Renungan Jiwa : Saat Mendengar Fitnah Terhadap Orang Mu'min

Lina Dewanto
Karya Lina Dewanto Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 04 Januari 2017
Renungan Jiwa : Saat Mendengar Fitnah Terhadap Orang Mu'min

Sepenat jiwa pada berita-berita miring tak bersandar. Yang terlanjur merebak baunya seantero kota. Bahkan hingga pelosok-pelosok negeri. Begitulah dunia ini. Penuh dipadati tudingan-tudingan pada orang-orang mu'min.

Sejak dahulu, fitnah terhadap orang-orang beriman tak pernah berhenti. Terhadap Nabi-Nabi dan Rasulullah sudah jelas sering terjadi. Termasuk terhadap sahabat Rasulullah, ulama, kiyai, pejuang paji-panji Allah, pada yang sedang berjuang dalam ranah ilmu-ilmu syariat, tokoh-tokoh lain yang yang duduk di parlemen dalam rangka menegakkan agama Allah, dan yang lainnya.

Yang tidak memahami, akan mudah termakan isu-isu tersebut.
Yang cara berfikirnya tidak mendalam, akan cepat tergiur menyebarkannya ke orang lain.
Atau yang terbiasa menggosip berita fitnah, maka akan menjadi kebiasaan.
Seperti kata ulama. Bergossip itu seperti makan buah. Awalnya sedikit aja, lama-lama ketagihan dan berlanjut. Na'udzubillahi mindzalik.

Mari berkaca seperti akhlak para Sahabat. Termasuk Abu Ayyub Al-Anshari serta istrinya. Ketika. istri Rasulullah, Aisyah r.a difitnah keji bahwa Aisyah r.a dan Shafwan telah berzina (kisah haditsatul Ifki) oleh khalayak ramai, dengan berbagai argumen nafsu yang mengiyakkan kejadian tersebut.

Abu Ayyub bertanya pada istrinya, "Apakah engkau turut percaya dan menyebarkan berita tersebut?" Ummu Ayyub menjawab, "Wallahi tidak". Abu Ayyub menimpali "Sesungguhnya Aisyah r.a lebih baik daripada engkau . Dan Shofwan itu pun lebih baik daripada saya. Dan berita yang menggemparkan tersebut hanyalah berita dusta!"

Bisa kita rasakan betapa rendah hatinya Abu Ayyub, serta tegasnya dalam mengajarkan istrinya agar tidak mudah termakan berita fitnah.
Maka bisa ditafakkuri bahwa saat ada berita keji yang dituduhkan kepada orang mu'min, tundukkanlah hati kita, rendahkan hati kita. Agar kita tidak goyah ikut menyebarkan berita tersebut ke orang lain.

Bahkan lebih jelasnya, kita jujur pada diri sendiri. Bahwa dosa-dosa kita yang tidak diketahui orang lain sangat banyak. Yang bisa jadi terluput dari fikiran kita, akibat tresibuki dengan menyebarkan berita fitnah tersebut. Kita bayangkan , renungkan betapa sedikitnya infaq kita, betapa belum khusyuknya shalat kita, betapa masih buruknya lisan kita saat tilawah al-quran, bahkan kita lebih tak paham dalam ilmu agama, memahami pokok-pokok syariat pun masih abu-abu, betapa belum maksimalnya kita menolong agama Allah. Dan lain-lainnya.

Dari renungan hati kita yang murni (ikhlas) kita berharap akan lahir akhlak seperti Abu Ayyub Al-Anshari. Dan kelak saat ada berita fitnah terhadap orang mu'min yang terdengar di telinga kita, kita bisa mengucapkan "Si Fulan/ah lebih baik akhlaknya dari saya. Maka saya tidak percaya berita tersebut!"

Allahumma thahhir quluubana min suu:il Akhlaq. Ya Allah sucikanlah hati kami dari akhlak yang buruk.

  • view 84