayah pun memiliki peran penting. Tak kalah penting dari peran ibu.  Ingatkan mereka agar senantiasa berdoa yang baik-baik untuk keluarganya terkhusus untuk anak-anakanya. Kirimkan juga nasihat-nasihat meski sederhana, dan meski di jam-jam sibuk para ayah.
"Nak, pergi sekolah jangan lupa berdoa ya..."
"Nak, makannya dengan tangan kanan ya..."
"Nak, kita ngaji yuk! "  dan nasihat-nasihat lain yang meski terlihat sepele, dan mungkin sang anak akan mengaplikasikannya tak sekarang. Mungkin nanti. Namun yang terpenting, saat sang anak mengamalkan hal tersebut, maka sang ayah pun mendapatkan berkah dan pahalanya.

Wallahu a'lam bishawwab.

 

  • view 371