Kedai Impian Tyo

Desi  Mandasari
Karya Desi  Mandasari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Agustus 2016
Kedai Impian Tyo

Sekadar mengingat pertemuan kita yang terakhir satu tahun, tiga bulan, tiga belas hari yang lalu. Pertemuan yang menurutmu percuma dan tidak ada artinya karena hanya menyisakan sesal dan kesedihan untuk kita. Pertemuan yang bagiku sangat berarti karena melihat teduh matamu saja, bahkan wajahmu ketika marah, adalah peruntungan yang selalu aku nanti-nantikan.

Kala itu, pagi dan malam terakhir kita bersama. Malam di mana aku masih bersedia menahan kantuk dan sedikit pusing hanya untuk menyaksikan kamu tertidur dengan senyum yang masih samar menghias bibirmu, rambut-rambutmu yang mulai panjang melebihi telinga dan beberapa anaknya yang jatuh ke kening, juga gerakanmu yang kadang resah dan menggeliat pelan. Aku mengikhlaskan jam-jam tidurku untuk melihatmu seperti itu, kemudian melukisnya di atas kertasku.

Kemudian datang salah satu pagi terbaik menurut versiku karena bibirmu tidak berhenti berbicara tentang kopi tradisional yang juga terbaik menurut versimu dibanding kopi-kopi impor. Lalu, kamu membuatkanku satu cangkir dengan sedikit susu, disambung dengan ciuman panjang di antara kita. Semua biasanya ditutup dengan nyanyian kecilmu ketika beranjak ke kamar kecil untuk mencukur janggutmu yang mulai tumbuh dan menyisakan noda membiru di dagu.

Kenangan itu selalu menjadi hantu yang tertawa di alam pikiranku. Hingga kini.

“YAS! WOY! AWAS, TUH, MINUMAN TUMPAH! HAPE GUE MAHAL, TUH! NGELAMUN AJA, SIH, LO!” Teriakan Emmi cempreng di telingaku, bukan karena tone suaranya yang tinggi, tapi karena jaraknya yang sangat dekat dengan wajahku. Suara yang mengalahkan suara tawa hantu di pikiranku.

Aku dan Emmi memang tengah merintis usaha kecil-kecilan bersama. Dimulai karena ia melihat bakat menggambar karikatur dan desain grafisku lumayan, sedangkan ia berbakat dalam mempersuasi serta bermain media sosial. Biasanya, aku tinggal memberinya contoh-contoh karyaku, sedangkan Emmi dengan senang hati berceloteh mempromosikannya. Begitupun soal mencari konsumen, aku kadang harus menahan malu karena setiap bertemu orang lain, Emmi antusias beriklan tentang aku dan karyaku.

Hari ini, aku berinisiatif menggantikan tugasnya beriklan di media sosial, sekalian belajar persuasi, pikirku. Akun Instagram sebuah coffeeshop yang baru saja buka di kota kami tengah beriklan memamerkan desain interiornya yang tampak sederhana, namun berkelas. Mungkin Emmi tidak sengaja mem-follow akun-akun baru untuk meningkatkan jumlah followers akun kami. Itu teorinya.

Aku ingat dulu kamu selalu misuh-misuh ketika menemukan kedai kopi yang bangga mempromosikan menu kopi impor. Padahal, kopi arabika dan robusta Indonesia lebih enak dan patut dihargai mahal, katamu. Kamu iseng menanyakan pada kasir tiap kedai kopi yang kita singgahi darimanakah biji kopi di kedai itu dibeli. Ketika embel-embel impor itu kembali mereka ucapkan, kamu bersikeras tidak mau membeli menu kopi, namun bersedia menemaniku untuk tetap di kedai itu, meski kamu hanya memesan air mineral. Tentu ditambahi bumbu-bumbu ceramah tentang kopi tradisional lagi darimu.

