Juru Bicara Jakarta

Desi  Mandasari
Karya Desi  Mandasari Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 13 Desember 2016
Juru Bicara Jakarta

Kesan pertama begitu selesai nonton Juru Bicara World Tour: Jakarta adalah nyesel! Nyesel kenapa dulu nggak beli Platinum, terus baris duluan biar dapet barisan bangku paling depan. Mengingat venue Juru Bicara adalah bangku-bangku tersusun lurus tanpa berundak, tidak seperti venue Mesake Bangsaku sewaktu di Taman Ismail Marzuki 2013 silam, meskipun gue bisa melihat via giant screens. Kalau Pandji berhasil mewujudkan target untuk manggung di Istora, gue akan mencari posisi lebih baik.

Kenapa? Karena show ini benar-benar worth it. Pandji memulai tur sejak April, berkeliling 24 kota, 5 benua, ditutup di Jakarta. Sejak Agustus, tiket show sudah dijual untuk presale 1 dan ludes sebanyak 1500 tiket. Pandji sempat merencanakan show 2 yang justru diadakan sebelum show 1 karena masih adanya peminat show yang belum kebagian tiket, meskipun akhirnya show ini nggak jadi berlangsung. Ternyata penonton Juru Bicara Jakarta juga datang dari banyak kota di luar Jakarta, ada Surabaya, Palembang, bahkan orang Indonesia yang tengah tinggal di Singapura.

Namun, mereka tentu pulang dengan perasaan puas yang sama. Pandji bukan hanya berhasil menuntaskan tur dunianya, namun memberikan pengalaman luar biasa bagi 3500 penonton yang memberikan standing ovation begitu ia selesai perform. Diawali dengan perform dari dua komika lain, yaitu Coki Pardede dan Indra Jegel (these two guys are totally funny), Pandji masuk dengan ditemani tayangan video berisi foto-foto selama tur dunia. Bahkan, lagu yang diputar sejak open gate adalah lagu yang sama dengan yang didengar Pandji di belakang panggung (then I made the same playlist in my Spotify). Gesture Pandji yang paling gue ingat (gue liat dari layar) sebelum dia masuk panggung adalah ketika Pandji berjongkok dan mengusap lantai panggung, merasakan debu di jemarinya. Kayaknya ini semacam ‘mantra’ biar panggungnya nurut sama Pandji. Hehe hehe.

Pandji membawakan bit yang sama di setiap kota, namun dengan beberapa pengembangan. Bit-bit tertentu diakui Pandji sempat dilarang untuk dibawakan di kota lain, atau bit yang pernah ia ingin bawakan di acara televisinya dulu, tapi dilarang. Tapi Pandji bilang, “Gak apa-apa, nanti gue bawain pas tur dunia.” Duh, luar biasa targetnya. Pembahasan mulai dari prostitusi, HAM, intoleransi, rating TV, kelangkaan satwa, dan krisis berkarya bisa dibahas Pandji satu demi satu secara detail, tanpa gap yang menimbulkan kehingan, namun tetap menghibur. Sangat menghibur. Pandji bisa mengangkat tiap pembahasan dengan baik. Ibaratnya, kalau ada salah satu yang joke yang ‘nggak ngangkat’ langsung disamber sama joke lain.

Inilah yang dikatakan para penikmat karyanya: Pandji bisa membahas hal tabu menjadi layak dibicarakan, bahkan dengan komedi. Ini stand up special kedua Pandji yang gue tonton, hasilnya sama: gue dan pasti penonton lain mendapat wawasan baru. You know what? Pandji nangis! Ya! Seperti yang sudah ditebak beberapa penonton, ia akan menangis di akhir acara, bahkan menepuk dadanya dan terduduk saking harunya. Mungkin begitulah rasanya ketika lo berhasil menggapai mimpi, bersama orang-orang terbaik (tim), menyampaikan keresahan dalam bentuk karya, dan banyak orang mau mendengarkan lo, meski jalan untuk mencapai itu tentu sulit.

Beberapa bit yang masih gue ingat adalah masih kurangnya keinginan dan rasa pede orang Indonesia untuk berkarya, sehingga lebih banyak menjadi pekerja bagi karya orang lain. Lalu, bit soal dunia televisi yang masih mengusung rating sebagai penarik minat, sehingga berita buruk dan drama justru lebih menarik dibanding prestasi anak bangsanya sendiri. Ada juga bit tentang nasib para hewan sirkus yang disiksa demi membuat kita tertawa, padahal kata Pandji buat apa singa laut diajarin berhitung? Dipake juga nggak pas dia balik ke hutan hahaha . . . tapi, bit yang menurut gue paling banyak menarik perhatian penonton hingga mereka browsing adalah . . . daun bungkus papua . . . (silakan googling kalau penasaran).

Selamat menikmati hasil kerja kerasmu, Pandji. Tentu masih terasa bahagia dan bangganya. Ternyata Pandji melankolis juga, ya, terlebih ketika cerita soal perjuangan dia selama tur dunia karena salah satu sponsor memutuskan kontrak. Ia menjadi juru bicara bagi tiap hati dan mulut yang resah, ia ingin membuktikan kepada kedua anaknya: kalau ayah saja bisa tur dunia, Dipo dan Shira juga pasti bisa. Selamat rehat sejenak dan kembalilah berkarya segera (karena tur stand up berikutnya sepertinya masih akan lama, ya).

  • view 620