Namanya Dapit

lima maret
Karya lima maret Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Januari 2016
Namanya Dapit

?

Namanya David.
Ya, hanya satu kata. David.
Karena pengaruh dialek lingkungan, penyebutan namanya menjadi dapit.

Saat foto ini di ambil, Dapit ada di kelas 7 MTs Darussholihin, Desa Hujung, Provinsi Lampung. Pasti banyak yang tak mengenal desa tersebut. Aku pun sebagai warga kelahiran Lampung tak pernah tau tempat itu ada sampai aku 'dipaksa' ke sana.

Dapit anak yang aktif. Ia mempunyai semangat belajar yang tinggi melebihi teman-teman kelasnya. Dapit suka pelajaran matematika, IPS, dan olahraga. Ketika ditanya alasan ia suka belajar matematika, ia menjawab karena akulah gurunya.

Apa yang kalian rasakan ketika menjadi aku? Ah, mungkin biasa saja. Namun satu hal yang kalian perlu tau. Anak-anak di Desa Hujung bukanlah anak-anak yang terbawa arus modernisasi seperti anak-anak kota. Mereka memiliki semacam ketulusan yang murni dimiliki oleh anak-anak seusianya. Selalu ada rasa haru ketika bercengkrama dengan mereka. Bukan karena mereka memperlakukan aku dengan istimewa. Mereka memiliki semangat dan jiwa yang benar-benar murni, tidak terpolusi oleh 'fenomena kepentingan' yang dipaksakan kepada anak-anak seusia mereka.

Bukan hanya Dapit saja. Sebagian besar dari mereka tidak bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan benar. Bahkan di kelas 7 sekalipun, banyak yang tidak hapal dengan lirik lagu kebangsaan tersebut. Pun dengan lagu-lagu nasional lainnya. Meski begitu, semangat nasionalis tetap tercermin dari perilaku mereka. Mereka menghargai Indonesia sebagai satu-satunya tanah kelahiran mereka. Cita-cita mereka tidak lepas dari kemajuan bangsa Indonesia.

Tidakkah kita sebagai kakak yang lebih berpendidikan dari mereka merasa malu jika tidak menempatkan kemajuan Indonesia sebagai salah tujuan utama dalam kehidupan kita? Belajar dari anak-anak terkadang perlu untuk meluruskan kembali hati kita yang semakin jauh dari tanah kelahiran kita sendiri. Belajar kepada negara lain boleh-boleh saja, tapi tetap harus ingat dengan rumah yang pertama kita pijaki tanahnya, yang pertama memberikan kehidupan, dan yang menjadi tempat kembali kita nanti.

  • view 130