Akun kedai kopi ini, bernama @culturecoffeandtea, menggadang-gadang bahwa mereka menyediakan menu kopi dari seluruh pelosok Indonesia. Biji-biji kopi terbaik dari setiap daerahnya, dari Aceh hingga Flores, dengan penyajian yang sudah modern meski masih ada menu kopi tubruk dan kopi susunya. Mungkin kamu sudah melihat kedai ini, mungkin tidak. Mungkin kamu sudah bertanya pada kasirnya apakah benar itu biji kopi lokal, mungkin tidak akan pernah kau tanyakan. Karena akupun tidak tahu, apakah kita masih di kota yang sama atau tidak.

“Gue mau keluar dulu, ya. Ada jadwal mau ketemu konsumen. Lo, sih, nggak mau ikut. Padahal, kayaknya ini proyek yang lumayan, lho. Secara PEREMPUAN ini banyak banget request-nya, print kertas terbaiklah, frame kayu jatilah.”

Entah mengapa Emmi harus memberikan penekanan pada kata ‘perempuan’ itu. Lagipula, sudah banyak permintaan istimewa yang kami terima selama ini, tentu saja itu atas campur tangan Emmi yang jago berbicara.

“PEREMPUAN ini katanya mau bikin kado spesial. Dan karikatur lo ini cuma salah satunya, katanya dia sudah beli beberapa kado mahal lain. So sweet, ya?”

Dan aku tetap tidak bisa menemukan apa istimewanya pesanan ini. Anggukan terpaksa kuberikan agar Emmi berhenti berbicara dan segera melangkah menjemput rezeki kami. Ketika langkah lincahnya hilang di balik pintu abu-abu, aku menghela nafas lega.

Teoretis. Pemberian kado atau hadiah untuk membahagiakan orang lain kadang kurasakan hanya sebuah teori. Di balik itu, setiap orang bisa menilai apakah niat di balik pemberian hadiah itu sungguh tulus atau tidak. Kemampuan untuk merasakan ketulusan itulah hadiah sesungguhnya. Namun, materi memang selalu memiliki tempat sendiri di hati tiap manusia.

Aku menutup lamunan seiring dengan aku mengunci layar ponsel Emmi yang memang sengaja ia ikhlaskan untuk bisnis kami. Soal berbisnis, temanku ini memang patut diacungi jempol, meski mungkin baru kali ini niatnya sungguh-sungguh terealisasi. Itupun setelah ia mati-matian membujukku agar karyaku tidak hanya menjadi file usang di dalam komputer.

Kenapa nggak coba dibisnisin aja, sih? Siapa tau kamu bisa sukses di sini.

Hm, belum kepengen. Lagipula, tidak semua karya harus dibisnisin, kan. Berkarya, kan, soal kepuasan batin juga.

Bukan gitu. Memang semua bukan semata-mata karena materi. Tapi, setidaknya dicoba. Ya, who knows . . .

Nanti, deh. Aku pikirin dulu.

Ok. Yang penting, aku udah ngomong, ya.

Kamu pernah mengatakan hal yang sama. Kedua matamu yang sangat teduh dan dalam menatapku dengan telak, berlawanan dengan pandanganku yang katanya genit, namun ragu-ragu. Mungkin karena itulah kita pernah cocok, ya, pernah cocok. Setidaknya dengan satu hal yang berlawanan ini, banyak debat kita yang akhirnya berakhir dengan pelukan hangat atau sentuhan-sentuhanmu yang entah bagaimana caranya berhasil menyentak seluruh jalinan saraf di tubuhku. Membangkitkan gairah tertentu untuk terus hidup dan bersyukur. Mengingatkanku akan pentingnya aku untuk terus ada. Kamulah salah satu alasanku untuk terus ada.

Sial. Aku mengumpat-umpat dan nyaris benar-benar menumpahkan minuman di tanganku. Kenapa kenangan harus selalu menjadi racun yang menodai rencana indah yang sudah diramu dalam langkah-langkah baru kehidupan. Bahkan, sudah sejauh ini hari berlari, aku bahkan masih mengingat detail suaramu, suara yang bernyanyi tiap pagi dan malam jika keberuntungan menunjukku untuk tetap bersamamu, mengantarku untuk tidur, meski akhirnya selalu kamu duluan yang terlelap.

Kita sudah memperdebatkan ini berulang kali. Kamu pun selalu diam kalau kutanya bagaimana. Jadi, seharusnya masalah ini nggak usah dibahas lagi!

