Review Series: 13 Reasons Why

Desi  Mandasari
Karya Desi  Mandasari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Mei 2017
Review Series: 13 Reasons Why

Netflix kembali merilis series yang booming di kalangan penikmatnya. Beberapa waktu lama, linimasa Twitter ramai oleh pembahasan series tentang dilema kasus bunuh diri di lingkup remaja yang diangkat dari novel karya Jay Asher berjudul 13 Reasons Why.

Kali ini, saya akan mencoba me-review series bergenre drama, misteri, dan kriminal yang terdiri dari 13 episode ini. Siapa sangka, artis Selena Gomez juga berada di belakang layar series yang sempat dikritik karena dianggap mempopulerkan bunuh diri di kalangan remaja ini. Pendapat saya setelah menonton keseluruhan episode adalah WOW! Kita benar-benar tidak bisa menilai keadaan mental seseorang dari tampilan luarnya saja. Seorang Hannah yang modis, cantik, dan bahkan tampak baik-baik saja akhirnya berakhir bunuh diri.

Sebelum bunuh diri, ia merekam alasan bunuh dirinya dalam 7 buah kaset yang semuanya berisi 13 alasan ia bunuh diri. Penonton diajak merasakan emosi yang Hannah rasakan, bahkan mungkin ikut tertekan dan deg-degan. Beberapa menganggap Hannah terlalu lebay dan baper karena usia remaja (diceritakan Hannah adalah pelajar SMA), namun jika kita mengalami masalah bertubi seperti Hannah bukan tidak mungkin akan merasakan stres yang sama, bukan? Apalagi di usia rentan remaja.

Kaset-kaset itu digandakan dan dikirimkan kepada orang-orang yang dianggap Hannah bertanggung jawab terhadap keputusan bunuh dirinya. Pilihannya ada dua; mendengarkan atau mengedarkan kasetnya. Tokoh utama, selain Hannah, adalah Clay, teman laki-laki Hannah yang dikirimi kaset dan ia memutuskan mendengarkan sampai selesai. Clay pernah menyimpan perasaan pada Hannah, namun siapa menyangka namanya ada di salah satu kaset. Memang unik untuk ukuran anak millenial menyimpan catatan/rekaman dalam bentuk kaset. Hehehe... Saat itu, Hannah mengaku pada ibunya bahwa ia sedang membuat sebuah proyek (sekolah).

Lama-kelamaan, Clay mulai merasa depresi, terutama jelang kasetnya sendiri. Dia berusaha meminta tiap orang di kaset untuk bertanggung jawab, tapi mereka berpikir bahwa Hannah hanya berlebihan dan berbohong. Di sisi lain, ibu Clay adalah seorang pengacara yang direkrut sekolah untuk membuktikan bahwa tidak pernah ada kasus bullying di sekolah. Konflik batin kembali terjadi pada Clay. Untunglah ada seorang Tony, teman baik Clay juga Hannah yang selalu mendorong Clay untuk menyelesaikan tapes-nya. Btw, Hannah meminjam alat perekam kaset dari Tony.

Seperti yang sudah saya tuliskan, meskipun pemain didominasi oleh usia remaja, series ini cocok ditonton oleh segala usia. Di luar sana, justru penonton remaja patut ditemani oleh penonton dewasa ketika menyaksikan series yang bertema utama bullying ini. Selamat menonton, selamat merasakan emosi kesedihan, debaran kemarahan, dan rasa tertekan yang sama seperti yang Hannah dan Clay alami.

PS: Bukan ancaman, but you have to watch it by yourself, khususnya adegan bath tub di episode 13 =))

  • view 48