Psycholovey

Desi  Mandasari
Karya Desi  Mandasari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Juni 2016
Psycholovey

"Oke, break 10 menit sebelum pertanyaan berikutnya".

Orang di depanku ini kembali tenggelam dalam buku yang ia baca. Ada beberapa yang ia bawa dalam pertemuan hari ini, namun hanya yang bersampul kuning itu yang mencuri perhatiannya. Tampaknya buku terkait ilmu yang dikuasainya. Oke, 10 menit tersedia. Aku menyesap teh jasmine yang sudah hampir dingin dalam cangkir kedua. Sementara ia tidak sama sekali meneguk air mineral botol yang dipesannya. Potongan-potongan bolu pisang masuk ke dalam kerongkonganku, manis. Berbanding terbalik dengan sore ini yang mendung tanpa hujan.

Baru saja aku akan menggambar titik sketsa di kertas kosongku, ia melepas kacamata bacanya dan mulai berbicara, "Kita lanjut, ya. Sudah cukup, kan, berpikirnya. Maaf, saya ada janji jadi tidak bisa lama-lama."

Ada beberapa tempat yang memang aku minta untuk bertemu. Ruang klinisnya bukan tidak menyenangkan, namun terus berada di sana tiap minggu membuatku benar-benar merasa seperti seorang pesakitan. Terlebih sofa panjang warna putih di mana aku biasa tertidur dan ia duduk di sisiku, terus bertanya. Minggu lalu di sebuah taman dengan air mancur kecil, teduh meski dipenuhi suara cengkrama banyak pasangan. Minggu ini, kedai kopi kecil tidak jauh dari kantor praktiknya menjadi pilihan. Sebenarnya ini rekomendasinya atas dasar ragam menu dan cita rasa. 

"Jadi, apa yang membuat kamu memutuskan, maaf, maksud saya menggagalkan rencana bunuh diri?"

"Karena saya melihat iklan jasa Anda di surat kabar. Itu membuat saya berpikir ulang."

"Maksudnya, ketika kamu menelpon saya semalam itu untuk meminta tolong, kamu berpikir saya bisa?"

"Itulah mengapa ada pertemuan konyol mingguan ini. Saya tidak ingin mati, setidaknya Anda dapat memberi saya alasan."

Diskusi menggantung. Seorang profesional yang tidak melakukan apa-apa untuk sekian menitnya yang mahal. Entah apa yang ada di pikirannya selama aku mengetuk-ngetuk ujung jariku di meja. Dahinya berkerut dan bibirnya terpilin. Wajahnya yang bergaris tegas tampak semakin kaku dalam cahaya sore yang meredup.

"Dalam kasus lain yang pernah saya tangani, trauma yang kamu alami sebenarnya tidak membawa efek separah itu. Kecuali . . ."

"Saya dianggap sakit dan dijauhi karena candu pada satu hal terlarang. Tidak tahu sampai kapan. Satu-persatu teman, sahabat, dan orang yang saya pikir akan mencintai saya sesuai omongannya perlahan pergi. Tapi, saya tidak bisa menyalahkan mereka. Sebenarnya, masalah ini akan selesai ketika saya melihat pisau itu. Namun, ketika saya membaca nama Anda, saya pikir ada pemecahan lain. Entah kenapa, saya tiba-tiba tidak ingin mati."

Sekejap mata kami saling bersitatap. Ada binar di hitam bola matanya, seperti sebuah dendam ingin tahu yang belum terlampiaskan. 

"Terakhir kali ada orang yang menunda rasa ingin matinya karena menganggap saya bisa membantunya, akhirnya benar-benar mati, meski di meja rumah sakit. Ia meninggalkan saya. Membawa saya ikut mati."

Pembicaraan yang diubah arahnya. Kali ini aku menjadi pendengar dan ia duduk di kursi pesakitan. Seperti keran air yang diputar, begitu saja pembicaraan itu mengalir. 

***

"Masih ingin mati?" Tanyanya kepadaku di suatu hari ketika mentari di ufuknya terbangun.

"Aku sudah mati. Diam di dalam di aliran darahmu, denyut jantungmu, jalannya pikiranmu. Aku terjebak di sana. Membusuk dan tidak ingin pergi."

"Ternyata intuisimu benar. Untungnya saja bukan pisau itu yang berbicara. Dan aku tidak pernah takut untuk menyelamatkanmu dari matimu,"

"Jangan. Seperti ini saja sudah cukup." Aku mendebatnya dengan pelukan.

Setelah puluhan cangkir teh dan botol air mineral yang kami nikmati bersama di beragam tempat dan situasi. Setelah berbagai sudut; sofa klinik, kedai kopi, toko buku, sofa klinik lagi, kedai kopi lagi, toko buku lagi. Kami makin menyadari bahwa perbedaan sudut pandang ditambah kebersamaan dikurangi rasa ragu dan niat dramatisasi sama dengan kenyamanan yang berharga.

  • view 104