Kalau kamu nggak suka sama satu hal, bukan berarti mimpi orang lain harus berhenti hanya karena rasa nggak suka kamu itu!

Apa? Jalan tengah? Bahkan, jalan tengah dalam persepsi kita nggak sama, Yas!

Berbicara soal kecintaan pada kopi, bukan saja hal itu dapat mempererat hubungan kita, tapi sebaliknya juga. Terkadang, ketika kamu merasa makin memiliki seorang, akan ada lebih banyak batasan yang kamu ciptakan untuk hidupnya. Aku mulai menciptakan batasan-batasan itu karena aku merasa lebih nyaman ketika kamu ada di sisiku, ketika matamu menatap mataku, ketika pelukan dan sentuhanmu hanya untukku, ketika tawa dan nyanyianmu tidak berada jauh dari telingaku.

Aku sadar ucapanmu benar. Tapi, bisakah logika selalu merajai perasaaan wanita? Ketika kamu mulai banyak menghabiskan waktu bersama orang lain yang kamu katakan adalah teman-teman yang akan mengajarkan tentang dunia bisnis kopi. Teman-teman bisnis? Ya, aku tahu mereka hanya beruntung karena memiliki kesempatan untuk mengembangkan bisnis dengan harta, walaupun mereka bukan pecinta kopi seperti kamu, Tyo. Teman-teman yang mengajak masuk ke dunia mereka yang gemerlap dan berbahaya menurutku. Tidak setiap hari kamu dapat menghubungiku via telepon, apalagi menghabiskan malam bersama.

Hari terakhir sebelum kita berdebat hebat, aku sempat memintamu untuk menyisakan satu hari untukku. Kita butuh bicara, kita butuh memperbaiki yang salah, meski menurutmu tidak. Bukan aku egois semata, namun foto dengan gadis-gadis berpakaian seksi dan botol-botol minuman keras yang bertebaran di media sosial dan dikirimkan oleh teman-temanmu mulai mengusikku.

Di sanalah akhirnya semua berakhir. Tidak ada lagi yang sama. Persetan dengan waktu akan menyembuhkan. Nyatanya, setiap pagi ketika kuterbangun dan menyadari tidak ada lagi kamu dan sekadar ucapan ‘good morning’ terasa begitu menyakitkan bagiku. Entah kapan obat bernama waktu akan ampuh bagiku. Aku masih tersiksa, namun aku menyaksikanmu masih bahagia dengan dunia barumu. Setidaknya, itulah yang kulihat ketika terakhir kali aku berani mengendap-endap masuk ke dalam media sosialmu. Kita tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi, atau justru tidak bertemu sama sekali.

Emmi kembali menjelang malam dengan wajah yang sulit dideskripsikan, meski lebih banyak bahagianya. Sambil melepas anting-anting berbentuk semangka, ia mencomot kue putri salju di toples yang aku genggam dan mulai bercerita. Tanpa diminta.

“Duh, duh . . . Tragis banget, deh, Yas. Jadi ceritanya, perempuan ini mau kasih hadiah untuk calon suaminya yang bentar lagi ulang tahun. Tapi, mereka lagi chaos gitu. Katanya di ambang nggak jadi nikah gara-gara sempat berantem hebat. Lalu, calon suaminya ini katanya sakit.  Duh, kalau gue di posisi dia, bisa-bisa gue udah mati kaku kali, ya, kalau dihadapin masalah berlapis-lapis gitu.”

Rasa gundah hari ini membuatku setengah hati untuk menimpali. Pertama, Emmi tetap mencerocos tanpa memberiku kesempatan untuk berkomentar, sementara mulutnya penuh putri salju. Kedua, Emmi seharusnya tahu semua orang mati akan kaku. Aku memutuskan lanjut membaca surat kabar basi pagi tadi.

“Katanya, dia bakal ngirim foto untuk lo gambar besok via e-mail. Gue udah minta foto resolusi besar. Jadi, besok tolong cek e-mail, ya.”

Aku diam, walau mendengar. Malas menimpali.

“TYASSSSS!!!”

“Iya, iya. Bawel! Mandi, sana! Bau matahari lo!” Jawabku.

Entah mengapa tadi malam aku dapat tertidur dengan mudah dan nyenyak. Bahkan, aku bangun dengan perasaaan ringan, sementara Emmi masih tertidur di sebelahku. Aku ingin pagi ini diawali dengan secangkir kopi ditambah susu seperti yang biasa kamu buatkan dulu.

Ketika secangkir kopi susu, khas Indonesia tentu saja, sudah siap di atas meja kerjaku, aku mulai membuka e-mail untuk mengecek siapa saja calon-calon donatur untuk kehidupanku dan Emmi sehari-hari. E-mail teratas mengusik pikiranku karena rasanya aku mengenal sepotong nama di sana. Renna Prasetyo. Prasetyo? Ya, meski orang dengan nama yang sama berjumlah jutaan di negara ini.

Dear: Emmi dan Tyas

Maaf karena sudah mengganggu kalian sepagi ini, tapi sungguh sejak malam aku tidak bisa tertidur. Tyo, calon suamiku, meninggal di rumah sakit dini hari ini. Semua rencana yang sudah aku susun gagal. Aku tidak bisa meminta dia kembali. Hanya maaf yang bisa aku ucapkan atas segala kekacauan yang pernah ada dalam hubungan kami. Bagaimana selama ini ia terus mengejar mimpinya, sedangkan aku tidak pernah ada di sisinya. Bagaimana aku memaksanya untuk terus mencintaiku, sedangkan ia berkata belum bisa sepenuhnya melupakan masa lalunya. Dan ia berusaha membangun monumen kenangan itu dengan mengejar mimpinya. Ia mengatakan itu ketika ajal nyaris menjemputnya. Ya, aku menyesal mengetahui itu di saat terakhirnya, meski itu pilihannya.

Tapi, aku tetap ingin menggambarnya bersamaku. Tolong kabulkan permintaan ini. Aku sudah melampirkan fotonya yang terbaik, menurutku. Tolong tetap dengan kertas dan frame terbaik karena segala tentangnya adalah yang terbaik pula bagiku.

Warm hug, from saddest girl today

Renna Prasetyo

 

Dengan tangan gemetar, namun penuh rasa penasaran, aku mengunduh lampiran foto yang dikirim Renna. Di situ, kamu, berdiri tampan dengan afron sebuah kedai kopi ternama yang pernah aku lihat di Instagram waktu itu. Seorang Tyo yang berdiri bersisian dengan perempuan yang kutebak itu adalah Renna. Tyo dengan senyum manis, mata teduh, dan dagu membiru karena habis bercukur seperti yang kukenal dulu. Sudah memiliki kedai kopi impiannya. Renna. Bahkan, ia sudah memakai nama belakangmu, Tyo. Begitu besarkah cintanya padamu?

Emmi pagi itu bercerita lebih lengkap apa yang belum ia ungkapkan. Renna yang begitu mencintaimu, kamu yang terobsesi akan kedai kopi dan gadis di masa lalunya, kamu yang memiliki penyakit liver yang semakin parah karena kecanduan minum minuman keras.

Sepelik inilah alam mengatur teka-teki dalam hidupku, pelik namun indah. Tyo, begitulah cara Tuhan menjawab gundahku. Aku tahu kini kita tidak dapat bersama lagi. Kamu memang tidak pernah pergi dari kota ini, namun pergi ke tempat berbeda yang lebih jauh. Namun, alangkah beruntungnya kamu pernah memiliki Tyas dan Renna yang begitu mencintaimu. Aku berharap, semoga akulah gadis di masa lalu yang membantumu dalam menggapai mimpimu itu.

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory. Diselengarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com.

Tulisan ini juga dapat dilihat di desimanda.tumblr.com

  • view 233

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Tulisan ini keren sekali,,, suka akan detail dan alur yang mengalir pelan. Pembaca seperti saya penasaran ke mana perginya si Tyo, dan terjawab dengan apik di ending.

    Cara bertuturmu lembut, tapi, menghentak-hentak rasa dalam diri pembaca.

    Pokoknya, keren!

    Salam Kenal

    • Lihat 1 Respon